Letter From Coruna

Lele Talk
Karya Lele Talk Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Letter From Coruna

Beberapa pasang mata menatapku lekat-lekat, entah terpana karena saya satu-satunya wanita berjilbab di acara itu atau karena saya satu-satunya wanita berkulit coklat, bertubuh mungil, pendek pula, berbeda dengan mereka yang bertubuh besar dan berkulit putih serta mancung. Saya baru saja menyelesaikan presentasiku, dengan bahasa inggris ala kadarnya dan terkadang diselingi bahasa tubuh. Riuh tepuk tangan menandakan berakhirnya performance tunggalku. Saya sudah berusaha menunaikan kewajiban sebagai pembicara di konferensi internasional, bagus atau tidak? Its not a big deal

 Hari-hariku di Coruna sangat menyenangkan, mengikuti diskusi, mendengarkan pembicara dari berbagai negara dengan materi yang menarik, makan siang dengan teman baru dan berkeliling kota asing. Coruna sangat tenang, orang-orangnya sangat ramah bahkan untuk pendatang sepertiku. Beberapa kali aku berjalan sendirian dan sempat tersasar, beberapa kali pulalah saya ditolong kembali ke hotel. Delegasi dari Indonesia memang saya seorang namun jauh dari sepi karena memiliki teman lintas negara sangat menyenangkan.

 Dihari terakhir, mereka mengadakan gala dinner. Hal yang menarik adalah setiap mereka menghidangkan babi, pasti mereka tidak pernah memberikan padaku, mereka menggantinya dengan sayur. Begitupula ketika mereka menghidangkan minuman anggur, mereka menggantinya dengan air mineral, Tapi itu tidak menyurutkan kesenangan, toh kita tetap bisa tertawa lepas walau hidanganku berbeda dengan lainnya. Di penghujung malam, mereka mengajakku menari dan memberika pelukan terhangat sebagai sahabat jauh yang akan berpisah. Yah itulah malam terakhir saya menemui mereka, karena besok saya akan bertualang sendiri ke Santiago de Compostela dan Madrid untuk kemudian kembali ke Jakarta, Indonesia.

 Saya membeli tiket kereta cepat pulang pergi Coruna-Compostela, salah satu kota bersejarah di Spanyol. Salah satu bangunan yang terkenal adalah katedral Santiago de Compostela yang dibangun sejak 1060. Keretanya sangat nyaman, sepanjang perjalanan aku dimanjakan pemandangan gunung dan perdesaan. Hamparan ladang dan orang-orang yang beraktivitas, yah itu memang desa, tapi desa disana tidak identik dengan kemiskinan, rumah-rumahnya memiliki ukuran yang besar dikelilingi halaman yang asri dan luas.

Berbekal peta dan bahan hasil penelusuran internet seadanya, aku mulai berkeliling kota dengan berjalan kaki. Rumah-rumah khas Galicia Spanyol, dengan deretan toko-toko makanan dan cinderamata. Lelah berjalan, sayapun berhenti disalah satu toko roti yangmenghidangkan roti yang sangat empuk. Penjualnya sangat ramah, saya segera merogoh tas dan memberinya kenang-kenangan sebuah gantungan kunci wayang khas Malioboro dengan harapan suatu hari dia akan tertarik berkunjung ke Indonesia.

 Sehari waktu yang cukup untuk berkeliling sebuah kota mungil itu, pelajaran sejarah dan kuliner sudah cukup menjadi bekal memoriku di masa mendatang. Kameraku juga sudah penuh dengan obyek-obyek yang menarik, sayapun kembali ke hotel dengan bibir tersungging.

 Next, Madrid (tempat lahir Miguel de Cervantes, penulis Spanyol yang terkenal)

 Dengan alokasi waktu yang hanya sebentar di Spanyol, sayapun nekat menggunakan waktu transit untuk berkeliling di Madrid. Usai menempuh perjalanan dari Coruna ke Madrid, saya memiliki cukup waktu beberapa jam sebelum penerbangan Madrid-Doha dan Doha-Jakarta. Saya menempuh rute kereta bawah tanah dari bandara menuju ke Plaza Mayor, sepanjang perjalanan saya terus memasang telinga dan mata untuk mematikan bahwa saya tidak terlewat dan dapat tiba ditempat tujuan sesuai rencana. Plaza mayor adalah plaza yang penuh dengan bar, restaurant dan street performer. Tempat ini yang biasa direkomendasikan untuk turis yang minim waktu. Saya juga menyempatkan diri ke Gran Via dan Puerta de Sol, surga belanja di Spanyol, deretan toko, department store menjadi alternatif tempat membeli souvenir, sekaligus wisata kuliner. Puas dimanjakan kota yang terkenal dengan klub sepakbola

 Real Madrid dan kota Matador, maka saat petang sayapun bergegas kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan pulang.

 Duduk manis di besi bersayap, perjalanan belasan jampun ditempuh dengan tidur, mengobrol dengan orang sebelah dan menonton film. Di pesawat, sesaat mataku berkaca-kaca dan sedikit menerawang, bukan kebanggaan karena telah menginjak benua Eropa. Tapi sekelibat beberapa cuplikan masa lalu kembali berputar mengajakku ke beberapa bulan sebelumnya, saat sembilan selang melingkari tubuhku, peluh doa untuk tetap menjaga eksistensiku di dunia. Saat saya tergopoh belajar untuk menapak dan berjalan kembali dengan harapan masa depan yang panjang. Saat kesabaran tergerus rentetan penolakan dan saat tetap harus produktif dalam riak sungai coklat. Benar kata orang bijak, semua ada waktu dan tempatnya.

 Kisahku bukan soal kesombongan dalam pencapaian (sesungguhnya sangat tidak pantas manusia berbalut kesombongan), tapi ini soal peneriman. Penerimaan dalam segala kondisi, menikmati putih dalam hitam, menikmati warna dalam gelap.

 Kisahku hanya fase, lazim dialami setiap manusia dan dalam setiap fase selalu ada benang merahnya..yaitu keinginan untuk bertahan dengan mengatasnamakan kepasrahan pada yang Maha Segalanya. Dan setiap fase, seharusnya mengantarkan pada anak tangga yang lebih tinggi, yang tidak akan mungkin tercapai tanpa uluran tangan mereka pendahulu, tanpa tepukan bahu dari rekan sebaya dan tanpa dorongan dari tangan-tangan tulus yang bahkan tanpa nama.

 

  • view 108