negeriku

Musthofa As-shomandany
Karya Musthofa As-shomandany Kategori Puisi
dipublikasikan 22 Oktober 2016
negeriku

negeriku

kupandangi langit negeriku, namun aku merasa asing.

kupandangi udara negeriku, namun aku merasa asing.

kupandangi rumput negeriku, namun aku merasa asing.

langit negeriku kini selalu gelap.

awan hitam pekat mengepul dimana-mana.

menjadi bayangan hitam sosok berangkat tinggi.

 

ohh...negeriku..

gerangan apa yang menyebabkanmu seperti ini ?

aku masih ingat betul, di saat aku masih kecil.

engkau menjadi sahabat terbaik untukku.

di saat aku merasa gundah.

engkau menghiburku lewat bisikan angin malammu.

gemercik air di sungai-sungai kecil.

mengalirkan ribuan asa di benakku.

 

namun...

kini engkau telah murka.

orang-orang berpangkat tinggi.

mengambil alih kekuasaan atas dirimu.

untuk memuaskan nafsu mereka.

 

ohh..negeriku...

mau dibawa keman negeriku ?

terombang-ambing di tengah ganasnya ombak samudra.

terkadang aku merasa geli dengan para penguasa negeri ini.

mereka ibarat kacang yang lupa dengan kulitnya.

mereka ang berpangkat tinggi.

mereka yang berkuasa.

menganggap dirinya sebagai Tuhan.

mereka membuat keputusan dengan sesuka hatinya.

tanpa pernah memikirkan perasaan rakyatnya.

perut mereka terus membuncit.

kecongkaan menguasai diri mereka

 

hmmm...

aku tak tahu.

mereka benar-benar lupa

atau sengaja melupa.

dari mana mereka berasal.

bagaimana guru-guru ngaji di surau-surau kecil.

mengajarkan akhlak pada mereka.

bahwa tamak itu menyebabkan sengsara.

 

ohh..negeriku..

kini telah datang.

masa di mana amplop menjadi tujuan hidup.

ak peduli, jika harus saling menjatuhkan.

jika harus saling menghancurkan.

bahkan, jika harus saling membunuh pun.

bukan masalah yang besar.

jika amplop sudah di genggaman.

penguasa negeri ini pun semua berlomba-lomba menggandakan amplop.

dengan jabatan yang tinggi.

dengan kekuasaan yang mereka andalkan.

mereka tidak peduli, amplop siapa yang mereka ambil.

 

ohh..negeriku..

aku rindu akan dirimu yang dulu.

riak air di sungai-sungai kecil.

juga tawa anak-anak mengaji di surau-surau  kampung.

namun.. aku berjanji.

aku akan setia menunggumu.

hingga maut menjemputku.

  • view 165