Terima Kasih, Ayah.. Kini Aku Mengerti

Lasti Hasanah
Karya Lasti Hasanah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Agustus 2016
Terima Kasih, Ayah.. Kini Aku Mengerti

Kamu Bertaqwa? Apa Buktinya?

 

Cinta itu butuh pengorbanan. Apalah arti cinta tanpa kesediaan untuk berkorban tanpa merasa terkorban. Jika keikhlasan masih saja sulit diusahakan, namun lisan tak henti bicara tentang cinta, bisa jadi itu hanya “cinta gombal”. Jenis cinta yang begitu mudahnya diobral tanpa terasa sedikitpun manisnya iman.

            Saudaraku, ketika kita bicara tentang pengorbanan, pada bulan-bulan lepas ramadhan, apa yang terlintas dalam zona pikirmu? Adakah ia mengingat tentang titah ilahi? Tentang perintah berkurban pada bulan haji.

            Kali ini kita akan mencoba berdiskusi dengan hati. Tentang sebuah kisah yang semoga menginspirasi. Teguran bagi kita yang seringkali lupa diri. Lupa untuk bersyukur, lupa untuk menambah syukur, dan lupa untuk mempertahankan syukur. Ambil saja hikmahnya, dan mari tentukan posisi kita dimana cermin itu memantulkan cahaya.

***

Di suatu sore, seorang anak mendekati ayahnya yang sedang membaca koran dan memanggilnya…“Ayah.....! Ayah.....!” kata Sang Anak.

“Ada apa?” tanya sang ayah.

“Aku capek, Ayah.....? Sangat capek! Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan mencontek. Aku mau mencontek saja, ah...!” gerutu sang anak kepada ayahandanya.

“Ayah.....! Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … Aku capek......Ayah.....” keluhnya di waktu yang lain.

“Ayah.....! Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku ingin jajan terus! …Ayah....” lagi-lagi ia mengeluhkan hal lainnya.

“Ayah....! Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…” katanya lagi bersungut-sungut.

“Ayah.....! Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku tanpa berpikir aku suka atau tidak,” katanya menghela nafas panjang.

“Aku capek, Ayah.....! Aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang. Aku ingin bersikap seperti mereka, Ayah !” Sang Anak mulai menangis.

Melihat kejadian itu, kemudian Sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, “Anakku, ayo ikut Ayah. Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.”

Lalu sang ayah menarik tangan anaknya kemudian mereka pergi berdua menuju suatu tempat, dengan menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu Sang Anak pun mulai mengeluh, “Ayah mau kemana kita..?? Aku tidak suka jalan ini! Lihat, sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri, badanku dikelilingi oleh serangga, berjalan pun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini Ayah,” Sang Ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah. Airnya sangat segar. Ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang. Tempat yang sangat nyaman dan menyenangkan.

“Waaaah… tempat apa ini, Ayah? Aku suka! Aku suka tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau. Sang Ayah memandangi anaknya dengan penuh kasih sayang.  

“Kemarilah Anakku! Ayo duduk di samping Ayah,” ujar Sang ayah. Lalu Sang Anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

“Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi, padahal tempat ini begitu indah…?” tanya ayahnya, masih dalam senyum yang menenangkan.

“Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?” tanya Sang Anak ingin tahu maksud ayahnya.

“Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi. Padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu” jelas Sang Ayah.

“Ooh… berarti kita orang yang sabar ya, Yah? Alhamdulillaah,” ujar Sang Anak ikut tersenyum tak kalah senangnya.

“Nah, akhirnya kau mengerti?” tanya Sang Ayah.

“Mengerti apa? Aku tidak mengerti. Maksud Ayah apa?” Sang Anak bertanya karena memang ia belum sepenuhnya mengerti maksud Sang Ayah.

“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar. Butuh kesabaran dalam bersikap baik. Butuh kesabaran dalam kujujuran. Butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan. Seperti jalan yang tadi J. Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu? Kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu? Kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga? San akhirnya semuanya terbayar, kan? Ada telaga yang sangat indah di sini. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa anakku. Oleh karena itu, bersabarlah anakku,” penjelasan Sang Ayah kali ini cukup mampu menggali alam pikir Sang Anak.

“Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar, kan,” ucap Sang Anak.

“Ayah tahu itu. Oleh karena itu, ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku, ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Seorang anak muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingmu. maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tahu akhirnya, kan?”

” Ya ayah, aku tahu. Aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih, Ayah. Aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya. “Kamu bertakwa, apa buktinya? Jadi, mantap kan untuk menggunakan uang tabunganmu guntur berkurban tahun ini?”

“Iya, Ayah. Bismillaah. Semoga ini bisa menjadi bukti taqwaku yang akan mengantarkanku ke surga Allah yang lebih indah daripada telaga ini.

 .......................................

Banyak hal yang tak bisa ku uraikan tentangmu, Ayah.. Yang pasti aku merasa sangat beruntung menjadi putrimu.

Terima kasih atas segenap ilmu yang kau sampaikan, yang kau contohkan.

Yang tanpa memaksa aku harus ini dan itu, begini dan begitu lalu jadilah aku yang seperti ini.

Karena doamu dan juga ibu, aku merasa sangat beruntung bisa mengenal indahnya Islam dalam segenap perjalanan hidupku.

Dalam lorong-lorong gelap yang kadang terasa romantis dan mengharukan.

 

 

  • view 409