Fragile

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Fragile

"Untuk apa kamu datang ke nikahan Dia?" Pertanyaan simple itu cukup membuatku tersontak. Saya membiarkannya tanpa jawaban, toh saya belum membeli tiket itu artinya ada kemungkinan saya tidak datang.

 Pada akhirnya sore itu saya tergopoh-gopoh menuju stasiun kereta api, dengan bekal seadanya saya mencoba menukar tiket yang terlanjur terbeli dengan tanggal yang salah. Acaranya besok jadi saya harus menukar tiket keberangkatan hari ini juga, tidak mudah karena jika kau membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan resikonya hanya satu yaitu kehabisan. Sayapun pasrah mendapatkan jadwal kereta paling malam dan bersiap untuk tiba di kota tujuan dini hari.

 Bahkan di hari bahagiamu kamu masih menyiksa, batinku.

 Kereta itupun melaju, ditengah kemalangan ternyata dewi fortuna masih mau unjuk gigi. Dini hari, seorang sahabat dan ayahnya rela menjemputku. Walau mereka harus berjibaku dengan dingin dan nyamuk toh mereka adalah orang yang membuatku tersenyum pertama kali di tanggal itu.

 Beberapa sahabatku mengabarkan bahwa mereka sudah tiba di venue dan dia menanti kedatanganku. Saya engga berharap jadi pusat perhatian di malam itu, tapi beberapa perlakuan sahabat-sahabat membuat saya merasa ini tetap menjadi malamku. Beberapa dari mereka rela menempuh perjalanan via udara hanya demi mendampingiku, sahabat lainnya cukup sibuk mendandani dan menyiapkan berbagai properti yang dibutuhkan. Dalam tindakan seakan mereka ingin menegaskan bahwa saya tidak sendiri dan saya akan baik-baik saja.

 Ponselku tidak berhenti berkedip, tertera nama mama, seorang mama yang mengkhawatirkan anaknya pingsan atau muntah di acara pernikahan mantannya. Saya hanya tersenyum miris, seakan mempertanyakan kehebohan orang-orang. Saat ini saya melakoni uji nyali, saya hanya ingin tahu perasaan terdalam, dan menguji dengan obyek penelitian diri sendiri. Apa yang akan saya rasakan saat saya melihat dia bersanding dengan orang lain? Apakah akan terasa biasa saja atau bahkan terasa sakit hingga membuatku ingin garuk-garuk tembok?

Heelsku beradu dengan lantai bertabur bunga, foto ceria mereka menyapaku seakan ingin mengganggu moodku. Tapi belum berhasil karena saya masih bisa menyapa teman-teman dengan ceria. Saya hanya berjalan seakan hanya mencoba menjalani takdir yang digoreskan.

Pada akhirnya saya sepanggung dengan mereka, yang pertama saya sapa adalah ayahnya yang saya panggil papa. Cukup lama terpaku karena terkejut dengan kehadiranku sampai akhirnya kami sama-sama tersadar saat saya mencium tangannya. Pelukan hangat ibunya yang biasa kupanggil mama cukup menyairkan suasana. Dalam rangkulannya, sang mama mengantarkanku kepada anaknya yang saya sambut dengan salam hangat bak sahabat lama, tidak lupa saya menjabat tangan istri baru sahabat lamaku itu.

Turun panggung, drama belum berakhir, sang kakak yang masih menyangsikan kehadiranku berulang kali memeluk dan berterima kasih sembari mendoakanku.

 Masih mencoba ceria, saya sapa beberapa teman lama yang sudah lama tidak bersua. Kehadiran mereka ternyata cukup mengalihkan. Cerita-cerita lalu bisa membantuku menyunggingkan senyuman sebenarnya. Selang beberapa jam, malam itupun terlalui. Faktanya saya masih dalam kondisi sehat walafiat, belum terguncang, belum di vonis stress, ataupun ditemukan dalam keadaan mulut menganga.

Saya sempat berfikir saya akan bersikap palsu, seolah kuat namun fragile inside. Faktanya saya boleh berbangga diri, karena rasa yang tersisa hanyalah rasa datar, mati rasa lebih tepatnya. Saya tidak menangis diam-diam di kamar mandi dan saya bisa tertawa dalam arti tertawa sebenarnya, mungkin ini hasil dari perjalanan panjang dan tahunan untuk mengikhlaskannya. And Trust me, its not easy.

Melepaskan perlahan kisah-kisah yang terukir dalam hitungan tahun memang tidak mudah, tapi di hari itu saya berjanji lebih siap menerima orang baru dalam hidupku, lebih tepatnya pria baru pendampingku kelak.

 

  • view 112