Persimpangan

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Persimpangan

Yah saya memutuskan berhenti sejenak, senyap, namun ketika kutempelkan telingaku di lantai, deru napasku yang tersengal masih terdengar jelas dengan sedikit dengungan di kuping.

Kubayangkan berada di persimpangan jalan, semuanya berlalu dengan cepat, ngebut, berteriak dan aku berdiri tanpa menghalau mereka. Mereka sangat fokus mencapai tujuan, ambisius, bahkan beberapa sudah meninggalkanku sangat jauh namun beberapa terpeleset dan berusaha bangkit dibantu pejalan yang kebetulan lewat. Kurasa mereka tidak merasakan kehadiranku.

Saya harus berhenti pikirku untuk memutuskan apakah akan ke kanan, ke kiri atau mengambil jalan tikus atau tetap lurus di jalan utama yang besar tentunya dengan fasilitas lebih baik dibanding jalan lainnya. Jalan besar selalu menawarkan kemewahan, konstruksinya terkesan niat dan kapasitasnya sudah tidak dipertanyakan. Beberapa tukang sapu jalannya sudah kukenal dan jika melalui jalan itu beberapa orang meyakini saya akan aman dan sampai tujuan dengan reputasi terjaga, bahkan bisik-bisik tetangga sudah berganti dengan pujian nyinyir.

Jikalau ke kanan, jalan itu kecil namun sangat bersih, tidak sedikit menjadi pilihan orang lain, beberapa pengendara sudah saling kenal dan tidak sungkan bertegur sapa bahkan saling mengingatkan tentang kemacetan. Jalan itu memang sekunder namun banyak persimpangan lagi yang bisa saya pilih sesuai keinginan dan kesempatan, itupun kalau tidak didahului orang lain.

 Saya mulai melirik ke kiri, agak berliku namun kata mereka akan sangat cepat sampai tujuan, kurasa jika melaluinya saya harus membuat tabel prioritas resiko, dari resiko financial, hazard, operational hingga strategik. Namun jika sudah tau celahnya, meliuk-liuk menghindari jalan rusak maka aku dianggap pengendara yang professional dan diakui. Bahkan beberapa buku, menganjurkan untuk melalui jalan itu, take a risk kata mereka.

 Saya masih diam, namun lambat laun terdengar samar yang mengusik, ternyata kehadiranku mulai terendus dan saya mulai terganggu dengan keadaan itu. Logika dan emosi saling tarik ulur. Maka saya mulai melangkah. Bismillah ucapku.

  • view 107