My breathe diary

Nani Haryati (Leader Paytren)
Karya Nani Haryati (Leader Paytren) Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2016
My breathe diary

Seseorang berkata "kamu aneh deh, buang-buang waktu aja tiap hari. Bahas apaan sih ?" 

Berada dalam keadaan yang orang lain jarang lakukan, apakah bisa dikatakan aneh ? Apakah salah ? Apakah melenceng ? Kata siapa ? 

Berada dalam kebiasaan yang hadir dalam bentuk berbeda dari kebiasaan orang pada umum nya, apakah tidak wajar ? 

Lagi-lagi, jangan mau hidup dalam frame yang orang lain buat. Ini hidup mu, rasakan dan nikmati, nikmat tuhan mu yang barang kali orang lain tak mampu dapatkan itu. 

Apa hanya karna aliran mu tak sesuai dengan alur pikir orang, akan kah kau berhenti mengalir ?? Jangan pernah. Dalam hal apapun. Lakukan sesuatu yang menurutmu baik tanpa mengesampingkan norma agama, atau norma sosial. 

Terlalu panjang untuk dikaji dari awal bagaimana kemestri ini terbangun dengan sangat alamiah. Tak pernah berusaha mengkonsep nya sedemikian rupa, atau bahkan memesan, memilihnya sebagai tokoh yang sedari dulu jadi fatner untuk membangun ruang sampah. 

No, I never do it. ! 

Kalian tau diary ?? 

Dulu ketika aku kecil, ak gemar menulis diary. Tiap kali aku selesai menulis, ak mengunci dengan gembok dan menyimpannya dengan rapi. Aku tak pernah percaya pada makhluk yang sering kukenal dengan sebutan "Manusia". Ak bisa katakan apapun pada makhluk yang bernama manusia tapi ak tak pernah ceritakan isi hatiku. 

Sisi metafisik ku, kupercayakan semata pada lembaran-lembaran kertas bisu dengan cover biru. 

Yeah, all of my diary is a blue colour. 

Adakah yang lebih amanah selain kertas?  Waktu itu, bagiku tidak ada. Namun anehnya, lembaran kertas tersebut kerap sekali mengkhianati ku. Ia tak pernah berbicara, namun ia selalu saja pasrah tiap kali disentuh oleh manusia. 

Aku berhenti menulis rutin. Aku berhenti memiliki diary. Aku benci kebungkamannya, aku benci ketidakberdayaannya.

Beberapa tahun kemudia, hal tersebut menjadi awal kebebasanku mulai mempercayai sosok yang sering kukenal dengan sebutan "Manusia" . Awal dimana aku mulai berani merasakan alamiahnya alam menjadikan beberapa insan pilihannya untuk saling berbagi rasa, asa, dan kasih sayang terlepas dari ikatan darah. 

Awal dimana aku mulai mampu menjalin sebuah pertemanan tanpa bantuan uwo. Ketika SD, setiap periode baru dengan suka rela uwo memilihkan ku seorang teman versinya dan memesani mereka "temanin dia ya, kalau istirahat bawa main-main bareng" 

My breathe diary?? 

Dibagian sisi manakan kutemukan ? Disisi yang tak kusadari udah jadi gini aja. 

Amanah kah ? I think 

Nyaman kah ? Sangat. 

Perespon yang baik ? Luar biasa. 

Pendamai yang tulus ? Tentu. 

Penyemangat yang ikhlas ? Jelas. 

Setahun yang lalu, Sejak aku merantau kejogja, Aku berhenti pada pengaharapan untuk mendapatkan seorang sahabat. Seperti yang sering ditayangkan oleh film tentang solidaritas persahabatan. Why?? Bukan karna tak mampu menemukannya. 

Tadinya, jarak jauh kupikir akan menghabisi segala kepedulian, merobohkan ruang sampah yang sudah terbangun cukup lama. Ternyata, sama sekali tidak. 

Dua hari ? Empat hari ? Seminggu, dua minggu ? Sebulan ? Ak tak punya keangkuhan untuk berhenti ngoceh di ruang sampah itu. 

Marah ? Tentu pernah. Tapi lautan maaf, sering kali menenggelamkan kemarahan. 

It's amazing. ! 

Bagian mana yang tak kutahu ? Mungkin ada, potongan yang kau rahasiakan. Sedang aku ? Aku kerap lupa dimana letak rem penghenti ketikan jari, atau rem penghenti tutur kata. Ketik Sisi ketegaranku mampu kutunjukkan dihadapan semua orang, namun tiap kali mengunjungi ruang sampah itu, aku tenggelam dalam keluh kesah dan rasa takut. Semua terurai begitu saja. 

Waktu ? Waktu yang mana yang akan merobohkan ? 

Ruang sampah itu, melahirkan ketidak berdayaan untuk berhenti memasukinya. Atau sekedar mengabaikannya untuk sebulan lamanya. ? Oh, I am not sure, i can to do it.

Ruang sampah itu, menampung berbagai macam rasa. Kesedihan, kedamaian, harapan, impian, dukungan, dorongan, semangat, cinta, aib, gosip. 

Kelak, Usia yang menua, akan sulit untuk menemukannya. Mungkin akan tertimbun oleh potongan jarak, waktu, langkah, atau ingatan. Kelak, kita akan jenuh pada ruang tersebut. Dan berhenti. 

Engkau, kunamai sahabat. Sahabat teratas dari semua pasukan inti yang kupunya. Yang semakin hari semakin kumengerti, sebutir abupun tak mampu kusembunyikan dari ruang tersebut. 

I sweer, i never gone. Stay here whenever you need. I will be there. Suatu hari, tak mengapa. Lupalah sesuka mu, hilanglah semaumu. Tapi, sisi tersulit mu, ingat lah ruang sampah itu. Iya bukan sekedar tempat pembuangan tapo juga tempat penuh aksi dan doa. 

 

  • view 140