Pesona Vs Reality

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Pesona Vs Reality

"Ku akui tubuhku melunglai, sempatku memuji dalam hatiku..jangan pikir ku akan mencinta, ku hanya kagumi, hanya memuji". Kepala ini tidak bosan memutar lagu itu, walau pendengarnya hanya saya seorang, kehebatan otak adalah dia bisa memutar lagu sekaligus dengan visualisasi putaran-putaran film kejadian lampau maupun imajinasi baru, kita tinggal men-settingnya, mana yang akan ditampilkan, mana yang tidak.

Saya memilih memutar film sosok pria yang baru saja mengobrol panjang lebar denganku, entahlah sepertinya lagu itu mencontek apa yang kurasa, dia tahu benar kalau saya baru saja terpesona oleh pria yang kuanggap tampan. Ingat, ketampanan adalah subyektif.

Sepertinya ada korelasi positif antara degup jantung dengan pria menarik, seakan jika ada salah satu pria yang menarik perhatianku, saat itu pula saya seperti tidak bisa memiliki kendali atas ritme jantung yang spontan kejar-kejaran ditambah polah napas tersengal jadi setiap beberapa detik akan terdengar napas yang terbuang. Yup, saya biasa mengelabui fenomena alam itu dengan menyunggingkan senyum ala menahan sakit perut yang dikolaborasikan dengan tatapan menjurus kearah si penarik perhatian.

Saya selalu terpesona dengan pria yang dengan lantang menyuarakan isi kepalanya, walaupun mungkin beberapa menit kemudian, beberapa orang akan menghujat karena tidak setuju. Dia mengobservasi, kemudian menganalisis dalam otaknya hingga dia menyimpulkan apa yang sebaiknya dilakukan. Memang berulang kali dia menyumpahi keadaan, seakan kalau dia yang mengerjakan akan lebih baik padahal belum tentu. Kau bisa membayangkan bukan bahwa dia sosok pria sok tau tapi cukup memikat karena pria semacam itu seakan membawamu ke sebuah dimensi dimana kebebasan berekspresi benar-benar dipahami bukan hanya tergeletak diatas selembar kertas. Terlebih pria yang menceritakan apa yang dia kerjakan saat ini dan rencananya beberapa atau puluhan tahun kedepan. Terkesan pekerja keras bukan? Pria bervisi selalu bisa membuatku melihat masa depan. Bukankah itu yang dibutuhkan "wanita"?

Ok enough untuk terpesona, sudah beberapa jam saya mengobrolnya dengannya, saatnya back to reality, menstabilkan sirkulasi darah ke kondisi seharusnya.

Prinsipnya: terpesona, memuji kemudia move on. Yup thats the art., pria yang mempesonamu belum tentu membuatmu bahagia, dan pria yang mempesonamu pada sisi itu, belum tentu mempesonamu pada sisi lain. Jadi saya memilih untuk mengagumi dia dari sudut pandang tersebut dan tetap mengingatnya hanya dari satu angle itu saja.

 Nice day all

 

  • view 153