embun di ujung senja

Musthofa As-shomandany
Karya Musthofa As-shomandany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Oktober 2016
embun di ujung senja

perjuangan

“Semilir  angin malam membelai lembut  rambut  kilapmu”  

“Wajah cantik merona terbias cahaya purnama”

“Terhiaskan kejora diujung cakrawala”

“Melintasi orbit kenangan yang telah lama kelam”

 

 

“Ingatkah engkau dengan kisah diujung senja”

“Senja yang begitu kelam .menanti datangnya gelap”

“Meski harus tergantikan gelap,tapi senja tetap indah dengan sinarnya”

 

 

 

 

 

            Nay, pertemuan memang ditakdirkan untuk menyambut perpisahan. Seindah apapun pertemuan itu, perpisahan akan menjadi jurang pemisahnya. Aku bahagia bisa kenal denganmu.  Lebih dari itu. Aku mengagumi semua tentangmu.   Lebih sederhana lagi, aku mencintaimu dengan caraku sendiri.  Aku jatuh cinta pada suara lembutmu. Pada caramu membetulkan kerudung. Dan terakhir, aku jatuh cinta pada senyummu. Meski begitu jarang aku melihatmu  langsung. Tapi, dari situlah aku mulai mengenal apa itu rindu. Aku mulai mengenal makna rindu ketika malam tiba.  Racun rindu menjalar kesemua pembuluh darahku. Hanya bayang wajahmu yang menghiasi malamku.  Aku melukiskan wajahmu pada langit malam yang cerah. Ribuan bintang bertaburan memenuhi cakrawala malam. Aku membayangkan wajahmu yang tengah tersenyum padaku. Ohh senyum itu. Aku rindu akan senyummu.

            Nay. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Kini tiba saatnya kita akan berpisah. Tapi bukan pisah untuk selamanya. Terkadang kita memang harus berjalan sendiri-sendiri bukan ?. kita tidak bisa selamanya berjalan bersama . dan kini dengan satu alasan lagi, kita akan berpisah. Kebahagiaan yang baru saja kita rasakan, sebentar lagi akan dipisahkan oleh yang namanya jarak.

            Suatu ketika aku meneleponmu. Sekedar untuk menanyakan bagaimana kabarmu ? ekamu sudah sarapan ?. tetapi kala itu suaramu  terdengar begitu serak dan gemetar.

“ rey..  aku nggak mau pisah sama kamu” suaramu terdengar gemetar.

“ nay.  Semua yang terjadi pada kita sudah berjalan sesuai skenario Tuhan. Kita hanya mampu menjalaninya. Kita tak kan mampu melawan  takdir. Kita tidak mungkin bisa selalu bersama, sebelum ada ikatan suci diantara kita.  Ada kalanya kita harus melewati hiru-pikuk kehidupan kita sendiri bukan ? aku yakin kamu bisa menerima penjelasan ini. Kita pisah bukan untuk selamanya kok. Nanti jika liburan pesantren tiba. Kita bisa komunikasi lagi. Kamu jangan sedih nay”  aku mencoba  menjelaskan panjang lebar padamu.

“Tapi. Aku bakalan kangen kamu” kamu merengek. Aku tahu kamu sedang menahan air matamu. Suaramu terdengar begitu parau.

“iya nay. Aku tahu. Aku juga bakal kangen banget sama kamu. Itu hal yang wajar karena kita saling mencintai. Tapi kita juga harus ingat. Masa depan kita masih panjang. Kita masih muda nay. Banyak yang harus kita lewati.”

            Kamu terlihat agak tenang. Meski aku amsih mendengar kamu mengatur nafas. Maafkan aku nay. Aku hanya ingi kita tidak terlalu hanyut dalam rayuan bujuk syetan. Aku tidak ingin kisah cinta kita tumbuh seperti umunya pasangan diluar sana. Aku ingin cinta kita tetap berada di naungan ridlo Ilahi. Kamu bisa mengerti maksudku kan nay ?.

            Kamu hanya diam. Kamu tidak menutup telfonku. Aku khawatir padamu. Tapi kau juga bingung, mau ngomong apa ? aku tahu kamu lagih sedih banget.

“rey, kamu janji yaa. Nggak bakal macem-macem. Kamu hanya cinta sama aku”

            Aku tersenyum mendengar permintaanmu. Tanpa kamu minta nay. Aku akan melakukannya. cintaku hanya untukmu seorang nay. Yaa aku janji.

“kok diam ! kenapa nggak jawab” suaramu membuyarkan lamunanku.

“iya sayang. Aku siap. Aku tidak akan macem-macem”

            Percakapan kita hanya sampai disitu. Karena kamu akan segera berangkat ke pesantren. Kamu berangkat lebih awal karena katamu, kamu ingin sekalian mendaftar di madrasah Aliyah. Aku melepas kepergianmu dengan senyuman. Meski aku sendiri sebenarnya menahan kesedihan yang luar biasa., aku hanya ingin terlihat tegar.

            Hari-hariku terasa begitu sepi setelah itu. Tidak ada suara lembutmu. Tidak ada pesan darimu. Yang biasanya sebagai penawar rasa rinduku. Seolah-olah kita sedang berada pada jarak yang sangat jauh. Aku memilih menyibukkan diri dengan kegiatan di pesantren. Dengan berharap sedikit-sedikit bisa tidak kefikiran kamu nay.

 

###

  • view 222