Kau hanya butuh cinta

Latifah Nurhidayah
Karya Latifah Nurhidayah Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 April 2016
Kau hanya butuh cinta

Minggu ini adalah minggu yang kupikir sangat hebat jika bisa melewatinya. 5 hari kuliah aku dihajar oleh tugas, ujian dan simulasi mengajar. Ujian dan tugas ? Tak masalah. Bukankah kita biasa melewatinya bersama ? Kita sudah hafal bagaimana bermalam dengan secangkir kopi dan tumpukan itu.

Tapi mengajar ? Tidak. Aku belum pernah melakukannya dengan kelas sebesar ini.

Semua ku persiapkan dengan baik , RPP ( Rencana pelaksanaan pembelajaran ) serta media pembelajaran aku persiapkan dengan baik. Persiapan untuk mengajar di 2 hari selanjutnya pun aku persiapkan dengan baik. ?Entah apa yang direncanakaNya untuk ku , namun laptop kesayangannku mati? 9 jam sebelum aku mengajar. Tak bisa dihidupkan.

Aku memutar otak dan segera menyiapkan semuanya dari awal dan membuat meia pembelajaran. Sambil menyiapkan , air mata ku mengalir meratapai kejadian bodoh in. ? Bagaimana bisa di saat seperti ini ia mati ? ?Umpatku. Marah , sedih , gugup tak karuan menyatu bak santapan lezat yang kau sebut dengan karedok. Hampir hamper aku membanting barang untuk meluapkan emosiku. Kau harus tahu , menyiapkan pengajaran untuk satu pertemuan tak semudah menggoreng bala-bala.

Jantungku berdegup kencang. Bagaimana jika nilaiku buruk ? Bagaimana jika simulasi mengajarku gagal ? AKu tidak ingin mengulang di mata kuliah ini.

Di tengah kekacauan pikiranku, aku tertegun. Seolah seseorang membisikan di telingaku? ? Lakukanlah dengan cinta ?. Ya dengan cinta. ? Lakukan dengan cinta ???. Ya. Cinta . Itulah kuncinya. Bahkan jika kau tak punya modal apapun dalam mengajar, setidaknya kau punya cinta untuk mereka.

Aku pun berfikir, bukankah ini simulasi mengajar ? Mengapa aku tak menggunakan rasa cintaku saat mengajar ? Mengapa aku harus takut ? Bukankah mengajar sesungguhnya menggunakan cinta, mengapa tak aku selipkan saat simulasi ?

Terima kasih pada bisikan itu. Aku tersenyum dan bisa melewati semuanya. Bahkan semua diluar ekspektasiku.?

Begitu pun pada simulasi mengajar di hari berikutnya. Bisikan itu muncul lagi. Dan aku benar-benar menyadari bahwa mengajar adalah cinta.

Adalah tentang bagaimana kau menyayangi anak yang tak pernah kau kenal sebelumnya

Tentang cinta yang mungkin tersalah arti oleh mereka

Tentang kesabaran mendidik para anak-anak umat.

Ini bukan tentang kau yang dipandang sebagai pendidik yang hebat

Tapi tentang mendidik calon orang-orang hebat.

?

Kutegaskan . Apapun dirimu. Perbuatanmu. Lakukan dengan cinta serta hati yang tulus.

Sungguh aku baru memahaminya. Terima Kasih wahai Rabb maha Penyayang. Kau ajarkan aku satu lagi makna dari satu kata yang rumit. Cinta. ?Dan ? terima kasih pada bisikan itu , wahai jiwaku yang telah lama hilang