Seberapa sekulerkah kita ?

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Mei 2016
Seberapa sekulerkah kita ?

Istilah sekuler kini bukanlah istilah yang asing lagi ditengah-tengah masyarakat. Istilah biasa diterjemahkan sebagai memisahkan agama dari kehidupan ini , perlahan mulai membumi di berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ulama hingga masyarakat biasa. Kampanye serta dakwah yang menyeru kepada masyarakat agar menjauhi gaya hidup yang sekuler pun kini sudah tak asing lagi. Istilah ini sering dipakai oleh berbagai kalangan dalam aktifitas dakwah.  Mulai dari kalangan mahasiswa,  rohis, maupun ulama dengan penuh semangat menyadarkan bahwasannya kehidupan kita sebagai seorang muslim haruslah sesuai dengan Islam yang Kaffah. Bukan sebagai muslim KTP melainkan muslim yang menjadikan Islam sebagai nafas kehidupan.  Serta mengaplikasikan seluruh syariat Allah tanpa memilah-milih mana yang menguntungkan atau tidak.

Namun, tanpa akhirnya mengurangi sedikitpun semangat beramar ma’ruf nahi munkar kepada orang-orang sekitar,  nampaknya kita perlu me ’refresh’ makna sekuler itu pada diri kita sendiri. Sebab terkadang isitilah sekuler seringkali disandingkan dengan  segmen kehidupan yang besar. Misalnya, seseorang yang disatu sisi melakukan riba, sedangkan dia tetap sholat maka ia disebut sekuler. Atau misalnya negeri ini yang dulu tidak memperbolehkan polwan untuk berhijab maka itu disebut sekuler. Namun apakah sekuler selalu terkait dengan masalah yang besar ? Atau jangan-jangan bagi kita yang sudah faham tentang bahayanya ide sekuler, rupanya tanpa sadar sering melakukan praktik sekularisasi diri ala pegiat Islam.

Sebagai contoh, seringkali saat hendak  menghandiri kajian atau mentoring , maupun rapat organisasi, kita senatiasa mengusahakan diri untuk tepat waktu. Namun mengapa pada saat kuliah ataupun mengirimkan tugas/amanah justru lalai dan sering terlambat ? Padahal, bukankah menetapi janji/akad, serta tepat waktu merupakan sebuah kewajiban kita sebagai seorang muslim ? Atau misalnya pada saat bertemu dengan dosen berusaha untuk tampil sebaik mungkin, kuliah dengan pakaian terbaik serta belajar sebelum perkuliahan dimulai. Namun pada saat kajian keislaman ataupun mentoring, rasanya jarang mempersiapkan baju serta persiapan terbaik. Bukankah keduanya merupakan majelis ilmu ? Dimana keduanya memiliki adab menuntut ilmu yang sama serta kedudukan yang sama di mata Allah . Atau misalnya kepada sahabat kita begitu dekat, memberikan hadiah, bahkan sangat peduli ketika ia sakit. Namun apakah kita juga mempraktikan hal yang sama pada orang tua kita ? Pada adik ataupun saudara-saudara  kita ? . Inilah yang disebut sebagai sekulerisasi ala pegiat Islam.

 Bukankah dengan tidak kaffahnya kita dalam menjalankan syariat Allah, itu menandakan kita telah melakukan sekulerisasi kecil-kecilan ? Ya, menganggap sebagian aktifitas harus sesuai dengan Islam, namun pada yang lainnya tak mempedulikan pandangan Allah akan aktifitas tersebut. Ada juga yang begitu kencang dalam aktifitas dakwahnya, namun kuliah terbengkalai. Atau barangkali sebaliknya .

Inilah sebuah fenomena nyata yang hari ini muncul,  khususnya oleh para muslim yang mengaku sebagai pegiat Islam, tholibul ilmi maupun pengemban dakwah. Ya, berusaha mengikatkan perbuatan agar sesuai dengan syariat Allah, namun lalai dengan perbuatan yang lain. Seolah terdapat pengklasifikasian bahwa ada perbuatan yang duniawi, ada juga perbuatan yang  non duniawi. Padahal dalam Islam, segala perbuatan kita harus dipandang sebagai sebuah perbuatan yang akan diminta pertanggung jawaban. Tentu ini menjadi evaluasi besar bagi diri kita, bahwasannya menjadi seseorang yang kaffah haruslah disertai dengan pemahaman yang utuh. Serta tidak mengabaikan suatu perilaku sekecil apapun.

Menjadi seorang pribadi yang kaffah ditengah lingkungan hari ini yang sangat kental dengan budaya sekuler serta liberal memang bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan berarti hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin. Asalkan diri kita senantiasa berusaha menambah ilmu keislaman, bergaul dengan orang-orang mungkin, serta ikut menyebarkan risalah Islam dilingkungan sekitar. Dan tentunya evaluasi ini  bukan malah membuat kita berhenti menyeru masyarakat agar meninggalkan gaya hidup sekuler. Justru harus menjadi cambuk bagi setiap kalbu kita agar berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan setaraf dengan kepribadian para sahabat terdahulu. Amiin. Semangaat menebar kebaikan !

  • view 69