Cahaya MutiaraNya

Nani Haryati (Leader Paytren)
Karya Nani Haryati (Leader Paytren) Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Mei 2016
Cahaya MutiaraNya

Sekita 2 bulan yang lalu, saya keliru ketika berbicara. ada sebuah diskusi sederhana antara kami pada saat itu, dalam diskusi, pemahaman yang saya dapatkan dalam perkuliahan saya share kepada teman-teman saya yang pada saat itu mereka menolak secara besar-besaran bahkan pada akhirnya saya mendapat julukan "Mereng" disertai dengan gerak tubuh dalam hal ini kepala dan tangan yang diletakkan saling berhadapan lalu digerakkan sedikit kearah kanan sebagai simbol kemerengan saya. Dan bahkan lebih-lebih salah satu dari sahabat saya mengatakan seperti ini "Oke kita lihat kelak kau akan menjadi apa" itu yang saya tangkap pada saat itu. tentu hal ini sebuah keterguncangan amat mendalam dalam jiwa saya. hingga menjadi kegelisahan sampai saat ini. pada dasarnya yang ingin saya tawarkan kepada mereka saat itu, bukan sebuah penerimaan secara utuh melaikan saat itu saya berharap menghadirkan sebuah keterbukaan terhadap sekte, aliran, mazhab atau ideologis lain. saya juga berharap keterbukaan untuk tidak terus menerus mensakralkan pemahaman orang lain.  tentu ini bukan persoalan mudah, dan amat panjang penjelasannya. tapi "kalimat menjadi apa kau kelak" jelas itu menjadi pemicu kegelisahan saya yang terkadang saya pun berpikir apa saya sesalah itu. apa saya semenyimpang itu, apa saya semelenceng itu. terus menghantui akhir-akhir ini. sebab ini bukan saja persoalan krisis pemahaman lebih-lebih juga krisis keimanan saya yang mereka pahami dan tuturkan kepada saya. hingga saya berinisiatif untuk menyeimbangkan kajian. saya mencoba membaca berbagai hal bahkan dalam sholat pun saya sering tanyakan sama Allah apa benar saya semenyimpang itu. hingga akhirnya kegelisahan ini menjadi sebuah pengalaman spritual saya.

Saya titip kegelisahan tersebut diatas sajadah, merintih mohon ampun minta diberi petunjuk sebuah kebenaran terus menerus saya lakukan tanpa henti. dalam kesendirianpun saya merasa takut. akhirnya setelah tetesan-tetesan yang cukup banyak, disiang ini allah tunjukkan sebuah cahaya tersebut. iya kirimin seorang dosen yang konsen dalam persoalan yang memang menjadi kegelisahan saya saat ini. kita duduk berbarengan, sambil menunggu teman-teman lainnya. tanpa sadar, saya mengutarakan kegelisahan saya. akhirnya diskusi yang cukup panjang. sekitar 2 jam lebih. sekitar 45 menit secara emotional kita berbicang diluar perkuliahan (perkuliahan belum dimulai) beliau memaparkan banyak hal tentang keterputusan akal diabad pertengahan (Paham Fundamentalis) yang pada dasarnya fuqaha sendiri memberi ruang gerak terhadap akal juga sahabat rasul dalam hal ini Umar bin Khattab (Khalifah ke 2). boleh kita lihat hambali yang menerapkan istihsan (Ruang akal), Maliki yang menerapkan ijma' ahlul madinah (kemaslahatan ahli madinah dalam hal ini ruang publik bersifat konteksual yang memerlukan nalar akal) juga syafi'i yang menerapkan qiyas (analogi akal yang dikaitkan pada nas) dan hanafi yang sangat rasional. yang menjadi pesan beliau "bekal saudara (Pemahaman tentang Mazhab) jangan sampai putus mata rantainya". dan satu jam setengahnya beliau utarakan secara akademis. beliau mengatakan ambil mutiaranya saja. setiap bidang ilmu memiliki ideologi masing-masing. dan ideologi kita, keimanan kita, tentu jangan diganggu gugat lagi. tapi pemahaman kita tentang keagamaan harus jeli. berhenti mensakralkan berbagai hal. pahami secara utuh. thank's bapak dosen, thank's sahabat. tamparan besar yang memicu saya untuk lebih mencari dan mencari lagi.

tulisan ini hanya refleksi dari kegelisahan saya saja juga sekaligus menguji diri untuk mampu mengurai pikiran dalam bentuk tulisan tanpa unsur apapun. Sore Inspirasi.co.  Udah lama gak nyorek-nyorek nich.... hehehehe

  • view 111