KEMULIAAN SEBUAH KELUARGA

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Renungan
dipublikasikan 06 Juli 2017
KEMULIAAN SEBUAH KELUARGA

Di bulan ramadhan tahun ini banyak program televisi yang menyajikan program bernuansa islami. Dari sekian banyak program. Yang sangat saya sukai adalah program hafiz Indonesia di salah satu channel tv swasta. Awalnya saya suka menonton ini, karena memotivasi saya sebagai calon orang tua supaya bisa mendidik anak sehingga bisa menjadi hafiz qur’an. Namun semakin lama, ada hal yang sangat membuat saya semakin suka. Yaitu pelajaran dari kisah hidup para hafiz qur’an ini. Salah satunya adalah mengenai kemuliaan sebuah keluarga dan apa yang sering dikejar oleh keluarga saat ini

Sebelumnya mari kita definisikan dahulu keluarga yang berkah dan mulia itu seperti apa. Buat saya, keluarga berkah itu adalah keluarga yang dinaungi keridhoan oleh Allah, diliputi ketentraman dan kebahagiaan bagi iman. Keluarga tersebut dekat dengan rabbnya dan interaksi dalam keluarga tersebut kental dengan suasana keimanan. Bukan hanya itu , buat saya pribadi keluarga yang berkah adalah keluarga mampu menyebarkan kebaikan bagi sekitar dan muncul sebagai pelita umat. Bagaimana dengan keluarga yang mulia ? tentu keluarga yang dimata Allah mulia dibandingkan keluarga lain.. Bukan dari penilaian manusia ya. Sekarang kita balik lagi ke acara favorit saya. Disana saya mendapatkan pelajaran berharga. Ternyata , banyak dari para hafizh tersebut justru lahir dari keluarga yang kurang. Mulai dari anggota keluarga yang tidak lengkap (red: yatim) , ekonomi yang sulit, fisik yang diberi ujian oleh Allah . dsb.

Saya melihat justru para peserta tersebut lahir dari keluarga yang kekurangan. Misalnya kamil, beliau hafal 30 juz dan 500 hadist. Bahkan ia hafal letak ayat ayat alqur’an dan halamannya. Namun sosok kamil yang cerdas rupanya tumbuh tanpa ayah yang telah meninggal dunia. Achmad, serupa dengan kamil . Ia hafal 30 juz dan ayahnya pun telah tiada. Enri yang sangat menarik. Beliau hafal 5 juz dengan suara yang mantap dan merdu. Namun ia berasal dari keluarga yang tak mampu. Rumahnya dari kayu. Serta bukan lahir dari orang tua yang paham al qur’an. Jangankan faham. Membaca Al-qur’an saja ayahnya tidak bisa. Namun anak ini belajar membca al qur’an dengan autodidak.

Saat menonton mereka. saya berfikir. Sungguh keberkahan dan kemuliaan suatu keluarga bukan terletak dari harta mereka. Terkadang orang-orang hebat justru lahir dari keluarga yang serba kekurangan. Kemuliaan dan keberkahan itu muncul saat adanya kedekatan keluarga tersebut kepada Allah. Serta bagaimana keluarga tersebut mampu menjadi teladan dan pelita bagi umat. Jika mereka dekat dan bermanfaat maka pastilah mereka mulia disisi Allah. Betapa banyak keluarga yang secara materi sangatlah cukup. Namun keluarga mereka justru tidak berkah. Penuh dengan kebencian, amarah, pertengkaran serta aktifitas yang membuat Allah marah. Tidak usah berfikir menjadi inspirasi, justru banyak keluarga yang bermasalah dan menjadi biang kerok di masyarakat

Nah, masalahnya kita sering gagal fokus. Mati-matian mencari yang tidak dibawa mati. Harta yang tak dibawa mati dicari mati-matian. Sedangkan anak yang merupakan ladang doa kita ketika meninggal justru diabaikan. Tak jarang malah menjadi tempat pelampiasan emosi. Maaf kalo tulisan ini kurang terarah, tapi saya hanya ingin mengungkapkan apa yang ada diotak saya. Bahwasannya, sudah saat nya kita hari ini fokus pada kemuliaan dan keberkahan keluarga yang hakiki. Karena keluarga itulah ladang pahala kita. Jika kita pandai menggarap ladang ini, maka pahala yang berlimpah akan menyambut kita. Fokus bagaimana mendidik anggota keluarga kita, khususnya anak agar selalu taat pada syariatnya. Menjadikan Allah dan RasulNya diatas segala-galanya. Serta memandang dunia hanya sebagai alat untuk mencapai akhirat. Memang tak mudah. Namun dengan ikhlas, ikhtiar,dan tawakkal insya Allah bisa.
Dan berhati-hatilah, jika kita lalai dan lebih fokus pada kemuliaan dimata manusia . Tentu keberkahan itu akan sulit didapat. Bahkan bisa jadi neraka yang didapat. Wallahu’alam bishawwab

Dari calon ibu yang masih belajar dan kurang ilmu,

  • view 76