IBUKU BERBEDA

La Ode Reskiaddin
Karya La Ode Reskiaddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juli 2016
IBUKU BERBEDA

Ibuku Berbeda

(Diadopsi dari cerita rakyat Wakatobi “Indo-Indo Diyu”)

Oleh la Ode Reskiaddin

 

Pada jaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga di salah satu desa di pesisir pantai yang indah dan elok. Suasana pedesaan yang kental akan tradisi yang masih terjaga kearifan lokalnya. Puluhan ikan kering terpajang di setiap pekarangan rumah-rumah warga menghiasi kampung ini dengan corak aroma ikan kering yang begitu pekat di hidung.

Pagi itu langit agak kusam. Angin berhembus begitu kencang, satu isyarat bahwa laut sedang enggan berbagi. Ombak yang bergulung-gulung mengakibatkan aktifitas warga untuk melaut terhambat. Sebagian besar keluarga menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah. Hal sama dilakukan oleh  keluarga Bapak La Anto. La Anto memiliki istri bernama Suriati, yang biasa di panggil Ati, serta dua orang anak laki-laki. Anak pertama berumur 12 tahun bernama Eki dan anak yang kedua masih balita. Pada saat itu, Sang ayah berencana untuk berpergian, ntah kemana. Namun sebelum ia pergi, terlebih dahulu ia ke dapur untuk mengambil seekor ikan yang tersisa untuk di keringkan.

“Ati, Bapak mau pergi dulu?” Teriak Sang Ayah dengan suara bernada keras

“Iya Pak, Bapak mau ke mana?”

“Kalau bapak mau pergi tidak usah banyak tanya, jaga saja anakmu itu baik-baik.”

“Maaf Pak” jawab Ati sambil menundukkan kepalanya

“Oh iya, ikan yang saya jemur di atap rumah jangan di bawa masuk jika tidak hujan dan jangan sekali-kali di makan.”

La Anto pun berenjak pergi dan sang istri mengikutinya hingga depan pintu sambil menggendong balitanya. Di waktu yang sama, Eki sedang tertidur nyenyak diatas tikar bambu . Saat di depan pintu rumah La Anto berpesan lagi kepada istrinya

“Saya Ingatkan lagi, jangan makan ikan itu sebelum saya pulang, sekalipun siapa yang memintanya jangan diberi” Kata La Anto dengan nada tegas.

“Iya, saya pasti ingat pesan bapak”.

Setelah Sang ayah pergi. Eki terbangun dari tidurnya. Suara gemuruh dari perutnya begitu nyaring terdengar. Eki pun beranjak ke dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa dimakan. Namun hanya nasi putih yang begitu kering yang ada di atas meja.

“Ma.ma…. mama…” Teriak Eki

“Iya Nak, ada apa? Baru bangun sudah teriak-teriak”.

“Mama saya lapar, mana ikan tadi yang satu ekor? saya mau makan itu, tidak mau kalau hanya nasi saja.”

“Ikan tadi bapakmu yang jemur di depan nak”. makan nasi saja dulu.

“Saya tidak mau, saya mau makan ikan mama” Jawab Eki sambil menangis.

Ati pun berusaha menenangkan anaknya dengan memberikan secangkir teh sebagai pengganti ikan.

“Nak, ini mama buatkan teh. Enak kalau dicampur dengan nasi” kata ibu sambil merayu

“Tidak…tidak…Saya ingin ikan. Harus ikan!”

Eki mengamuk dan tak berhenti menangis. Ibunya pun berusaha menenangkannnya dengan berbagai macam cara agar anaknya bisa diam dan tenang. Namun, usaha ibu pun tak berhasil. Tanpa berpikir panjang lagi, ibu mengacuhkan pesan suaminya. Ati pun mengambil pisau untuk memotong sedikit ikan yang di jemur oleh suaminya untuk diberikan kepada anaknya. Akhirnya, usaha ibu pun berhasil untuk menenangkan Eki. Namun, rasa bersalah dan takut kepeda suaminya melekat dalam pikirannya.

Suasana rumah yang tadinya ribut dengan suara tangisan, kini terasa tenang dan yang terdengar hanya suara alat tenun yang sedang dikerjakan oleh Ati. Ati menghabiskan hari-harinya untuk membuat kain tenun di belakang rumah yang berhubungan langsung dengan laut yang begitu indah.

Setelah beberapa jam meninggalkan rumah, La Anto pulang dengan membawa keringat dan raut wajah yang begitu capek dan lapar. Keranjang yang ia bawa tadi pun diletakkan begitu saja di atas meja ruang tamu dan bergegas untuk mengambilkan ikan yang telah ia jemur tadi. Melihat ikannya yang sudah terpotong membuatnya semakin marah.

“Atiii… Teriak La Anto sambil berjalan menuju dapur.

“Iya Pak, saya lagi menenun sarung di belakang”

“Siapa yang memotong ikan ini?”

“Sa…Sa..Saya Pak” Maaf!. Ucap Ati dengan suara halus dan merasa ketakutan

“Kenapa kamu tidak mendengar pesanku tadi?”

“Saya dengar pak. Tadi itu Eki menangis ingin meminta ikan. Saya berusaha mencari pengganti ikannya bapak, tapi ia tetap mengamuk dan menangis. Dia tidak mau yang lain selain ikan”.

“Tetap saja kamu tidak menghiraukan amanahku”.

“Maaf Pak. Sekali lagi maaf Pak. Aku sungguh iba melihat anak kita bercucuran air mata hingga matanya bengkak. Ibu macam apa aku kalau hanya melihat dan membiarkan anaknya menangis pak.

Rasa lapar, capek, serta amanahnya diabaikan oleh istrinya, amarah La Anto memuncak. Muka memerah, wajah mengkerut dan serasa asap keluar dari telinganya. Ia kemudian menarik kayu penjepit sarung yang terdapat pada alat tenun.

“Bapak… maafkan saya dan ibu?  saya yang memaksa ibu tadi..Teriak Eki

“Kamu sama saja dengan ibumu”

“Bapak. Maafkan aku.. aku tak akan mengulangi lagi”

“Kamu jangan jadi anak cengeng”

Karena amarahnya yang tak terhenti, ia pun memukuli istrinya. Alhasil, Ia  terheran-heran melihat badan istrinya yang hilang didepannya. Konon katanya sekali pukulan keras ditubuh Ati akan terbelah menjadi dua bagian, bagian pertama ke laut dan bagian yang lain lagi ke langit.

Tanpa memperhatikan kedua anaknya yang sedang menangis. Sang ayah pun pergi bergegas mengambil barang-barangnya. Tak sekata pun yang diberikan kepada anaknya. lalu ia meninggalkan rumah dengan penuh amarah.

“uu..uuu.uuu.. maa..maaa…” Suara tangisan sang balita

“Dik, jangan nangis” Rayu sang kakak

Melihat adiknya yang terus-menerus menangis, sang kakak tidak tega melihatnya. Ia pun menggedongnya dan berusaha mengajak bermain seraya menenangkannya. Walau sebenarnya Eki pun merasa sedih dengan kejadian tadi. Ia kebingungan mencari cara menenangkan adiknya. Meraka pun keluar bermain menuju pantai.

“Dik, jangan nangis lagi. kakak janji supaya kamu bisa bertemu mama”

“Lihat itu ada burung terbang di atas

“Itu ada banyak pohon, ada kapal” ” rayu Eki yang terus berjalan ke pesisir pantai.

“ Kakak sayang adik. Jangan nangis lagi yah.” Sambil mencium sang adik

Namun sang adik masih terus menangis sambil memanggil ibunya. Eki pun tak henti berusaha untuk menghiburnya hingga sampailah mereka ditepi pantai. Mereka pun duduk beristrahat di atas batu besar dengan bersandar pada sebatang kayu yang cukup besar. Eki menggendong dan memeluk adiknya yang sedang menangis. Kata-kata harapan yang keluar dari mulut Eki terbentuk begitu saja menjadi sebuah alunan lagu yang begitu merdu. Ia pun bernyanyi.

 

Ibu ibu ibuku sayang

           Datanglah susui adikku               

Pada batu yang bentuknya seperti payung

           Pada kayu hanyut yang terapung-apung

 

Walaupun Eki telah menyanyikan lagu tersebut. Adiknya masih tetap menangis. Tapi, kakaknya pun tetap bernyanyi berkali-kali berharap ibunya mendengar dan datang kepada mereka. Tak berapa lama, terlihat dari kejauhan terdapat gelembung-gelembung air dari sisi badan air laut. Eki beranggap kalau itu hanya gelembung biasa terjadi, tapi ternyata terlihat sesosok manusia yang sedang berenang mengarah ke tepi pantai tempat mereka duduk.

“Dik, ada sesorang yang datang dari laut. “ bisik eki ke telinga adiknya

“Ya Tuhan, lindungilah aku dan adikku dari gangguan orang itu.” Batin Eki

Setelah ia memperhatikan dengan seksama ternyata manusia itu adalah ibunya. Dengan perasaan senang, kaget dan terharu yang ia rasakan bercampur aduk, ia menuangkan semua dengan meneteskan air mata

“Dik, itu ibu. Ibu kita datang”

“Ibu… Ibu… Ibu…..” Eki berlari menuju ke ibunya

“Ibu dari mana saja? Aku dan adik mencari-cari ibu kemana-mana”

“Maafkan ibu nak karena sudah telah buat kalian khawatir.

“Aku senang bisa lihat ibu, adik menangis terus sepanjang hari mencari ibu. Ayah meninggalkan kami berdua.

“Ayah kamu kemana? Jangan marah sama ayahmu yah nak. kamu fokus saja jaga adikmu. Mari ibu susui adikmu nak. Ucap ibu sembari mengambil anaknya.

“saya tidak tahu ayah kemana. Iya bu. aku janji akan menjaganya.

Dengan ekspresi yang masih terheran-heran melihat perubahan yang terjadi pada ibunya. Eki pun penasaran ingin mengetahui yang terjadi pada ibunya.

“Bu, boleh aku bertanya sesuatu?

“Iya. boleh . apa yang kamu mau tanyakan nak.”

“kenapa badan ibu bersisik?

“Ibu juga tidak tahu kenapa badan ibu bisa bersisik.

“Ibu akan tinggal sama kami lagi kan? Ibu tidak meninggalkan kami lagi kan? Aku akan kesepian kalau tidak ada ibu. Ucap Eki dengan ekspresi sedih

Sang ibu hanya tersenyum dan terdiam mendengar pertanyaan anaknya. Setelah anak tersebut selesai disusui hingga tertidur. Lalu ibunya mengembalikan anak bungsunya ke gendongan Eki.

“Anakku sayang, esok hari kalian berdua tak usah lagi datang kesini yah”

“Kenapa ibu melarang kami datang menemui ibu? Tanya La Eki sambil menangis.

 “Sisik yang menempel di tubuh ibu akan semakin banyak nak, sedikit hari lagi saya akan berubah menjadi ikan seutuhnya.”

“Iya bu”

Kemudian Eki memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang. Tidak berapa lama ibunya pun pamitan kepada anakknya. Eki menatap ibunya yang berjalan kembali menuju ke laut dengan bertuturan air mata. Setelah ibunya tersebut sudah tidak tampak, maka kedua anak tadi bergegas pulang karena matahari tidak lama lagi terbenam. Saat tiba dirumah, Eki melihat rumahnya yang begitu berantakan akibat kejadian tadi. Ia pun merapikan barang-barang yang berhamburan. Semua pekerjaan yang biasa dilakukan ibunya, ia yang menggantikan aktivitas itu. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan Eki menjalankan semua itu.

Malam itu dibawah bulan purnama yang terang benderang, suasana rumah yang biasanya sedikit ribut dengan ocehan ayah dan suara nyanyian ibu, kini menjadi sunyi senyap. Eki memandangi adiknya yang sedang tertidur nyenyak sembari mengelus-elus rambut halus adiknya.

“Dik, kita harus sabar dan ikhlas menjalani kehidupan ini”

“Kakak akan berjanji menjagamu sampai kamu dewasa nanti”

“Kamu harus kuat yah”

“Mimpi indah adikku” Kata La Eki sambil mencium dahi mungil adiknya.

La Eki pun ikut tertidur di sebelah adiknya.

 

***

 

Suara mesin perahu nelayan mengiringi kesunyian di subuh itu. Angin hanya sepintas tapi begitu dingin terasa menembus pori-pori kulit. Tak lama berselang, corong Masjid di kampung kami mulai memanggil yang menandakan fajar telah tiba. Eki pun terbangun dari mimpi indahnya. Ia pun melaksanakan kewajibannya sebagai orang muslim dirumahnya sendiri.

Cahaya matahari yang menyilauakan dan begitu mencolok di mata, menerangi setiap sudut rumah kami. Eki yang saat itu sedang memasak bubur mendengar suara panggilan adiknya yang telah terbangun karena kelaparan. Ia pun segera berlari mengambil adiknya untuk memberikannya makanan dan memandikannya.

“ Waahh, adikku udah bangun yah!”

“Mam.. mam..” Ucap Adik dari mulut mungilnya

“Mam!! kamu sudah lapar yah.. kakak sudah masakan bubur buat kamu” Sahut Kakak dengan tersenyum sambil menggendong adikknya.

Setelah mereka makan bersama, mereka pun bermain.

 

Sinar matahari begitu terang memancar, tepat di atas kepala, panasnya serasa menembus ubun-ubun. Di tambah kerasnya suara adik yang begitu menusuk di telinga. Entah kenapa saat itu adik menangis begitu kencang. Eki berpikir kalau adiknya ingin bertemu ibunya. Namun, Eki mengingat pesan ibunya kemarin untuk tidak menemuinya. Berbagai cara yang Eki lakukan untuk mendiamkannya, tapi tetap saja ia menangis. Mengacuhkan pesan ibu nya, Lalu sang kakak kembali membawa adiknya pergi ketepi laut, Ia menggendong dan sesekali mereka berjalan beiringan. Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di tepi pantai dan mereka kemudian duduk dibatu besar tempat mereka menanti sang bunda  kemarin. Di tempat tersebut kemudian sang kakak mendendangkan lagu yang sama sebagai isyarat untuk memanggil ibunya

 

Ibu ibu ibuku sayang

           Datanglah susui adikku               

Pada batu yang bentuknya seperti payung

           Pada kayu hanyut yang terapung-apung

 

Ia menyanyikan adiknya, setelah dua hingga tiga kali lagu tersebut diulang, tidak lama kemudian dari arah laut tampak terlihat oleh mereka busa air yang disertai oleh sedikit gelombang seperti yang mereka saksikan kemarin. Tatkala ibunya menampakkan tubuhnya, kedua anak tersebut kaget, karena sisik yang menempel di tubuh sang ibu semakin banyak.

“Ibu, maafkan saya karena tidak mendengarkan kata ibu kemarin. saya tidak tahu bagaimana lagi cara menenangkan adik. Ia menangis terus-menerus” Ucap Eki

Lalu kemudian anak tersebut digendong, ditimang, dan dicium oleh bundanya.

“Anakku, mungkin ini yang terakhir kalinya ibu menyusui adikmu karena ibu sebentar lagi menjadi ikan sepenuhnya. Jadi, cari lah cara lain buat adikmu tenang”

“Iya bu, saya akan berusaha mencari cara lain”

Tak lama setelah menyusui anaknya, anaknya pun kembali tertidur di gendongan ibunya. Setelah selesai ia memberi susu, sang ibu kemudian memanggil kakaknya dan berpesan kembali agar besok tidak datang lagi menemuinya. Kemudian ibunya kembali ke laut dalam sedangkan kedua anak tadi kembali pulang.

***

 

Hari-hari telah berlalu, saat itu sang adik kembali menangis memanggil-manggil ibunya, karena tak kuasa melihat adiknya yang terus menangis, kemudian ia memutuskan untuk mengantar kembali adiknya ke tepi pantai berharap ibunya datang, walaupun ia tahu kalau ibunya tidak akan datang lagi karena tubuhnya sudah menjadi seekor ikan. setelah tiba dibatu besar sambil membelai rambut adiknya kemudian sang kakak kembali menyanyi.

Namun hingga sekian kali ia bernyanyi ibu yang dinanti tak kunjung datang. Dengan kebesaran hati yang dimiliki Eki, ia pun mengikhlaskan ibunya yang berubah menjadi seekor ikan duyung.

“Tuhan, jagalah ibuKu dilautan yang begitu dalam dan gelap”

“Terangilah setiap langkahnya”

“Jadikan air mata kami ini sebagai obat kerinduan kami pada ibu” batin La Eki

Karena adiknya tersebut menangis terus, maka di gendonglah  anak tersebut lalu ia berjalan meninggalkan tepi pantai. Dari kejauhan ibunya yang sudah menjadi ikan melihat kedua anaknya yang berjalan meninggalkan pantai itu. Kaki ibunya sudah menjatu membentuk ekor, badannya penuh dengan sisik yang berkilau, kedua tangannya membentuk sirip yang besar, dan kepalanya membesar dan membentuk moncong ikan yang begitu besar. Terdengar suara tangisan dari laut, ibunya pun menangis tak tahan melihat kedua anaknya hidup sendiri. Tak berselang lama, ia pun berenang meninggalkan anaknya ke dasar laut yang begitu gelap.

Eki dan adiknya sudah jauh dari pantai, tetapi mereka tidak kembali pulang ke rumah, mereka berjalan terus jauh meninggalkan kampungnya guna menghibur adiknya agar berhenti menangis. Setelah lama berjalan dan lelah mereka kemudian beristirahat di pondok kayu yang beratap rumbia yang penuh dengan ubang. Setelah melihat sekeliling gubuk itu, ternyata tak ada rumah dan orang-orang. Mereka kehilangan arah dan tersesat. Dari kejauhan tampak oleh mereka kepulan asap api sebesar mayang kelapa. Kemudian dia berpikir untuk menuju ke tempat tersebut, berharap ada seseorang yang dapat menolong mereka

Langit berwarna kuning ke oranges-oranges, matahari sudah separuh menampakan wujudnya, Kelelawar mulai keluar dari sarangnya dan berterbangan di mana-mana. Mereka berjalan menuju arah asap api tersebut. Memasuki hutan larangan yang tak mereka ketahui. Setelah tiba di sumber asap tersebut, mereka bersembunyi di celah-cetah pohon sambil memantau suasana di tempat itu. Dengan ekspresi ketakutan, Eki melihat sosok makhluk besar di sebelah sumber asap itu yang sedang duduk. Sang raksasa yang bernama Gojo itu sudah mengetahui keberadaan mereka. namun dia hanya berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Dia adalah penjaga hutan tersebut.

“Heiiii,,, siapa kalian yang di balik pohon itu”

“Tidak usah bersembunyi di situ, kalian tidak usah takut padaku”

Dengan sedikit ketakutan, Eki dan adiknya berani untuk mendekati raksasa bergigi tajam itu. Kemudian mereka disajikan makanan oleh Gojo

“Makanlah makanan itu, aku tahu kalian lapar.” Kenapa kalian bisa ke sini? Tanya Gojo.

“Kami tersesat, tak tahu arah jalan pulang. Tadi kami melihat kepulan asap jadi kami berniat ke sini”

Batin Gojo sungguh senang karena sebentar lagi ia mendapatkan makanan yang segar. Suasana hutan yang begitu sepi dan mencekam menambah rasa penasaran raksasa tersebut untuk segera mencicipi daging segar yang mereka miliki.

“Seberapa besar hatimu wahai jagoan kecilku?” Kata Gojo

“Kenapa kamu menanyakan itu?”

“Saya hanya penasaran, karena saya baru melihat makhluk seperti kalian”.

“Oh. Begitu yah. Saya tidak tahu pasti tapi kira-kira sebesar hati kambing” Jawab Eki dengan penuh kepolosan

            “Kalau hati adikmu itu?”

            “Hati adikku mungkin sebesar hati ayam”

“Baiklah, kalau begitu kalian makan dulu, saya akan keluar dulu sebentar mencari kayu bakar tapi kalian jangan ke mana-mana sebelum aku kembali” Tegas Gojo

Akhirnya Gojo pergi tak jauh dari tempat anak itu dan membiarkan mereka. Tak berselang lama, ada makhluk lain yang muncul menemui kedua anak itu. Badan tegak, bulu sayap yang begitu indah menghiasi tubuhnya. Ia adalah manusia setengah burung yang bernama Elang. Ia telah melihat dan mendengar pembicaraan mereka sebelumnya.

            “Hei kalian, tidak kah kalian takut sama raksasa itu?” Tanya Elang

“Kami tidak takut. dia sangat baik karena member kami makan. Siapa kamu?”

“Aku adalah penghuni hutan ini juga. Asal kalian tahu, dia itu sangat jahat, ia hanya berpura-pura baik kepada kalian. ia akan memangsa kalian setelah kembali.”

“Kalau ia seperti itu, Kenapa dia tidak memangsa kami langsung?” Ucap Eki sambil menyeka keringat di dahinya.

“Gojo tadi itu sebenarnya ia pergi mengasah giginya untuk memakan kalian berdua, itulah sebabnya ia menanyakan seberapa besar hati kalian berdua”

“Terus apa yang harus kami lakukan?” Tolong kami Elang.

“Aku akan membantu kalian tapi jika kalian tidak keberatan sudikah kamu memberikan makanan itu untuk saya dan sebagai imbalanya aku akan terbangkan kalian (menyelamatkan kalian)”. Rayu Elang

“Iya, Baiklah”

Setelah Elang tersebut makan, maka kedua anak tersebut naik ke sayap Elang lalu mereka berdua diterbangkan dan hinggap di atas pohon kelapa. 

“Ayo cepat kita pergi, sebelum raksasa itu datang. Kata Elang”

“Baiklah. Terima kasih elang kamu telah membantu kami”

“Itu sudah tanggungjawab saya untuk menepati janjiku tadi. Ayo, naik. jangan banyak tanya lagi”

Beberapa saat kemudian datanglah Gojo, ia muncul dalam keadaan yang tampak lelah. Karena tak melihat keberadaan mereka. wajahnya memerah tampak sangat menakutkan, giginya yang tajam berkilau, liur dari mulutnya pun sudah mulai berjatuhan. Ia mengelilingi daerah kekuasaannya dengan eksperesi marah untuk mencari mereka. Tatkala ia menolek ke atas  pohon kelapa tampaklah kedua anak tersebut sedang bersembunyi.

“Heii kalian, kenapa berani kalian meninggalkan aku begitu saja. aku sudah memberikan kalian makanan tapi kalian mengkhianatiku” Teriak sang raksasa.

“Kamu memberikan makanan itu untuk memangsa kami kan raksasa jelek. Si Elang yang beritahu kami”

“Tidak!! Dia membohongi kalian. Turun cepat.

“Tidak mau!!

Karena Eki mengacuhkan arahan sang raksasa. Gojo sangat marah. Ia menggigit batang pohon kelapa untuk memangsa kedua anak tersebut, dengan sekejap batang kelapa tersebut rebah. Sungguh sangat beruntung ketika rebah kedua anak tersebut terayun dan terlempar ke atas pintu langit. 

Kini mereka pun berada di dunia lain. Mereka pun kebingungan dengan sekelilingnya yang tak nampak seorang pun. Eki pun ketakutan dan memeluk erat adiknya. Dari kejauhan tampak pintu besar dipandangannya, Mereka pun pergi ke pintu itu berharap ada seseorang yang bisa membantu mereka. Ternyata di pintu tersebut terdapat seorang penjaga.

“Siapa kalian? Dari mana asal kalian berdua? Tanya penjaga

“Kami manusia dari bumi. Aku Eki dan ini adikku. Tapi ini dimana?

“Kalian sekarang di dunia langit.

Mereka kemudian menceritakan seluruh kisah hidup mereka. Sang penjaga kemudian mengatakan, kalian tunggu sebentar di sini, saya akan melaporkan keberadaan kalian kepada Raja langit. Kerajaan langit saat itu dipimpin oleh seorang wanita.

“Yang Mulia, diluar ada dua orang anak dari Bumi” Laporan penjaga

“Bawa kedua anak tersebut ke sini.

Lalu kedua anak tersebut dibawa masuk. Karena mengasihi kedua anak tersebut, raja berniat untuk memelihara mereka. Kedua anak tadi merasa gembira, mereka membayangkan jika mereka masih berada dibawa cengkraman Gojo, mungkin saat ini mereka telah dimangsa. 

Hari berganti hari, satu waktu sang Raja sedang santai berbaring, anak tersebut kemudian dipanggil oleh Raja.

“ Wahai anakku, apakah kamu bisa memijat tanganku”

“Iya. saya bisa”

“Kalau begitu mari pijat tanganku”

Selama anak tersebut memijat tangan Raja, tampak bekas luka. Eki pun teringat akan ibunya saat dulu ketika ia menyaksikan ayahnya memukul tangan ibunya. rasa harunya membuat air matanya tak terbendung, tanpa disadari air matanya pun menetes membasahi pundak Raja.

“Apa yang terjadi. mengapa kamu menangis anakku”? Tanya Raja

La Eki terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Raja, namun setelah beberapa kali ditanya, maka anak tersebut kemudian menjawab.

“Aku menangis, teringat ibuku”

“Apa yang terjadi pada ibumu”?

“Sewaktu hidup di bumi, saat bapakku menjemur seekor ikan sebelum ia berpergian. Ia berpesan kepada ibuku agar ikan tersebut jangan diberi kepada siapapun. Tetapi karena saat itu saya sangat ingin makan ikan itu. Awalnya ibu tidak memberiku tapi karena saya tak berhenti menangis, maka ibuku memotong ikan tersebut untuk diberi kepadaku. Ia mengacuhkan pesan ayah demi saya. Saat bapak pulang, ia sangat  marah, lalu ia memukul tubuh ibuku dengan kayu. Akhirnya tubuh ibuku terbagi menjadi dua bagian, yang satu bagian terlempar ke laut dan yang satunya lagi terlempar ke langit. Kalau saat itu aku tidak menginginkan itu maka tidak akan terjadi. Semenjak saat itu, saya berjanji pada diriku sendiri agar tidak menjadi anak yang serakah, saya sungguh menyesal! Raja, saya sangat merindukan ibuku Jelas Eki.

Mendengar cerita tersebut, sang Raja kemudian menangis dan memeluk Eki. Karena ternyata anak tersebut adalah anakknya. Setelah eki dan adiknya mengetahui bahwa raja itu adalahnya ibunya. Akhirnya mereka pun hidup dengan penuh kebahagian. Tak ada lagi tangisan, melainkan senyum manis yang selalu terpancar dari wajah mereka.

****

TAMAT

 

  • view 256