Memahami Esensi Islam

Nani Haryati (Leader Paytren)
Karya Nani Haryati (Leader Paytren) Kategori Agama
dipublikasikan 20 September 2016
Memahami Esensi Islam

Hingga saat ini, Dunia Islam masih mengalami keterbelakangan peradaban. bila kita lihat perjalanan sejarah, bahwa faktor fundamental runtuhnya peradaban sains dan teknologi islam dipengaruhi oleh konflik internal yang meliputi kepemimpinan yang tidak amanah, pertentangan antara Muslim Arab dan non Arab, Muslim dan kaum Dzimmi, ketimpangan sosial yang merajalela, dikotomi keilmuan dikalangan ilmuan Muslim dan faktor utama ialah umat Islam membuang Experimental Sciences mementingkan hukum islam dan menyingkirkan sains dan teknologi. Mengapa demikian? Apakan benar, Islam bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan dan filsafat? 

Ayat Al-Qur'an QS: 39:9 yang berbunyi: "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". Dapat kita amati betapa allah begitu menghargai ilmu pengetahuan, orang-orang berpengetahuan dan mengistimewakan mereka dari yang lain.

Allah juga menjadikan kesaksian para ulama sama dengan kesaksiannya dan para malaikat sebagaimana di firmankan oleh Allah dalam Al-Quran QS: 3:18: "Allah menyatakan bahwasa nya tidak ada tuhan melainkan dia yang meneggakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu). Tidak ada tuhan melainkan dia, yang maha perkasa dan maha bijaksana.

Islam menjadikan akal sebagai dasar untuk memutuskan segala sesuatu. Dalam al-qur'an kita sering sekali menemukan ayat-ayat yang menggunakan kata-kata seperti: "ulul albab" atau "ulun nuha" (artinya orang-orang yang berakal). Dalam ayat lain kita juga menemukan kata-kata yang mengarah pada "orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang baik". Islam mendorong menuntut segala jenis ilmu dan menyatakan perlunya memberantas kebodohan dalam hal agama dan segala aspek kehidupan.

Kembali kesejarah bahwa Islam pernah mengalami peradaban yang amat pesat dan kejayaan yang luar biasa selama 350 tahun (650-1000 M). namun abad kemunduran selama 250 tahun (1250-1500 M).

Kondisi kemandekan ini telah terjadi disebabkan karna adanya 3 jenis orang agamawan:

  1. Sekelompok orang yang beranggapan bahwa agama hanyalah suatu wilayah atau bidang untuk hati saja. Oleh karna itu, mereka mengabaikan rangkaian perjalanan hidup yang lain dang menganut sufisme yang sebenarnya bukan merupakan islam yang utuh melainkan hanya bagian dari islam yang menjadi milik hati dan jiwa, terdapat aspek-aspek kehidupan yang lain.
  2. Sekelompok agamawan yang sangat konservatif dan berwawasan sempit. Mereka dengan membabi buta mengungkapkan teks keagamaan tanpa mempelajari secara utuh dan mendalam. Mereka tidak tahu bagaimana memahami agama pada masa sekarang. Mereka berperan seolah sebagai hakim yang keras memberikan keputusan-keputusan secara gegabah, mereka sering melontarkan pernyataan bahwa seseorang benar-benar beriman, sementara yang lain sebagai orang yang baik, dan orang lain sebagai orang yang kafir, murtad, munafik dan lain-lain. Hal seperti ini sangat membahayakan dan menyebabkan orang muda antipasti terhadap agama dan merasa muak dengannya. Kelompok agamawan ini, walaupun tulus, harus memiliki kearifan dan wawasan luas tentang bagaimana menyebarkannya. Seorang yang beragama harusnya seorang dokter spiritual dan bukan seorang "hakim".
  3. Kelompok ketiga meliputi orang-orang yang kurang mampu membawa kemajuan bagi Islam. Mereka secara destruktif telah mengkritik dan meruntuhkan apa yang telah dibangun oleh para reformis, baik secara sengaja maupun tidak, ataupun dengan maksud baik

  • view 240