Terpaksa berbuat kebaikan, salahkah ?

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Motivasi
dipublikasikan 23 Mei 2016
Terpaksa berbuat kebaikan, salahkah ?

Disebuah praktikum yang menjenuhkan.

“ Oke , silahkan ada dari perwakilan kelas yang mencarikan jas lab untuk temannya yang tidak membawa jas lab” Ujar sang assiten praktikum. Maklum hampir setengah dari kami tak membawa jas laboratorium.

Tiba-tiba seseorang mengubah suasana menjadi mendung. “ Ah… ngapain peduli sama orang. Orang lain juga gak peduli sama kita.. cari sendiri-sendiri aja lah “. Dan berkat kata-katanya yang ajaib, kami berpencar berkeliling laboratorium lain mencari jas lab, barangkali ada yang tersisa. Padahal jika ada yang mengordinir, tentu waktu kami tidak akan terbuang lama.

Ajaib dan Menggelikan.

Kita seringkali begitu. Begitu merasa rugi ketika memberikan kebaikan kepada orang yang tak memberikan kebaikan pada kita. Begitu merasa beruntung dan menang saat kita hebat pada mereka yang tak berbuat baik pada kita.  Aku benar-benar merasa heran dengan salah satu tabiat ini. Jujur aku pun masih suka begitu. Merasa rugi untuk sebuah kebaikan yang kecil. Merasa bahwa keburukan harus dibalas keburukan. Dan berbuat baik hanya tatkala kebaikan itu menyapa diri kita terlebih dahulu.

Padahal jika difikir, apa ruginya kita peduli dengan orang yang tak peduli dengan kita ? Apakah rasa cinta dalam hati berkurang ? Apakah kita menjadi miskin ? Tentu tidak. Justru itulah kekayaan hati.

Apa ruginya kita tersenyum pada orang yang sering cemberut dengan kita ? Apakah lantas wajah kita menjadi buruk rupa ? Atau kehormatan kita menjadi turun ?Justru  kupikir itulah yang disebut  kerendahan hati. Bahkan jika senyum itu kita berikan secara terpaksa, apakah itu sebuah keburukan ? Kufikir tidak. Justru itu adalah kebaikan. Dan pangkal kemenangan diri kita. Sebab kita berhasil menekan ego kita dan memaksakan diri berbuat kebaikan meski itu pahit dan menyebalkan.

Aku , mungkin dia dan kamu seringkali juga lupa. Bahwa tak perlu ada alasan untuk berbuat kebaikan. Sehingga setiap hendak berbuat kebaikan , harus selalui diawali dengan pertimbangan panjang dan sok logis.

 “ Ah ngapain bantuin dia, dia juga suka ngebiarin aku susah”

“ Ah ngapain nanyain kabar dia, kalo ketemu aku juga dia asal lewat aja “

“ Ah ngapain ngebaikin dia, dia aja suka ngomongin aku dibelakang”

Huft.. hampir saja diri ini terjebak pada hal itu. Karena perasaaan itu sangat samar dan kadang tak sadar. Maka, mulai sekarang mari kita ubah cerita itu. Jangan biarkan perasaan semacam itu kita pelihara. Mungkin dimata manusia kebaikan itu tak dihargai, tapi dimataNya percayalah semua itu dihargai dengan sangat tinggi.

Sebab terpaksa berbuat kebaikan bukanlah sebuah kesalahan. Justru sebuah kesalahan, saat tak merasa terpaksa berbuat kesalahan. Aku, kamu , kita pasti bisa. Dari hati yang perhitungan menjadi hati yang dermawan.

"Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya  Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula" [Surah az-Zalzalah : 7-8]

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah niscaya Allah akan melipatgandanya."[ Surah an-Nisaa' : 40]