embun di ujung senja

Musthofa As-shomandany
Karya Musthofa As-shomandany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Oktober 2016
embun di ujung senja

 

 

Merajut cinta

 

 

 

 

 

“ketika kelembutan hati tergoreskan pena cinta”

“Mengetuk dalamnya relung jiwa”

 “mengibaskan sayap ketenangan”

 “membawaku terbang mengitari cakrawala cintamu”

 

 

 

          Kita masih duduk berhadapan. Kamu menatapku penuh makna,tatapan yang selalu aku inginkan sejak kita pertama kenal. Sungguh aku ingin menghentikan waktu agar bisa terus menatap wajah paling cantik sedunia.Senyum manis terbesit dari wajah anggunmu. Lentik bulu matamu menjadikan sempurna sudah keindahan matamu. Mungkin aku terlalu mengagumimu, tapi entahlah, memang itu yang aku rasakan hingga saat ini.

“kok diam terus sih” katamu.

“aku bingung mau ngomong apa” jawabku seadanya. Aku memang selalu gugup kalau sedang berhadapan langsung denganmu. Aku memang bukan tipe anak yang mudah bergaul dengan anak perempuan. Kebiasaan pesantren yang memberi jarak antara santri laki-laki dan santri perempuan seakan telah menyatu dengan darahku.

 “ yaa udah kalau nggak mau ngomong aku pulang aja”. Kamu mengalihkan pandangan pada jendela kafe. 

“ aku ingin  menuliskan semua cerita kita nay..”. Kataku  pendek.

      Tiba-tiba kamu menatap serius kearahku.kamu mengernyitkan dahi. Menyipitkan matamu.

      “kisah kita..?” tanyamu. Bahkan aku tidak tahu apakah itu pertanyaan atau  sekedar untuk meyakinkan. Kamu terlihat agak kaget dengan kata-kataku tadi.

      “ iya ..kisah kita nay” jawabku mantap.

 Nay, aku ingin kisah kita abadi. Meski bagaimana kelanjutan kisah kita aku sendiri juga tidak tahu, tapi aku akan selalu ingat saat-saat dimana kita mulai pertama kali kenal, tentang kaos putih.

 “ kenapa harus kisah kita rey ? apakah kamu yakin ?”. kamu mengernyitkan dahi. Kelihatannya kamu tidak yakin padaku. 

      “ aku tak akan menuliskannya secara tergesa-gesa nay. Santai saja, kita jalani semuanya. Aku akan berusaha menuliskan semuanya . hingga saatnya tiba, kisah kita akan menjadi kisah cinta yang terbaik yang pernah ada” aku tersenyum lebar.

      “ kamu ke-pede-an” kamu mencibir. Menjulurkan sedikit lidahmu. Menyipitkan matamu.

      “apa kamu keberatan nay ? jika aku menulis semuanya ?”. tanyaku.

      “ nggak kok, aku nggak keberatan kalau itu membuatmu bahagia”. Kamu tersenyum menggodaku. Senyum yang selalu aku iadam-idamkan. Senyum paling indah sedunia.

      “ emang gimana kisahnya rey..?” lanjutmu penasaran. Aku tidak menjawab pertanyaanmu nay.

###

      Pengunjung kafe sudah pada pulang, disana hanya tinggal kita berdua. jam menunjukkan pukul 22.00. pelayan sudah siap-siap untuk menutup kafe dan membereskan sisa-sisa makanan. Memang kafe yang kita tempati waktu itu hanya buka sampai pukul 24.00. itupun kalau memang sedang ramai pengunjungnya. Kalau sedang sepi seperti initutupnya lebih awal. Salah seorang pelayan kafe ada yang sedang mengawasi kita. Mungkin kamu tidak merasakannya nay, tapi aku cukup risih dibuatnya.

     “ pulang yuk..” ajakmu. Sebenarnya aku masih ingin disini nay. Aku ingin menghabiskan setiap waktuku bersamamu. Karena dengan bersamamu aku merasakan ketenangan, merasakan kebahagiaan, menari-nari diatas selendang asmara..

     “ iyaa ayo” jawabku singkat. Kamu berjalan didepanku. Aku mengikutimu jarak tiga langkah dibelakangmu. Aku suka caramu berjalan yang agak miring kekanan. Aku suka lambaian tanganmu ketika kamu berjalan. Aku menyukai semua yang kamu miliki nay.

“kenapa..?” tanyanmu . kamu membalikkan badan dan berhadapan denganku. Kini aku kembali melihat wajah paling indah sedunia. Aku suka raut wajahmu ketika kamu penasaran, dengan sedikit meninggikan alis kanan dan mengerutkan dahimu. Aku suka semua itu nay.

    “ nggak kok” jawabku sambil memberikan senyum manis untukmu.

        Kamu kembali berjalan. Kini  aku berada disampingmu. Aku berharap bisa berbicara banyak denganmu. Tahukah kamu nay. Sebelum aku berangkat aku sudah merangkai banyak kata-kata. Semua sudah aku persiapkan dengan matang. Tapi ketika berhadapan langsung denganmu semua hafalan dan rangkaian kata-kata hilang entah kemana. Aku seolah-olah tengah amnesia sementara. Aku gugup nay. Sangat gugup.

     Kita sudah sampai diparkiran mobil. Kamu menunggu di tepi jalan. Sementara aku mengambil mobil. Aku menghampirimu, terlihat wajahmu samar-samar terbias cahaya lampu jalan raya.

    “ayo masuk…” pintaku.

      Kamu langsung masuk dan duduk disampingku. Kamu meletakkan tas kecilmu dipangkuan. Sambil tangan kananmu membetulakn kerudungmu yang tadi tersibak angin malam. Aku suka caramu membetulkan kerudung.

     “kenapa ..?” kamu bertanya padaku. Tanganmu masih menata ujung kerudungmu. Terlihat rambutmu  mengintip keluar.

     “nggak kok, aku cuma suka caramu membetulkan kerudung” jawabku.

     “kenapa suka ?” tanyamu lagi. Kamu menggeser dudukmu sedikit lebih dekat kearahku.

Aku hanya tersenyum padamu. 

     Aku menancap gas perlahan. Aku akan  mengantarkanmu pulang. Selama perjalanan kamu hanya diam. Sesekali kamu menoleh kearahku. Aku tahu kalau dari tadi kamu memperhatikanku. Aku ingin terlihat gagah dihadapanmu nay. Aku sengaja tidak membalas pandangamu, seolah-olah aku tidak menyadarinya.

    “rey..” kamu tiba-tiba memanggilku. Suararamu sudah terdengar agak serak. Mungkin waktu itu kamu sudah ngantuk.

     “ ada apa nay..?” jawabku

     “apa kamu serius mau nulis kisah kita ?” kamu kembali menanyakan hal itu. Mungkin  kamu belum yakin denganku.

    “iya nay. Aku serius. Semua yang akan kita hadapi akan aku tuliskan semua. Dengan kata-kata yang sederhana. Walau mungkin hanya aku yang tahu maksudnya” jawabku mantap

    Kamu hanya mencibir. Tidak terasa kita sudah sampai di depan rumahmu. Sebelum keluar kamu menatap wajahku dan memberikan senyum. Senyum paling indah sedunia. 

     “aku masuk dulu ya..” katamu.

     “iya..salam buat ibu dan bapak ya” jawabku.

     Kamu keluar dari mobil,tapi tidak langsung masuk. Kelihatannya kamu menungguku untuk pulang. Tapi aku juga sengaja tidak langsung pulang. Aku ingin menunggu kamu masuk. Aku ingin memastikan bahwa kamu benar-benar selamat sampai rumah. Mungkin aku terlalu nay.

   “kamu masuk dulu nay.”  Kataku sambil  membuka kaca mobil.

   “kamu yang pulang dulu”jawabmu canggung. Waktu itu kita lagi sangat canggung nay.. kita sama-sama tidak mau meninggalkan tempat. Kamu tidak mau masuk sebelum aku pulang,, dan aku juga tidak mau pulang sebelum melihat kamu masuk. Untung saja  ibu kamu keluar dan memintamu untuk masuk.

 “nayla sayang, masuk nak, sudah malem ini” pinta ibumu.

     Kamu hanya diam dan tersenyum kearahku. Sementara ibumu menghampirimu. Aku pun keluar dari mobil untuk sekedar menyapa dan menyalami ibumu.

 

   “Assalamu’alaikum bu,”aku mengucapkan salam pada ibumu.

   “wa’alaikum salam nak  reihan” jawab ibumu.

   “nak rey, nggak mampir dulu ?” lanjut ibumu sambil menawarkan untuk mampir kerumahmu.

   “nggak bu, ini sudah larut, ini aja udah ditunggu ibu dirumah.” Jawabku

   “ yaa sudah kalau begitu, kamu hati-hati dijalan” ibumu menasihatiku. Semenatara kamu hanya menundukkan kepalamu.  Aku suka caramu menundukkan kepala.. aku tahu kamu sedang menjaga sikap di depan ibumu.

   “ya sudah kalau gitu saya pamit  bu”  aku  meninggalkanmu dan masuk kedalam mobil. Sebenarnya aku berharap kamu akan ngomong sesuatu kepadaku. Sekedar untuk mengucapkan salam atau mengingatkanku untuk hati-hati di jalan. Tapi tidak nay.  Kamu hanya diam. Aku sedikit kecewa padamu waktu itu.

    Sampai di jalan tiba-tiba ponselku bergetar, ternyata kamu mengirimkan pesan untukku.

    “hati-hati dijalan ya rey. Jangan ngebut. Maaf  tadi aku tidak ngomong apa-apa. Aku sungkan sama ibu.  Aku tunggu tulisanmu.”

Aku mengerti nay. Kamu memang tipe orang yang berbeda dengan  umumnya orang seusiamu diluar sana. Kamu masih menjaga sikapmu dengan sangat hati-hati. Tanpa tunggu lama aku langsung membalas pesanmu..

    “iya nay.  Kamu jangan khawatir. Aku sayang kamu”

Dilihat 158

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    9 bulan yang lalu.
    Ini gaya kepenulisannya mirip sama pak CEO, dan kayaknya kata-katanya banyak yang mirip sama kata-kata beliau di buku "Jodoh" kalau nggak salah

    ikut pak pol; suararamu => suaramu ...

    Tapi ngomong-ngomong jiwa pesantren kok keluar berduaan sampai larut malam, hehehe...

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    9 bulan yang lalu.
    dimana => di mana
    disana => di sana
    dibelakangmu => di belakangmu
    disampingmu => di sampingmu
    diparkiran => di parkiran
    kerumahmu => ke rumahmu