Aku Baby Blues

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Mei 2018
Aku Baby Blues

Hari itu dengan santai aku datang ke klinik bersalin.  Sudah minggu ke 40, namun kontraksi tak kunjung datang. Walhasil, akupun diinduksi agar mulas dan harapannya bisa bersalin dengan persalinan normal. Namun rupanya rencana Allah berbeda. Mulas sudah luar biasa.. namun pembukaan tak kunjung didapat. Pembukaan masih satu.. dan aku akhirnya harus mengalami operasi caesar. 

Bayi mungil itu lahir. Ya Allah.. ini anakku. Yang selama ini kunanti, yang selama ini kujaga dan kuharap-harapkan. Rasa Syukur menyelimutiku. Jahitan ini .. ah nnti sepertinya cepat sembuh. Namun, rumor tentang operasi ceasar memang benar. Setelah bius hilang.. rasa sakit itu luar biasa menyelimutiku. Jangankan bangun, mengangkat leher saat berbaring saja luar biasa sakit. Bersin sajaa.. Masya Allaah sakit luar biasa perut ini. Sebisa mungkin kutahan batuk dan bersin. Juga tentang menyusui.. alhamdulillah ASIku lancar. 2 jam sekali ku berikan cinta terbaik untuk anakku. Sehari ..esoknya pun begitu. Namun mengapa semakin lama.. semakin sakit. Setiap menyusui rasanya seperti diampelas.. ah sakit sekali..

Dalam kenyataan itu pun aku tersadar. Inikah rasanya menjadi seorang ibu. Ya Allah.. seperti inikah beratnya. Inikah yang harus aku alami hingga akhir hayatku ? Merasakan sakit berkepanjangan. Juga harus bangun malam.. sedangkan luka ini masih sakit, juga perihnya menyusui. Seberat itukah.. ?Aku tak pernah membanyangkan sesulit ini .  

Aku menyayangi anakku. Tapi mengapa berat sekali menjadi ibu. Badanku letih setiap hari. Rasanya aku ingin merebahkan tubuhku sja seharian dikasur. Tapi tenttu tidak bisa dengan segala PR ku menjadi ibu dan Istri. Aku sedih..

Rasanya pilu itu hendak ku tumpahkan sekuat kuatnya dalam tangis. Tapi aku pun tak mampu dan takut. Ku lihat wajah anakku aku menangis. Aku mencintaimu nak.. tapi rasanya aku belum siap dengan rasa lelah dan sakit yang kualami.  Juga melihat suamiku yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah.. ah dasar wanita tak berguna. Kau setiap hari hanya terduduk lemah dikasur, bersembab air mata

'Andaikan aku tak punya anak.. aku bisa melakukan apapun dan tak akan merasakan lelah dan perih ini'  Sempat ku berfikir begitu. " Astaghfirullah..apa yang baru saja kufikirkan..bukankah ini anugerah dariNya.." ku berusaha melawan lagi

Hampir setiap hari aku menahan pilu , skit dan sedih . Akhirnya suatu hari. Kutumpahkan semua piluku. Kupeluk suamiku.. dan menangis tanpa kata. Menangis sejadi-jadnya.. perasaan sedih pilu, jengkel, lelah di dada suamiku. Ia hanya bilang " Kenapa umi ?". Aku tak mampu menjawab. Berharap derasnya air mataku mampu menjawab pertanyaannya

'Mi pernah denger baby blues g ?" Seketika aku terhenyak dengan pertanyaan suamiku. Aku pun sangat tidak senang dengan pertanyaan  itu. Bukan karena aku tak tahu. Justru karena aku tahu itu, maka aku benci pertanyaan itu. Ya.. aku kini menyadari bahwa aku mengalami baby blues.  Mood yang luar biasa berubah.. naik turun.  Sedih dan marah tanpa sebab. Aku tahu itu semua. Tapi aku benci mengakuinya. 

Sebelum melahirkan.. dengan percaya diri aku berkata pada diriku. Ah itu hanya untuk yang kurang beriman. Namun ternyata tidak. Itu adalah sebuah proses yang sangat banyak dialami oleh ibu. Khusunya ibu muda dan baru sepertiku. Teman psikologi ku bilang.. faktornya karena kelelahan dan kaget menjalani rutinitas yang baru. 

Kucoba untuk mendamaikan perasaanku. Bercerita dengan ibu tercinta. Berusaha berfikir positif dengan yang aku alami. Ibuku hanya bilang bahwa aku harus bersyukur. Bahwasannya tidak semua perempuan bisa menjadi ibu. Juga tidak semua orang ebruntung memiliki suami yang baik seperti suamiku, juga anak yang sehat seeprti anakku. Intinya.. kunci kebahagiaan adalah bersyukur dan menerima kondisi saat ini. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang ibu. Dan menjadi seorag ibu memanglah haruslah mengalami rasa sakit dan lelah.  Terngiang ngiang ibuku berkata 

"Surga itu ditelapak kaki ibu.. tapi menjadi ibu itu tidak mudah. Jangan merasa hanya kamu yang merasakan. Ada jutaan ibu diseluruh dunia yang merasakan apa yang kamu rasakan "

Akupun mengamini pesan ibu. Berusaha menghujamnya kedalam dadaku dan selalu berfikir positif. Dan hari hari itu pun berlalu.. rasa sakit jahitan dan menyusui hilang. Dan kau tahu ? Setelah menyesali diri mengapa aku mau menjad ibu diusia muda , kini aku justru sangat bersyukur menjadi seorang ibu. Memiliki malaikat kecil dikehidupan ku, pelipur lara, penghilang gundah. Terimakasih Ya Allah.

Untuk para ibu dan calon ibu diluar sana.. yakinlah menjadi ibu itu tidak semudah yang dibayangkan. Tidak seindah selebgram yang memiliki anak-anak lucu dan terlihat bahagia. Ada rasa sakit, peluh , lelah dan pengorbanan yang luar biasa. Namun yakinlah.. dibalik itu semua ada surga menanti dan kebahagiaan tak terkira yang kita dapatkan setelah kesedihan. Hapus gundahmu. Ceritakan keluh kesahmu dan Perbanyak syukurmu. Sebab itulah yang akan membahagiakanmu. 

 

 

 

 

  • view 18