"INDONESIA BUKAN UNTUK PENISTA AGAMA"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Agama
dipublikasikan 09 Juni 2017

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM.
ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

"INDONESIA BUKAN UNTUK PENISTA AGAMA!"


*) Mendahului penulisan ini, saya sampaikan permintaan maaf kepada saudara Fahd Pahdapie, karena tulisan berupa sanggahan, bantahan dan atau tanggapan saya ini memang sengaja saya tujukan khusus kepada "isi" dari tulisan anda pada sekitar empat minggu yang lalu, tepatnya di bulan Mei 2017 dengan judul "Indonesia Bukan Ahok!". Adapun penyebab utamanya adalah saya pribadi sebagai Muslim sangat tersinggung dengan beberapa statement anda yang bersinggungan dengan agama yang saya percayai dan saya anut.


**) Jika saya harus menuliskan ini, karena saya tidak setuju dengan apa yang tidak disukai oleh orang lain tentang pendapat, pemikiran dan pendirian agama saya. Dan juga menjadi alasan kuat kenapa saya menulis ini karena saya tidak sependapat dengan sebagian besar hasil dari yang saya anggap sebagai dampak analisa yang keliru dari isi tulisan saudara "Indonesia Bukan Ahok!" sebelumnya.


Tidak bisa dipungkiri. Memang benar faktanya, yang paling merasa menjadi Ummat Islam yang terwakili oleh Ummat Islam yang lainnya di negara ini yang menuntut agar kasus penistaan dan penodaan agama harus diadili, sebelum putusan dan atau tanpa sesudah putusan pengadilan pun, Ummat Islam tetap akan menuntut Ahok diadili.


Ummat Islam adalah bagian besar dari bangsa ini dan tidak ada tolak ukur resmi bahwa karena kasus seorang penista agama saja, lantas bangsa ini seolah-olah sudah terbelah, terbagi-bagi, apalagi sampai Ummat Islam dibagi dan disama-samakan ke dalam kubu ekstrem dan keras kepala. Parameternya seperti apa? Politikkah (seperti tulisan "Indonesia Bukan Ahok!")? Atau penjajahan? Atau pemberontakan? Atau ancaman integritas bangsa? Ataukah kebhinekaan menurut versi masing-masing?


Terserah apa metodologi dan analisisnya. Yang jelas, dalam kasus kitab suci yang dinista dan dinodai ini, Ummat Islam dalam masa penuntutannya jangan diistilahkan dan atau jangan pernah samasekali disamakan dengan istilah kubu ekstrem yang keras kepala. Walaupun di dalam perjalanan waktu dan implikasi proses hukumnya ada sebagian orang-orang lain yang menjadi pendukung setia dan pembela sang penista. Siapakah mereka para pembela penista agama? Orangkah? Atau malaikatkah mereka?

Untuk diketahui bersama, dalam ajaran Agama Islam, tidak ada satu pun ajaran agama tentang berlindung di balik jubah agama (mungkin itu istilah dari kaum penganut agama Spilis). Jika ada orang beragama yang berdosa, itu haq pertanggung jawabannya dengan Tuhannya, bukan serta-merta jadi agama dan ajaran agamanya yang disalahkan.


Ummat Islam yang paling merasa ternodai agamanya, menjadi marah adalah wajar, dan melakukan demo berjilid-jilid juga adalah ekspresi hak yang wajar dan dengan sadar , meskipun penegakan hukum sudah bisa ditebak dan dijamin lamban oleh negara. Jadi, tidaklah pantas pihak lain yang tidak tersinggung akidahnya boleh bebas berasumsi bahwa masalah ini ada hubungannya dengan politik nasional, pilkada, ras-etnis, bahkan sara. Anggapan seperti ini bahkan dibenarkan dengan perkembangan opini di dunia maya (media sosial) yang semakin tendensius menyudutkan Ummat Islam dengan segala kepentingan agamanya yang merupakan hak Ummat Islam dalam beragama bahkan dimana saja di dunia ini, walaupun ada kehidupan beragama di planet Mars sekalipun.


Orang lain yang merasa tidak seakidah-sekeyakinan dengan Ummat Islam, tidak perlu tersinggung dan sudah pasti tidak akan punya rasa dan cara yang sama dalam menyikapi permasalahan internal Ummat Islam. Baik masalah tantangan Ummat Islam secara internal maupun eksternal. Rasa dan cara Ummat Islam mengatasi tantangan berbahaya bagi Ummat Islam itu di jamin dalam ajaran agamanya.


Ketidak-percayaan yang didasari oleh kebijakan dan kejadian yang terjadi pada Ummat Islam yang kerapkali dilakukan oleh orang, individu, kelompok, organisasi, isme-isme, bahkan kekuasaan pun yang memiliki ciri-ciri ancaman berbahaya kepada eksistensi Ummat Islam, sangat patut diwaspadai oleh Ummat Islam.  Sehingga tidak ada alasan yang tidak masuk akal bagi Ummat Islam untuk tidak curiga terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dan sudah terjadi di depan mata. Ummat Islam bukan salah merasa, tetapi terlalu banyak fakta di depan mata yang orang diluar pagar tidak merasa.


Kita jangan dikotak-kotakan dengan paksa oleh cara berbahasa yang keliru juga salah dari orang-orang yang salah pengertiannya dalam berbahasa dan memahami masalah.   Saya dan bahkan Ummat Islam juga tidak mau jika ada orang lain yang tidak seakidah dengan kami Ummat Islam berusaha menerjemahkan pengertian ajaran agamanya sesuai otak dan keimanannya kepada pengertian dan pemahaman ajaran agama kami. Karena itu namanya salah alamat, salah tempat, dan salah kodrat.

Contohnya, Suriah itu bukan Indonesia, dan Islam di Suriah bukan Islam Suriah. Arab itu juga bukan Indonesia, dan islam di Arab bukan Islam Arab. Islam tetaplah Islam. Agama Islam tidak perlu dilebeli oleh siapapun dan tanpa dengan apapun. Yang paling berhak melebeli Ummat Islam adalah Tuhan dari Ummat Islam yaitu Islam itu Rahmatan Lil-'alamin. Dan sama halnya dengan Indonesia yaitu Indonesia itu tidak sama dengan negara lain di dunia. Maka, Indonesia tetaplah Indonesia akan tetapi Islam di Indonesia bukan nama lebelnya Islam Indonesia. Maka yang sudah pasti Ummat Islam adalah Ummat Islam dan adalah tetap Ummat Islam jua, walaupun ada Ummat Islam di seluruh dunia.


Jadi, di negara Indonesia ini, tidak ada yang terbelah oleh karena Ummat Islam. Terlebih lagi, tidak ada Ummat Islam secara massal di Indonesia yang se-ekstrem sekarang ini.  Kalau saja ada, misalnya, kelompok atau ummat lain yang tidak seakidah pasti sudah dirongrong oleh Ummat Islam karena keberadaan dan kesamaan ras-agamannya dengan Ahok. Sudah pasti terjadi kerusuhan, bahkan pembantaian kepada ummat bergama lainnya yang seakidah-sekeyakinan, seiman, se-etnis, se-ras dengan Ahok si penista agama.


Jikalaupun persoalan penodaan dan penistaan ini dikaitkan dengan masalah politik dan pilkada, Ummat Islam sudah dijamin hak konstitusionalnya. Ummat Islam disyariahkan oleh Al-Quran dan Sunnahnya untuk menentukan pilihan dan haknya dalam sistem demokrasi tipe apapun di jagat ini.


Tetapi sampai detik ini, sampai Ahok di dalam penjara pun. Tidak pernah terjadi satu masalahpun yang mengancam kehidupan orang beragama lain di negara ini. Bahkan sampai tulisan saya ini adapun, bangsa ini tidak terbukti terpecah, runtuh atau hancur karena Agama Islam dan Ummat Islam menjadi radikal seperti yang dituduhkan oleh para pembela Ahok si penista agama dan pendukung fanatiknya yang buta.


***) Untuk hal sedemikian ini, kepada saudara Fahd Pahdapie yang tulisannya saya tanggapi, saya tidak berusaha membantah hasil analisa pikiran anda. Tetapi saya berusaha menyampaikan suatu fakta umum tentang rasa dan cara Ummat Islam menyikapi masalahnya secara murni dengan pemahaman keyakinannya, terlepas dari indikator apapun yang jadi variablenya.


****) Maka, teruntuk saudara Fahd Pahdapie dan siapa saja yang sempat menyimak tulisan ini. Saya harap saudara-saudara menyimak dengan ketulusan dan berpikir positif terkhusus untuk masalah penistaan ini. Pikirkanlah kata-kata yang lebih bijak serta wajar jika anda hendak mendikotomi apapun tentang Agama Islam dan penganutnya.

Karena contoh pemikiran yang sesat-menyesatkan dari tulisan seorang Fahd Pahdapie ini seperti di bawah ini yang saya tanggapi, yang akan menciptakan orang-orang beragama yang sama dan tidak sama menjadi sesat dan sangat menyesatkan.


Berikut ini saya paparkan penjelasan tentang begitu tersesatnya paragraf-paragraf pemikiran di penghujung tulisan dari saudara Fahd Pahdapie, di antaranya adalah sebagai berikut :


1. Jika anda seorang Muslim, sangatlah tidak elok membuat senjata yang bisa memakan tuannya sendiri.
Menjadi seorang Muslim adalah harga mati karena menjadi Muslim adalah wajib beriman, percaya serta yakin kepada ALLAH SWT. dan percaya ajaran agamanya.


2. Tidak ada istilah-istilah buatan manusia dalam ajaran agama.
Sampai kiamat pun tidak ada istilah "fatwa shooping" dalam Ajaran Islam. Itu adalah penyimpangan syariat yang dilakukan oleh individu dalam belajar dan memahami ajaran agama dengan cara yang prematur juga keliru.


3. Jangan pernah mengada-ngada membuat kasus berdasarkan kasusitik.
Membuli ulama, tidak simpati kepada saudara seakidah adalah perbuatan buruk sekaligus menyimpang yang dilakukan olen tiap individu yang buta ajaran agama, jangan pernah digeneralisir bagi Ummat Islam.


4. Tidaklah usah berusaha membuat pola taktik siasat seperti politik belah bambu bagi ummat Islam.
Bagi Orang Islam, pembela penista Agama Islam yang suka menghina dan mencela sesama saudara seakidah, dan berasyik-masyuk dengan para pembela penista Agama Islam adalah Orang Islam yang buta ajaran Agama Islam dan secara sadar atau tidak sadar sudah pasti menderita penyakit akut spilis (sekulerisme - pluralisme - liberalisme).


5. Ummat Islam akan seperti "lebih dari kesetanan", karena jika penista agama seperti seakan-akan menjadi nabi yang maha mulia dan menjadi nabi yang dipuja-puji. Paradigma ini kemudian menjadi maksiat bin jahiliyah ketika melahirkan pembela-pembela penista dan pendukung-pendukung penista agama di Negara Indonesia ini.

6. Orang Islam atau bukan Islam yang berubah menjadi katak dalam tempurung digital pasti akan bertemu dan menghadapi singa-singa digital muslim cyber yang akan terus dan tetap menyampaikan pemahaman yang lurus dan benar terhadap kebatilan dan kemunkaran.


7. Kami, Ummat Islam yang dinista agamanya, tidak sedang berimajinasiria tentang fakta dan kemungkinan nyata yang sedang terjadi di dunia nyata dimana ada pihak-pihak dari dalam maupun dari luar yang tidak senang bahkan teramat benci dengan Islam dan eksistensinya.


8. Kami, Ummat Islam pasti akan dan merasa curiga kepada siapapun bahkan kepada pemerintah sekalipun, jika terindikasi dengan sengaja tidak mengakomodir kepentingan Ummat Islam dalam beragama dan mendistorsi kehidupan beragama Ummat Islam.


9. Persoalan mahzab dalam Agama Islam adalah murni syariat ajaran Agama Islam dan setiap Muslim punya hak untuk bermahzab. Tidak etis bagi orang yang tidak bermahzab apalagi orang di luar akidah Islam mempersoalkan urusan internal ummat Islam. Apalagi sampai menggunakannya sebagai senjata pemikiran untuk menyerang pengertian seorang Muslim terhadap pemahaman ajaran agamanya.


10. Pikiran-pikiran bebas anda sudah melampaui ekspektasi standar pemikiran dari yang menjadi korban penistaan (Ummat Islam).
Tidak ada upaya Ummat Islam untuk menyeragamkan semuanya menurut anda, baik secara politik maupun dominasi agama di negara ini. Mereka hanya menginginkan yang terbaik bagi kepentingan agamanya.


11. Agama Islam dan Ummat Islam tidak lancang, bukan gamang, dan jadi pencundang pada negara.
Islam mengajarkan lebih lengkap dari yang saudara-saudara tahu tentang pluralisme, kebhinekaan bahkan toleransi buatan superman pun.


12. Imajinasi tulisan pikiran andalah yang membuat anda picik berimajinasi.
Kafir, munafik, dosa-pahala, tunjuk hidung, surga-neraka, dan lain-lain, itu adalah kasuistik. Tiap orang dengan agama dari planet Yupiter pun kalau berbuat dosa, ya sudah pasti berdosa.

13. Jika saja anda seorang Muslim, kenapa khawatir dan takut akan "Penerapan Syariat Islam Bagi Pemeluknya??? Atau mungkin anda juga ikut "berbelanja hadits" sesuai selera anda???
Kalau saja anda sebagai penganut Agama Islam ragu dengan Syariat Islam, lebih baik mundur teratur, keluar dan tinggalkan saja Agama Islam (kenapa anda harus repot, risih dan resah dengan beragama Islam???)


14. Seandainya Ummat Islam menjadi minoritas di planet Pluto pun, pasti dan tetap akan menuntut pemerintah planet Pluto untuk menetapkan Syariat Islam bagi Ummat Islam warga planet Pluto, bukan kepada pemeluk agama yang lain di planet Pluto. Sadari itu!


*****)15. Yang terakhir, sebagai penutup tulisan tanggapan saya ini kepada tulisan Saudara Fahd Pahdapie ("Indonesia Bukan Ahok!"), sekali lagi saya tegaskan dan luruskan bahwa :


Ahok telah menista agama kami, Agama Islam. Dan itu sudah titik. Ahok dituntut, didakwa dan masuk penjara itu sudah harga mati bagi kami Ummat Islam.


Jika anda ingin judul yang sama denga isinya, silahkan anda mengulik, mengulek, dan menyambal dengan bahan yang sesuai untuk membuat sambal sesuai resepnya. Jangan sampai sambal anda terasa brownies pelangi. ;)


Saya bukan penulis yang handal seperti biografi anda. Tetapi yang saya tahu persis dan yakin bahwa surga tetaplah surga, tidak ada neraka di dalam surga dan sebaliknya. Penodaan serta penistaan ini tetaplah penodaan dan penistaan. Janganlah anda membolak-balikkan kenyataan dan mencampur-adukkan kasus penistaan Ahok dengan Indonesia, NKRI, Pancasila, Bhineka, politik, kehidupan banyak orang, pluralisme, toleransi tong kosong, dan lain sebagainya.  Sehingga orang beragama yang buta Agama Islam menjadi tersesat pemikirannya di jalan berpikir yang memang sudah anda buat sesat.


Dan ini juga tak kalah pentingnya. Indonesia adalah Indonesia. Indonesia itu juga Ahok (walaupun Dia sudah populer dan nanti pernah menjadi bekas penista dan penoda agama orang lain di Indonesia). Indonesia itu juga adalah anda dan saya. Indonesia itu juga Megawati Soekarno Putri, Jokowi Widodo, Luhut Binsar Panjaitan, Tjahyo Kumolo. Indonesia itu juga adalah Gus Dur, Said Aqil Siradj, Syafii Maarif, Lukman Hakim Syaifudin. Indonesia itu juga sudah pasti adalah Tito Karnavian, Mochamad Iriawan, Hendro Priyono, dan lain-lain.

Dan Indonesia itu juga adalah warga negara non pribumi dan pribumi lainnya yang mendiami negara Indonesia, bahkan yang sudah mati dan dikubur di negara ini tetap Indonesia jua.


Tidak ada yang salah dengan Negara Indonesia, apabila Indonesia menjadi negara yang religius bukan semata-mata sekuler.   Karena jangankan Negara Indonesia, ada satu orang saja di dalam suatu kompleks perumahan yang membuang sampah sembarangan tiga kali sehari setiap harinya dan tidak ada yang menegur atau mengoreksi perbuatan salahnya. Maka yang akan menjadi korban banjir di dalam kompleks tersebut bukan pelaku saja, akan tetapi satu kompleks yang merasakan dampaknya. Jika benar logika sederhana dan faktanya seperti ini, mungkin juga ini bukan contoh asosiasi yang tepat yang dimaksud penulis Fahd Pahdapie tentang azab Tuhan kepada negara karena pemimpin yang tidak sesuai selera warga negaranya. Atau misalnya, suatu saat anak tersayang anda, buah hati anda, penerus cita-cita anda, pelanjut sejarah anda, seandainya tidak sesuai dengan harapan baik anda. Maka sebaiknya anda tidak usah repot-repot melibatkan Tuhan anda dalam kemalangan yang terjadi.


Kepada saudara Fahd Pahdapie yang saya hormati. Saya, dan tulisan saya ini, tidak berupaya untuk mendebat pikiran anda, tidak juga berusaha untuk menyelisih pendapat anda, apalagi bermaksud merasa benar dari tulisan anda. Apalah daya saya yang tidak sedaya dengan kemampuan bergudang referensi di biografi anda.


Namun, sudah menjadi tugas wajib saya sebagai Muslim, bahwasanya saya juga masih dalam proses belajar dan terus memperdalam ilmu agama saya hingga akhir hayat saya.


Maka saya pastikan, saya bukan orang yang buta agama, terlebih lagi tidak menutup mata dengan hal ihwal politik di dunia. Apalagi menjadi malu-hati karena buta gengsi toleransi agama. Karena semenjak kecil saya dididik dengan "Pendidikan Agama", beranjak remaja dengan "Ilmu Agama", dan ALHAMDULILLAH SYUKUR hingga saat ini mendewasa dengan "Pengetahuan Agama".

"Saya hanya orang beragama, dari agama yang dinodai dan kitab suci dari Tuhan agama saya yang dinistai oleh penista agama dan yang didukung para pembelanya".


Aji Latuconsina_

 

Dilihat 30