C'EST LA VIE

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
C'EST LA VIE

Berbeda dari biasanya, hari itu saya sangat jeli mendengar dentang jam yang berdetak. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 dan saya masih merenung dibalik jendela lantai 5, memandang lampu-lampu kendaraan yang seakan berkedip tanpa henti. Sebagian besar wanita di usiaku, pasti sudah berjibaku sejak pukul 17.00 demi bisa secepatnya kembali ke rumah, bergulat hingga menyuapi anak-anak mungil mereka sembari memasakkan makan malam untuk suaminya.

Saya? sendiri memandang namun tidak benar-benar melihat. Sama dengan jutaan orang lainnya di dunia ini, saya sibuk dengan handphone, walau tiap orang tentunya menggunakan untuk tujuan berbeda. Pikiranku tersita pada keinginan yang membuncah dada, namun terhalang rasa pelu di perut. Selalu itu yang kurasakan ketika saya ingin melakukan sesuatu namun di sisi lain hal itu hal yang salah sehingga harus dipertimbangkan kembali. Andaikan menggunakan analogi sasana tinju, maka ada dua petarung yang sedang bergelut.

 Saya sangat merindukan "my august" tapi saya taw saya sedang berproses untuk berqurban, melepaskannya adalah kuncinya. Namun sebelum ikhlas bukan hanya di bibir saja, fase yang harus terlewati adalah rasa sakit untuk menahan diri agar tidak membuka jalur komunikasi apapun. Pada akhirnya saya memandang handphone, namun tidak benar-benar melihatnya.

Bulir demi bulir jatuh kembali, dengan sedikit sesak saya mengutuk diri yang menangis "lagi" karena pria. Tapi saya membiarkan raga ini menjadi "wanita" dan kemudian berjanji agar esok sudah tidak ada bulir yang tersisa.

Lepas beberapa minggu, saya sudah menelan berbagai doktrin penguat jiwa, kalimat-kalimat motivasi, doa-doa mujarab, hingga ice cream ragam rasa. Terkadang saya terlalu meng-under estimate diri sendiri, yang kita pikir akan sangat sulit melepaskan sesuatu, faktanya sangat menakjubkan bagaimana akhirnya manusia bisa mengkondisikan untuk menerima sesuatu dan kemudian berjalan kembali mengikuti gravitasi.

Salah satu pil doktrin yang sangat manjur adalah kalimat ini:

Selalu ada alasan Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang, dan selalu ada alasan pula pada akhirnya dia hanya menjadi bagian hidup di masa lalu, mungkin itu menjadi alasan kenapa seseorang disebut mantan.

Sayang bukan harus memiliki dan menyakiti orang lain kan? Mungkin ini cara Tuhan mengajarkanku rasa sayang yang "halal", karena tidak semua hal harus sesuai apa yang kita inginkan? C'est La Vie

 

  • view 139