Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 6 November 2016   06:18 WIB
Kisah Renta dibuang Zaman

Aku melakukan perjalanan di kesunyian.

Mata ini tak kuasa menahan tangis. Hati inipun teriris iris.

Aku melihat kakek pedagang jamu. Menerobos waktu dengan tubuh yang sudah layu. Hampir jatuh kena batu. Tersenggal senggal mengayuh.

Aku menangis terisak. Dimana anak anakmu?

Kuteruskan perjalanan. Ada seorang renta menjaga palang pintu kereta. Badannya kurus sekali, membuat orang tak tega hati. Gigipun sudah tak ada. Berjalanpun tak sempurna. Kulitpun sudah ah begitulah. Memegang bendera merah lusuh, sebagai tanda agar berhenti orang ada kereta.

Aku menangis lagi. Dimana anak anakmu?

Aku lanjutkan perjalanan. Lagi lagi aku bertemu kakek tua. Seorang penjaga parkir. Duduk diatas batu sendiri menunggu kendaraan hadir. Menatap nanar ke jalan raya. Rambut dan kumisnya memutih, membuat tak tega hati.

Aku terisak lagi. Dimana anak anakmu?

Para renta dibuang zaman. Dimana anak anak kalian? Dimana cucu cucu kalian? Dimana saudara saudara kalian? Beristirahatlah dirumah. Nyanyikan senandung saat remaja.

Jika memang kalian sendiri, semoga Tuhan melindungi dan mencintai. 

Jika kalian punya keluarga, semoga keluarga kalian tidak pura pura buta matanya, tidak pura pura  tuli telinganya, tidak membatu hatinya.

Para renta, ah aku tak bisa berkata kata. Aku menulis ini, air mataku jatuh tak usai usai.

 

LAILY PUSPITA

 

Pict by Rumi

Karya : Laily Puspita