Utuh

Nani Haryati (Leader Paytren)
Karya Nani Haryati (Leader Paytren) Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Januari 2016
Utuh

Utuh

Di pelataran sudut halaman ku dapati kotak berwarna coklat. berukuran cukup besar, Tepatnya kotak Televisi ukuran 21 inci. meski sangat kumuh masih tertata rapi menyudut, usang di tempeli beberapa kumpulan sarang laba-laba juga di butiri pasukan-pasukan debu. Kotak itu tertutup rapi dengan lakban. "Seperti pusaka nenek moyang saja" pikirku dalam benak. Jangankan antik, unik pun tidak! entah mengapa kotak lusuh itu tetap hanya di pelataran halaman saja, tak pernah berpindah posisi juga tidak pula dibawa masuk kerumah atau sekalipun dibuang, selalu ia awasi dan bersihi. Entah apa sebabnya aku pun tak pernah mengerti sama sekali. Sudah cukup buruk kotak itu, sejak awal sekolah menengah akhir. ku sudah mendapatinya tepat ditempat itu, hingga kini sampai akan memulai awal terjunku dalam dunia kemahasiswaan. "Berisi beberapa perabot rusak".

Begitu kata nya saat menangkap kearah sorot mataku yang mulai munculkan tanya. Seolah ada bacaan dalam pandangan mataku. Aku sudah hapal betul kalimat ini sering ia ucapkan tiap kali mendapati sorotan mata ku mengarah kekotak itu. "kenapa tidak di buang saja, atau barangkali bototkan saja ke pak jun langganan kita bototin botol sirup" saranku dengan serius. "Lagi pula Cuma perabot rusak. Gak layak pakai lagi kan ?" tuturku polos. Bisikan yang terbenak dalam hati menembus bibir keluar membentuk kata berupa sebuah ucapan. Ini kali pertama keberanian ku, padahal dulu saat ia katakan berisi perabot rusak aku hanya manggut-manggut terdiam cuek. Bukan tak mau tapi merasa belum pantas tau dalam urusan-urusan pribadi nya.

"Saayanggg. . . ! bila dibenarin, suatu saat layak pakai lagi"

"lantas kog belum diperbaiki?"

"sudah, ya tapi belum saatnya untuk bisa diperbaiki" Jawab nya santai. Padahal jawaban itu cukup membingungkanku.

"Atau, abang kuliah fakultas teknik saja. Barangkali bisa buat alat penelitian-penelitian nanti. Toh jadi berguna perabot nya !".

"tak perlu lah, Abang suka hukum".

***

Meskipun letak nya cukup menyudut tetap saja tak bisa telepas dari pandangan tiap orang yang keluar masuk rumah. Termasuk aku! Setelah tanaman bunga kesayangan nya kotak itu juga menjadi bagian keidahan pelataran halamannya. Sepertinya, tapi tidak! buatku itu malah mengganggu kenyamanan mata juga merusak keindahan tanaman bunga rawatannya. Berakhir kesabaranku dengan kekumuhan kotak itu, Aku menuju kearah dapur meraih benda tajam yang biasa ia pakai merajang bawang setelah itu berlari kecil ke ruang tamu menelusuri lemari kaca tempat biasa ia menyimpan gunting lalu kepojok pagar mencari sapu ijuk yang sering ia gunakan menyungkirkan abu dikotak itu.

Kuputuskan menuju kearahnya, perlahan semakin mendekat mencoba meraih. Kotak itu sekarang terlihat sangat dekat meski buruknya tak layak pandang, ku tepat berada dihadapat kotak. Menjulurkan ijuk menyapu gumpalan sarang laba-laba juga tumpukan debu. setelah itu mulai mengeluarkan pisau dan gunting untuk menela'ah perabotan dalam kotak yang sering bunda katakan.

"Saayangg. . ! bundakan sudah katakan hanya perabot rusak! Tak usah berencana menyingkirkan nya apalagi mebuangnya."

Aku membalik kearah suara tak lagi asing berada di depan pintu. "loh, bunda masih disana?" Ternyata sedari tadi bunda mengamati gerak gerik anehku, padahal ketidak sabaran meluap, membara, pada kotak kumuh perusak pemandangan halaman rumah.

"sini bunda peluk" ujarnya lembut sambil merentangkan kedua tangan dengan lebar. Antara ingin dan tidak perlahan menghentak lantai suara gerak langkah kaki berat berjalan kearahnya. Seketika kini kuterbuai dekapan tulus bunda.

"ternyata lajang bunda mulai mengerti membaca keadaan" bisiknya ditelingaku.

"Tapi jagoan bunda iniiii belum paham betul menyikapi keadaan, belum cerdas mengatasi pertikaian". Tekan bunda dalam tutur kata lembutnya.

Terdengar dengan jelas getar di bibirnya menahan tangis kesabaran di beberapa tahun belakangan ini. Luka di hati itulah yang membawaku pada kemarahan ingin menyingkirkan ayah yang selalu kuibaratkan seperti kotak. dan sifat buruk ayah kusamakan dengan perabot rusak yang sering bunda sembunyikan sejak lama. Namun, Bundaku perkasa, sabarnya sebening embun, hatinya setebal sutera.

"Maaf bun"

Aku menangis terisak melupakan kodrat ku sebagai lelaki penyembunyi tangis. Aku lalai dengan ketangguhanku sebagai lelaki penahan sedih. Harusnya sedih itu tak tertumpahkan dalam tangis air mata. Harusnya aku terlihat kuat dihadapan bunda. Namun pelukan bunda melembutkan hatiku menjadi sosok melankolis si penyedih yang tak mampu terbendung mata lagi bekaca-kaca penuh bercucuran begitu saja.

***

"Saayangg. . . ! yang paling harus kamu ingat cinta itu komitmen. Cinta itu titipan ilahi. Rasa yang amat suci sama halnya seperti iman. Kadang kala bisa meningkat, kadang kala pula bisa menurun. Yang penting kita tak boleh kehilangan iman. Begitu pulalah cinta. Rasa sederhana anugrah terindahnya". Tatap bunda sambil menghapus tangisku.

Oh tuhan malunya aku saat bunda kini menjadi lebih tegar. Tak sebutir tangis pun yang ia jatuhkan dari mata indah itu, tak setetes air pun yang kudapati membasahi jilbab biru nya. Senyumnya tegar penuh keikhlasan. Entah karna ia seorang guru yang makannya terbiasa berlauk sabar saat menghadapi murid. Entah pula seorang ibu yang memang harus bersabar.

"Aan tau gak dulu saat pertama kali ayah mengutarakan isi hatinya ?"

"oh ya! udah bunda ceritain belum ?" pancing bunda.

Kegiatan itu yang suka ia lakukan kalau dalam keadaan begini. bercerita mencoba menghibur "belum, jawabku dengan suara parau karna habis menangis".

"yok bunda dongengin". Sambil menggiringku duduk di kursi halaman kami.

Hmmm. . . ia emang paling mengerti cara meredam emosi. Kalau kata nabi obat kemarahan diam. Tapi dalam hal ini obat kemarahannya mengenang masa manis saat bersama sosok yang memunculkan kemarahannya.

"Dulu ayah seorang yang sangat so sweet! bunda tak jarang bertemu ayah. Tiba-tiba sepulang bunda mengajar bunda mendapati surat yang berisi pernyataan sebuah lamaran"

"Begini isinya".

?

?

***

Assalamualaikum . . . .

penempat hati tak terinci,

penduduk rasa tak terdata,

Gadis sejak beberapa lalu kumerasa ada getar tak wajar kala berbicara dan berdekatan denganmu

Akulah Rifa'i hanan. Seorang lelaki dititipi rasa cinta.

Dan kaulah Nafla Alya gadis sholehah Allah percayakan mengisi ruang hati ini.

Aku bukan si pecinta malam, suka menikmati gemerlap bintang.

Juga bukan si peminum bir mencari ketenangan, tergila-gila pada bagian dalam cairannya

Tidak pula si pentonton bola yang suka mempertaruhkan idolanya.

Bahkan bukan lelaki zaman modern mengumbar janji menebar kasih dengan sebuah tali cinta pacaran. tanpa mereka sadari hanya sebuah permainan nafsu belaka.

Akupun tak ingin mencari pembenaran hati menghayalimu disepanjang hari, disebelum tidur, ditiap langkah. Begitu rasanya mencinta seseorang. . ! aku tak inginkan itu.

Dan kau kucinta, izinkan aku menjadi seekor kumbang menikmati manismu tanpa sekalipun merusak. karna kaulah bunga keindahan. Membantu menghasilkan madu terbaik.

Tak ingin berlarut dalam rasa, telah kuputuskan pekan depan aku dan keluarga datang melamar. Istikharahlah minta petunjuk Allah. Begitu pulalah aku disini memantapkan hati memilihmu.

***

"Cinta yang hanya bunda tanam saat ijab qabul tertunaikan, Boleh saja redup asal tak boleh padam sepanjang komitmen masih terus terjalin". Ujarnya di akhir hapalan indahnya.

Aku terkesan dengan kepintaran ayah bermain kata mengikat wanita. Sampai bunda pun hapal kalimat-kalimat itu dengan detail. Rasanya ingin belajar dari ayah saja, pastinya kata itu tak tertulis begitu saja tanpa rasa yang mendalam. Tapi mengapa kini ayah begitu kasar kepada nya? Ayah lebih sering marah-marah, mabuk-mabukan, kasar tak jelas dengan segala hal kecil. Ayah sering menyakiti nya. Ayah cuek dan tak memperdulikan kami. Seperti semua berbalik begitu saja. Inikah yang dinamakan tak cocok lagi? Semua penyataan menggelegar dihati dan pikiranku.

"Batu keras sekalipun bisa bolong di curahi air terjun setiap saat. Asal niat lillahi ta'ala semua masih baik-baik saja. Tergantung kaca mata apa yang kita pakai dalam menyikapinya. Tak ada kata tak cocok lagi, tak layak lagi. Penyesuaian itu butuh seumur hidup. Ayah pasti berubah. Masa buruk ini akan kembali kemasa manis dulu. Percayalah sayang. Banyak belajar dari roda yang kadangkala ditengah diatas dibawah. Sepanjang tak pernah berhenti. Ayah akan selalu menjadi bagian terindah kita. Dan kita harus utuh". Jelas bunda meruntuhkan pikiran ku.

Aku dan ia saling tersenyum isyarat tanda komitmen keoptimisan kami.

"Iya bun, kita pasti utuh . . ." akhirku dengan lega.

Ku beranjak meninggalkan nya pergi dan melanjutkan aktivitas tanpa merisaukan kotak coklat berisi perabot rusak itu lagi......

  • view 134