Sebuah Nama

Lautan Malam
Karya Lautan Malam Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Juni 2016
Sebuah Nama

Aku mencoba mengingat, tentang bagaimana kali pertama semesta mempertemukan kita. 

 

Dahulu, kita adalah sepasang (sepasang?? ohhh, maaf.. maksudku..) kau dan aku adalah dua manusia yang tak saling kenal. Tanpa keterpautan, tanpa keterikatan. Tak ada rindu walau berjarak.

 

Berawal dari sebuah nama yang tertukar, maka kita (atau hanya aku?) pun mulai merenda kisah.

 

Aku dengar, kau adalah kader terbaik dari tanah nan jauh disana. Dan benar saja, waktu kian bergulir, dan nama mu kian mengudara. Walau tak kunjung kutahui siapa empunya “sebuah nama” itu.Rasa ingin tahuku semakin tak mau diam. Bahkan hingga tanpa disadari, aku jatuh hati pada sebuah nama. Sebuah nama yang dahulunya berada di tepian, entah sejak kapan, kini ia telah beranjak dari tepian menuju pusat perasaan.

 

Yaa.. aku jatuh hati pada sebuah nama. Hanya pada sebuah nama. Walaupun (masih saja) tak kutahu siapakah empunya

 

Namun beginilah aku, sang hobi tebak dan terka. Tanpa alasan, tanpa sebab, hanya sebatas terka. Tersematlah sebuah nama pada seorang yang aku sendiri pun tak tahu itu siapa. Hingga akhirnya, waktu memainkan perannya untuk mengungkap teka-teki sebuah nama.

 

Bak kisah roman picisan, hingga pada akhirnya, kita berkawan pada sebuah amanah yang sama. Dan saat itulah aku tahu “oh.. jadi selama ini ~dia~???” Ahahaha.. ternyata aku bukan ahli tebak dan terka.

 

Kala itu, amanah membuat kita untuk saling kenal. Dan kini aku semakin percaya, bahwa kau memang kader terbaik. Kau adalah orang baik. Dan yang ku tahu, kebaikan itu magis. Yang (bagiku) membuat seremeh temeh apapaun kisah, menjadi suatu kebermaknaan untuk diterka.

 

Namun seperti yang selalu ku ungkapkan. Kau adalah orang baik. Kata mereka, mendamba orang baik bak mendamba hujan. Kita tidak bisa memintanya jatuh hanya di halaman rumah kita saja. Hujan akan selalu dirindu oleh siapapun, sebab rintiknya selalu membawa kedamaian.

 

Sebenarnya, aku bukannya takut jika hujan harus jatuh di halaman rumah banyak orang (sebab itu sudah menjadi sebuah kepastian). 

Namun aku hanya takut,  jika doa ku ~yang meminta suatu saat hujan akan jatuh hanya di halaman rumahku saja dengan diiringi berkas matahari~, nyatanya tak jauh lebih kuat dari doa seseorang diluar sana yang juga memiliki doa yang sama.

Aku hanya takut, jika aku menjadi daun yang jatuh terbawa angin. Terbang dan terus terbang mencari persinggahan. Entah kelak akan jatuh pada dahan yang tepat, atau justru jatuh diantara ribuan yg jatuh lainnya?diantara tumpukan ke-tak-ber-mak-na-an.?. Terserak dan terabaikan.

 

Maka, biarkan aku menyimpan rindu dalam ruang persembunyian. Yang entah suatu saat akan hilang bersama aroma kekalahan, atau semerbak bersama wanginya perjumpaan dalam sebuah ikatan.

Dan kau, tetaplah menjadi hujan..

 

Lautan Malam

  • view 110