Kematian tidak mengenal kesiapan

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 Juli 2016
Kematian tidak mengenal kesiapan

Karena kematian tidak mengenak kesiapan

 

Disetiap nafas kita, setiap detik yang berjalan. Pada akhirnya akan menuju pada satu titik yaitu kematian. Sebuah gerbang menuju fase kehidupan yang benar-benar abadi. Yaitu Kehidupan Akhirat. Masya Allah, kita terkadang sebagai seorang hamba lupa akan hakikat kehidupan di dunia. Terlalu banyak keinginan dunia, ambisi, serta kesibukan dunia , hingga lupa bahwa bisa saja malaikat pencabut nyawa datang kepada kita dalam keadaan apapun. Dalam keadaan makan, tidur, menonton tv , marah , senang, sedih dsb.

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf:19].

Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].

Di beberapa detik kedepan, hari, bahkan tahun, kita memiliki peluang ½ , atau 50 : 50. Karena pilihannya hanya ada  2 , masih hidup atau ya mati. Peluang hidup 50 , peluang mati 50.  Ini berarti secara matematis peluang kita meninggal kapan saja dan dimana saja sangatlah besar. Namun mengapa terkadang jiwa ini terlalu lancang dan menantang terhadap maut. Seringkali terbesit hati ini untuk bermaksiat. Belum lagi hati yang sering kotor. Masih pula menyisakan waktu untuk hal-hal mubah yang tak bermanfaat. Juga sangat ridho lisan ini melantunkan perkataan selain dzikir dan istighfar kepada Allah.

Lalu kita berharap mati dalam keadaan husnul khotimah ? Sahabat, mungkin kita lupa saat ini kita ada di kehidupan nyata , bukan kehidupan dongeng. Kita menginginkan meninggal dalam keadaan berdzikir, shalat, berdakwah, kajian ,dsb. Namun amalan yang diperbanyak oleh kita adalah melamun, menonton tv, mengobrol tidak penting , buka sosmed dsb. Mungkinkah ? tentu peluangnya sangatlah kecil.

Sesungguhnya kematian itu tidak mengenal kesiapan. Baik itu yang sudah tua maupun baru baligh. Bagi yang sudah lama mengkaji Islam, maupun baru sekali hijrah menuju kebaikan. Apakah saat hatinya sedang mengingat Allah, ataukan sedang marah atau sedih karena sebuah permasahalah. Ini menunjukan bahwasannya kita sebagai manusia harus berusaha agar hati, pikiran serta perbuatan kita senantiasa ON kepada Allah. Agar tatkala malaikat maut menyapa , maka itulah kondisi terbaik kita. Kita tutup lembar kehidupan ini dengan sebuah kebaikan. Tentu kita sangat ingin disambut oleh Allah pada saat ruh ini datang ke haribaannya.. maka Allah berkata :

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Semoga Allah melembutkan hati kita dalam menerima teguran-teguranNya. Serta mengizinkan kita meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah. Amiin

*Sebuah catatan sekaligus tamparan besar bagi saya sebagai penulis. Dan memohon keridhoannya untuk mendoakan adik kami dan saudara seperjuangan kami Novia Ira Herawati. Pejuang Allah . Agar diampuni dosa-dosanya, dan diterima amal ibadah disisinya. Semoga Allah meridhoinya. Amin ya Rabbal Alamiin.

 

 

  • view 213