How I Won the War

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
How I Won the War

Sore itu pikiranku tidak menginterupsi sehingga aq bisa mendengar dengan jernih suara mesin mobil manual, suara ban yang bergesekan dengan aspal yang licin karena hujan, suara deru motor yang lebih dari satu, dan suara hujan yang terjun bebas diatas atap mobil. Tapi itu tidak berlangsung lama, sebuah kenangan setahun lalu mengaburkan indera pendengaranku.

Tepat setahun lalu, dia mengabarkan kedatangannya ke ibukota. Aq yang saat itu tergila-gila padanya menyambutnya dengan rasa sumringah. Selepas pulang kantor aq pun bergegas menemuinya. Kerinduan yang membuncah membuat kami bagai pasangan muda yang riang. Dia menggenggamku dengan erat, dan sesekali membelai halus rambutku yang sebahu. Hari ini dia cukup terbuka, membicarakan pekerjaannya dan yang dia alami di hari itu. Yah kami diskusi tentang hari ini, hari yang baru saja kami jalani, dan hari-hari lalu yang pernah kami alami sebelumnya.

Waktu tidak mau berkompromi, malam seakan sedang berlari menuju pagi. Restaurantpun butuh istirahat, dan kamipun harus bergegas keluar karenanya. Aq dapat merasakan rasa takutnya, rasa takut akan esok ketika aq tidak disampingnya. Saat di kendaraan, dia menggenggamku lebih erat.

Mobil terparkir di lobi hotelnya, dengan berat hati dia melepasku walau aq dapat merasakan tarikan tangannya melalui picing matanya. Pikiran dan hatiku bergelut, mengikutinya atau pergi meninggalkannya? Kami berdua sama-sama tahu rasa ini sedang menggelora, dan masing-masing dari kami sedang menganalisa konsekuensi dari pilihan beberapa detik ini. Aq pun mencium tangannya, menutup pintu mobil, dan meninggalkannya.

Secercah penyesalan yang kemudian aq syukuri, bersyukur atas pilihan saat itu dan bangga pada diriku yang tidak takluk dalam nafsu.

Aq rentan dengan kesalahan, tapi kali ini aq merasa menang dalam pertarungan diri. Pertarungan yang kasat mata namun nyata. 

  • view 121