Anggap Dia Anakmu

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Juni 2016
Anggap Dia Anakmu

 

Pernah melihat orang yang keras kepala ? Begitu keras kepalanya, beribu nasihat tak masuk ke otak. Sudah diberitahu banyak orang tetap saja begitu.

 

“ Rasanya pengen aku jedotin kepalanya ke tembok “ ujar Qiya. Ia tak tahan dengan binaanya. Luar biasa sakit kepala. “ Udah di kasih tahu berkali kali, setiap konsultasi pasti ngomongin hal yang sama .. terus gunanya curhat ke kita itu ngapain ?“.

“ Iya masalahnya dia tuh, kalo dikasih solusi pasti ngasih pembenaran, dan ngelawan versi dia sendiri. Tpai kalo gak di dengerin malah kita yang dianggap jahat , mau nya apa coba ?” Timpal Nita yang merupakan orang terdekat sang objek pembicaraan.

Qiya tak kuasa harus berbuat apa. Otaknya sudah pusing dengan kelakuan muridnya. Masalahnya kelakukan dari muridnya itu sudah keterlaluan. Bayangkan Qiya, seorang perempuan biasa harus mengurusi seseorang yang usia mentalnya masih  6 tahun. Padahal umurnya 19 tahun. Muridnya dilahirkan dari keluarga broken home dengan ekonomi yang buruk serta lingkungan yang membuat dia besar dengan pribadi negative. Awalnya qiya iba dengannya namun lama kelamaan dia merasa ada yang aneh dengannya, muridnya nampak seperti memiliki dua kepribadian. Serta seringkali mencoba bunuh diri. Tak hanya itu, dibelakang Qiya murid tersebut malah mengumpati Qiya dengan sebutan hewan, dan seringkali berfikir negative tentangnya. Belakangan diketahui dia hendak bunuh diri dua kali.

Dan kesabaran Qiya hampir habis saat muridnya hendak mencoba bunuh dri untuk ketiga kalinya.Saat mengetahui hal tersebut dari teman dekat muridnya , Qiya tak tau harus berbuat apa. Tangannya dingin , dan bibirnya tak kuasa mengumpati muridnya.  “ Dasar begoo….” Ungkapan ini bukan benar-benar umpatan. Melainkan kekesalan qiya akan kebodohan muridny dan kekanak-kanakan muridnya tatkala keinginanya tak dipenuhi.

Ia merenung di masjid. Kesalahan apa yang telah dia lakukan pada muridnya , hingga muridnya tak kunjung berubah. Padahal seluruh harta , jiwa dan waktu , sudah ia korbankan. Semakin dipikirkan semakin rumit dan menjengkelkan. Dan malah bertanya pada Tuhan. “ Ya Allah.. apa salahku  hingga muridnya seperti ini ?”

Benar saja . Allah Maha Baik.

Keesokannya ibu Qiya menelpon , dan semua beres dalam satu kata. “ Bersabar

Anggap dia sebagai anak kamu, meski kamu bukan ibunya.

Ibu itu sosok yang akan senantiasa baik meski anaknya menganggap ia jahat. Akan selalu sayang meski anaknya berbuat jahat padanya. Ibu yang selalu mendoakannya meski anak tersebut acuh dengannya. Ibu akan selalu begitu, selalu baik meski anak tak berbuat demikian”

Qiya terdiam. Iya, mungkin ia kurang sabar. Mungkin ia kurang mengerti apa itu membina, apa itu mendidik. Karena membina itu bukan sekedar proses transfer ilmu. Namun kita sedang mengonstruksi kepribadian. Kita sedang menghancurkan rumah yang dulu usang dalam jiwanya dan membangun istana indah agar semua orang terpesona dengannya.

Dan kau tahu esok seperti apa ? Muridnya berubah 180 derajat. Murid yang selama ini membuatnya hamper frustasi, berubah menjadi sosok yang berbeda. Dan mengamallkan seluruh nasihat yang pernah ia berikan. Benar bukan ? ini bukan tentang ilmu yang kau berikan saja. Tapi tentang kesabaran dan jiwa seorang ibu dalam dirimu nak.

 

Note :

Cerita ini nyata, benar-benar terjadi . Nama dan redaksi percakapan sedikit diubah.

Dilihat 65