Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 9 Juli 2018   02:00 WIB
Elegi si Sri

Sri mengenal dirinya sendiri dengan baik.

Sri selalu total terhadap segala hal yang dilakukan, yang diyakini, dan terhadap apa dan siapa yang dipercaya. Jika Sri sudah memutuskan melakukan dan percaya, tak ada kata setengah setengah.

Namun  Sri menyadari, hal inilah yg membuatnya sering kecewa. Kesetiaannya sering disalahguna. Ketulusannya di sia sia.

Kesalahan Sri adalah mengharap orang lain akan sama sepertinya, oh tidak, minimal orang lain tidak menyakiti dan mengkhianatinya. Namun nyatanya tidak. Mengharap orang lain setia dan pol polan seperti Sri nyatanya itu hanya pemikiran yang naif. Mengharap orang lain tidak menyakiti dan mengkhianati nyatanya itu pemikiran orang lugu.

Hati si Sri masih pamrih.

Berangsur Sri akan mulai menghindar dan membangun tembok jika Sri merasa terluka.

Dalam kenyataan hidup tidak semua hal dapat kita pahami, tidak semua hal layak diperjuangkan dan disetiai.

Bingung juga si Sri harus bagaimana. Jika setengah setengah saja, lalu apa yang menarik? Lalu apa tugasku sesungguhnya di bumi ini? Bukankah hidup harus memperjuangkan kemurnian? Sri bergumam sendiri.

Tentu pemikiran ini sungguh polos.
Sri menyadari bahwa tidak semua orang sama sepertinya.
Tidak semua orang menyambut baik rasa tulusnya. Tidak semua orang dapat setia seperti orang gila. Dan Sri harus memahami ini agar tidak melulu terluka.

Yang bisa Sri lakukan adalah menaruh harap pada dirinya sendiri dan menaruh kemerdekaan pada apa yang di luar dirinya.

Sri berlaku keras terhadap dirinya sendiri, agar Sri dapat berlaku lembut pada apa dan siapa saja yang di luar dirinya.

Tapi akhir dari ini tetap sama saja. Pada akhirnya Sri tetap akan sering terluka.

Sri hanya merasa asing tinggal di bumi.
Seperti tidak ada tempat di bumi ini untuk orang sepertinya.

Tentu Sri tidak melulu benar. Sri juga melakukan kesalahan. Jika Sri salah, dia akan menyesali, lalu meminta maaf, dan bertaubat tak mengulangi. Pada apa saja pada siapa saja. Tak ada setengah setengah.

Kadang Sri ingin seperti yang lainnya, berlaku tega, dan pergi begitu saja.
Tapi apa daya, hati Sri takkan sanggup melihat yang lemah.

Yang bisa Sri lakukan hanya mendidik dirinya sendiri dengan keras, dan menaruh kemerdekaan terhadap apa yang diluar dirinya. 

Dia akan terus berjuang menghilangkan keinginan di balas dan berjuang menghapus rasa pamrih yang masih bersemayam pada kalbunya.



Meski akhir dari ini tetap sama saja. Pada akhirnya Sri tetap akan sering terluka. Tapi paling tidak dia harus mencoba. Menghilangkan rasa pamrih dalam dadanya.


Sri yang malang.




LAILY PUSPITA





Ilustration by Pinterest

Karya : Laily Puspita