Cerita Sang Tukang Kayu

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juni 2016
Cerita Sang Tukang Kayu

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa. Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada."

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

 Cerita ini setidaknya dapat merefleksikan kita tentang bagaimana kita mempersepsikan hidup. Sebuah fase kehidupan yang sebenarnya sangat menegangkan. Karena fase inilah yang menentukan akan dimana letak kita di akhirat kelak. Salah dalam mempersepsikannya, bisa –bisa kita menjadi penghuni neraka . Kita terkadang merasa hidup itu ya biasa saja, bukan sebagai sesuatu yang patut dihargai dan merasa bahwa memang hidup itu hanya sebuah perjalanan. Bukan benar-benar sebuah fase sementara penentu kehidupan abadi di akhirat. Sehingga banyak dari kita yang menjalani kehidupan di dunia asal-asalan. Karena tak menyadari bahwa nanti akan dipertanggung jawabkan dan dibalas setiap perbuatannya. Dan semua perbuatan kita di dunia, adalah untuk kita juga pada akhirnya. Padahal Allah SWT berfirman ;

“ Tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia , kecuali untuk beribadah kepadaKu” ( Adz-Dzariyat : 56)

Bayangkan jika kita benar-benar menyadari makna hidup yang sebenarnya . Dan sudah menyadari dari awal  bahwa tujuan penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada Allah. Bukan yang lain. Tentu disetiap aktifitasnya kita akan berusaha seoptimal mungkin. Mencoba menuliskan tinta terbaik disetiap lembar catatan amal kita. Dan berusaha agar kesalahan itu di minimalisir, karena takut di akhirat kelak akan dibalas.

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Ya, selagi ada waktu, tidak ada waktu terlambat. Mumpung malaikat pencabut nyawa belum ada dihadapan wajah kita. Mumpung nafas masih mampu kita dapatkan. Mari kita perbaiki diri bersama. Membuka lembaran baru , dan focus hidu hanya untuk beribadah kepadaNya. Menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Ingat , jadikan dunia ada di tangan kita, bukan di hati kita. s

  • view 184