Munafik yang terdidik

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Mei 2016
Munafik yang terdidik

Pendidik. Mendidik. Terdidik.

Jujur saja kadang aku agak muak mendengar kata-kata ini. Meski aku calon seorang guru.

BUkan karena kata-katanya yang menjijikan.

Tapi terkadang dunia ini terlalu munafik dan berbohong kepadaku.

Mahasiswa. Seorang yang terdidik, mengeluarkan uang jutaan rupiah per semester dan nyatanya tak mampu mendidik dirinya sendiri. Sekedar jujur mengerjakan soal ? Rasanya sangat sulit.

Namun anehnya mereka mengeluh tatkala koruptor ini ada dimana-mana. Bukankah mereka koruptor ?

Mengaku terdidik. Namun sekedar mendidik diri untuk tak berpakaian terbuka saja susah. Apakah sulit untuk membedakan paha wanita dan paha ayam ? Aku sampai tak habis piker, mengapa paha mereka lebih murah dibanding paha ayam. Aku tak mengerti, dunia ini sudah terbalik.

Lantas untuk apa berpendidikan ? Menjaga moral. Membina diri ?. Membentuk budi ? Atau hanya sekedar mencari pekerjaan dan penghidupan diri ?

Kita kadang munafik kawan. Berbicara tentang bangsa ini, tapi lupa cara menjadi terdidik. Padahal berbicara tentang bangsa bukan pekerjaan biasa. Bukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang lapar perutnya. Bukan pula yang kosong hatinya. Tapi ialah orang yang lapar akan kebangkitan , dan kosong akan kemunafikan. Mereka berhati jujur dan ikhlas. Memikirkan dengan cinta dan meminta pertolongan Tuhannya.

Kita juga kadang lupa berapa harga semua kehormatan dan ilmu. Menganggap semua itu berada pada tumpukan kertas penentu kelulusan yaitu skripsi. Aku tak habis pikir, mengapa sampai ada seseorang membunuh hanya karena tumpukan kertas itu. SADARLAH wahai pemikir, itu hanyalah tumpukan kertas. Bukan kehormatanmu.

Entah apa rasanya. AKu malu , aku sedih, aku gembira, aku kecewa.

Semua yang kuharapkan mungkin harus kujadikan abu, lantas kubangun semuanya dari aw.al

Karena aku tak ingin hidup dalam sistem seperti ini, dalam dunia munafik seperti ini.

  • view 72