embun di ujung senja

Musthofa As-shomandany
Karya Musthofa As-shomandany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Oktober 2016
embun di ujung senja

Penulis kecil

 

 

 

  Pagi telah datang. Semburat mentari muncul dibalik cakrawala. Hembusan angin menebarkan semangat pagi. Masih terlihat embun pagi yang membasahi dedaunan. Aku meraih ponsel yang ada disamping ranjangku.  Terlihat di layar ada satu pesan yang belum terbaca. Ternyata itu pesan darimu. Mataku bebinar  melihat kalau kamu mengirimiku pesan.

“bangun sayang, udah pagi”

       Aku senang sekali nay. Di awal pagiku kamu menyambutku dengan sebuah pesan yang menurutku sangat bermakna. Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi entahlah. Aku langsung membalas pesan darimu.

 “iya sayang. Aku udah bangun kok”

Nay.  Hari-hariku terasa begitu menyenangkan. Aku menuliskan semua kisah yang telah kita lalui. Sesekali aku tersenyum sendiri karena ingat akan moment-moment di mana kita masih sangat canggung untuk berbicara. Aku pun terkadang kesal ketika ingat kamu sedang di goda orang lain. Mungkin  aku ada niatan untuk menerbitkan naskah kita nay. Aku ingin semua orang tahu akan begitu dramatisnya kisah kita. Dengan berbekal kosa kata seadanya aku ingin merangkainya menjadi sebuah novel. Hari-hariku aku habiskan untuk menulis.Menulis kisah kita. Mungkin aku terlalu percaya diri dengan kisah kita. Tapi semua sudah dimulai nay. Aku harus menyelesaikannya. Aku harap kamu mau menjadi pembaca pertamanya.

       Tahukah kamu nay. Aku sering kehilangan inspirasi ketika sedang menulis. Lalu aku mengambil sebuah plastik di dalam tasku. Didalam plastik itu ada fotomu. Maaf aku mengambil fotomu di facebook..Setelah itu aku kembali terbang mengingat-ingat peristiwa indah yang terlewati bersamamu.

###

      “Gimana tulisanmu ?” tanyamu suatu hari.Aku hanya tersenyum, aku merasa kamu penasaran dengan tulisanku.

      “gimana rey ?” kamu mengulangi pertanyaanmu lagi.

Kali ini menjawab dengan mengangkat kedua bahuku. Menyipitkan mata.

      “loo kok gitu ? nggak jadi ya ?” kamu tampak kecewa. Aku suka melihat raut wajahmu kala itu.

      “jadi kok. Ini baru proses” jawabku. Aku memang sengaja ingin membuatmu penasaran nay, dan aku berhasil waktu itu.

      “emang gimana ceritanya ?”  kamu kembali bertanya.

      “semua sesuai dengan yang kita lalui”  jawabku pendek.

      “aku jadi penasaran ?”

Akhirnya kamu mengatakan itu nay. aku merasa menang kala itu.

      “kamu mau baca ?” aku menawarimu.

      “mau, kalau bagus”

      “bagus kok, menurutku”

      “ini, coba baca”  aku memberimu satu bandel naskah  tulisanku. Kamu menerimanya. Kamu membolak-balikan naskahku. Lalu kamu membaca sepenggal cerita di dalamnya.  Aku suka melihat caramu membaca.  Kamu tampak begitu anggun. Oh Tuhan. Terima kasih telah mempertemukanku denganmu.

Beberapa saat kemudian, kamu memberikan pendapatmu.

      “bagus rey, aku suka ceritamu. Tidak muluk-muluk. Enak dibaca”

      “masak sih ? rasanya biasa aja. Aku cuma menulis apa yang kita alami aja”. Balasku.

      “kalau boleh tahu, kenapa kamu ingin menulis kisah kita ?” kamu tampak serius. Kamu membetulkan posisi dudukmu. Sedikit bergeser. Kini posisi kita berhadapan dengan sempurna.  Hanya meja bulat yang memisahkan kita.

      Ada getaran hebat dalam hatiku kala itu.  Kamu membalas tatapanku. Dua insan yang saling beradu pandangan. Lalu kamu menundukkan kepalamu. Kamu tampak malu-malu. Pipimu merah. Aku tahu kamu sedang tersenyum. Kamu menyembunyikan senyummu.

      “udah dong, jangan menatapku kayak gitu ?” katamu. Kamu masih menunduk. Aku tersenyum nay.

      “iya udah ini” jawabku.

Lalu kamu mengangkat wajahmu. Masih tampak merah kedua pipimu. Kamu terlihat sangat cantik nay.  Rasanya aku tidak ingin melewatkan  waktu sedetikpun kala itu.

      “katanya udah !”

      “ehh iya-iya maaf”. Balasku. Kini aku mengalihkan pandanganku pada segelas minuman yang ada di depanku. Sekedar untuk mengalihkan perhatian. Waktu-waktu terasa begitu indah nay. andai aku bisa menghentikan waktu. Maka aku akan menghentikannya. Agar aku tetap bisa seperti ini.

      “gimana ? kok pertanyaanku tadi nggak kamu jawab ?” katamu, kamu tampak masih penasaran.

      “aku menuliskannya karena aku ingin semua orang tahu perjuangan cinta kita. Bagaimana kita melewati semuanya”. Jawabku.

      “kalau semua orang sudah tahu ?”

      Aku hanya mengangkat kedua bahuku.

      “aneh” katamu.

###

  • view 191