PESONA RAFFLESIA

La Ode Reskiaddin
Karya La Ode Reskiaddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juli 2016
PESONA RAFFLESIA

PESONA RAFFLESIA

 Oleh: La Ode Reskiaddin

 

            Suara gemuruh petir malam itu membuat bulu kuduk Raflesia merinding, angin yang bertiup kencang dan derasnya hujan, ditambah gelapnya kamar akibat padamnya lampu PLN menambah rasa takut yang ia rasa. Ia mencoba menutup mata sembari tidur di kasur yang begitu empuk. Namun, matanya tak merespon apa yang ia inginkan. Rasa takut dan kesal akibat kejadian tadi pagi membuat pikirannya semakin sesak.

            Suasana pagi itu, awalnya begitu tenang namun berubah menjadi sangat emosional akibat sedikit pertengkaran antara Raffles dan ayah.

“Ayah, seminggu lagi pengumuman kelulusan sekolah ku.” Sahut Raffles, begitu nama yang biasa ia di sapa.

“oh iya, ayah tahu pasti kamu akan lulus dengan nilai yang baik. Anak ayah kan pandai.”

“Ayah bisa saja. Doain terus supaya saya lulus ya, ayah.”

‘Doaku menyertaimu nak.”

“Setelah lulus, saya berencana melanjutkan sekolah musik yah. Saya ingin menjadi penyanyi dangdut  seperti ibu.”

“Tidak boleh.. Kamu harus melanjutkan sekolah kedokteran seperti keinginan ayah. Penyanyi dangdut itu terlalu kuno dan masa depannya tidak jelas.”

“Kenapa ayah ngomong begitu, rezeki seseorang Tuhan yang atur jadi ayah jangan ngomong seperti itu.” Ayah Please....!.

“Tidak.. Pokoknya tidak!. Kamu mau dianggap sebagai wanita malam oleh orang-orang, penyanyi dangdut itu dunianya gelap. Lihat ibumu yang meninggalkan kamu dan ayah.”

“Itu bukan salah ibu. Raffles yakin ibu tidak seperti itu ayah”

“Alaaaah kamu itu tak tahu apa-apa. Tidak usah banyak tanya lagi. Kamu mau jadi anak durhaka karena mengacuhkan kata-kata orang tuamu. Masuk ke kamarmu sana, tidak usah bahas itu lagi. Teriak Ayah!”

            Raffles berlari menuju kamarnya. Bunyi pintu yang dibantingnya begitu nyaring terdengar. Tak bisa ia membendung air matanya, hatinya terluka mendengar perkataan ayahnya yang begitu menusuk tajam di hatinya. Dalam batinnya.

“Mungkin cita-citaku menjadi seorang penyanyi dangdut terhenti sampai di sini”. Ibu aku kangen kamu”.

“Tuhan apa yang harus aku lakukan” Batin Raffles

            Hari itu tepat dimana pengumuman kelulusannya, Raffles berjalan di koridor sekolah dengan suasana riuh dan ramai teman-teman sekolahnya. Sebagian siswa kelas XII nampak tegang dan cemas di raut wajah mereka. Entah mereka akan lulus atau tidak. Namun tidak buat Raffles, ia sangat rasa percaya diri dan opltimis bahwa dia akan lulus karena ia merupakan siswi terpintar di sekolahnya.

            Tak lama ia telah mendapatkan amplop yang berisi pengumuman kelulusannya. Saat melihat isi amplopnya, ia sangat senang karena ia benar-benar lulus dengan mendapat nilai terbaik. Tak berselang lama, ia pun bergegas pulang tak sabar membawakan kabar gembira itu pada ayahnya. Dalam batinnya ia mengatakan semoga hasil yang kuraih ini bisa mengubah pendirian ayah untuk tidak memasukkanku ke sekolah kedokteran.

            Setibanya dirumah, ayahnya yang saat itu sedang santai duduk sambil nonton di ruangan keluarga. Raffles berlari untuk memeluk ayahnya.

“Aduh, ada apa ini anakku yang cantik tiba-tiba memeluk ayah seperti itu. Kelihatannya bahagia sekali” Kata Ayah

“Iya dong ayah, sambil memberikan kertas pengumumannya. Hari ini pokoknya aku bahagia sekali.”

“Waaahhh, anakku hebat sekali. Sudah cantik, Pandai pula..” Ayah yang sedang membaca isi amplopnya.

“Heheeheh,, terima kasih Ayah.. Raffles yang sedang memeluk ayahnya. Jadi, aku bisa masuk sekolah musik kan ayah” Rayu Rafles

“Sudah berapa kali ayah harus katakan, kamu harus jadi dokter agar bisa jadi kebanggaan ayah.”

“Tidak mesti jadi dokter kok, bisa membanggakan Ayah.. Ayah tega..! Aku akan buktikan pada ayah suatu saat”

            Suasana yang saat itu seharusnya penuh dengan kebahagian, kini menjadi kesedihan yang ia rasakan. Di atas kasurnya, ia memeluk erat guling dengan isak tangisnya hingga Adzan Dzuhur berkumandang. Ia pun membersihkan seluruh badannya dengan sentuhan air wudhu. Ia ingin ketenangan batin. Ia sangat butuh untuk saat ini, dalam doanya.

 “Ya Allah…Ya Robb, hanya kepadaMu lah aku bersimpuh dan bersujud, hanya kepada-Mu lah aku mengadukan segala prahara hati dan hidup hamba, engkau maha mengetahui, segala apa yang hamba tidak ketahui, engkau zat pembolak balik hati manusia, engkau juga zat yang menentramkan jiwa manusia, serta zat yang menawarkan segala sakit,dan zat yang mengajarkan kami sebuah keikhlasan. Ambillah segala sedih dan gundah hamba Ya Allah..tiupkan lah kekuatan pada hati dan jiwa hamba untuk melewati semua ini. Jinakkan lah segala gejolak yang ada dalam hati dan pikiranku Ya…Robb, aku sangat mencintai ayahku, tapi aku juga ingin mewujudkan impianku…Ya Allah, Tunjukkanlah jalan mana yang harus ku tempuh, aku tak mau menyakiti ayahku karena hanya dia lah satu-satunya dalam hidupku, namun aku juga tak mau menyakiti hatiku sendiri...Ya Allah. hentikan lah segala rasa yang menyesatkan ku ini...Amin Ya Robbal Alamin.” .

            Beberapa bulan kemudian, Raffles akhirnya melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan ternama di negeri ini. Dalam tekanan batin yang harus ia hadapi, ia pun mengikuti segala keinginan ayahnya, walaupun hati kecilnya masih terselip harapan besar untuk menjadi seorang penyanyi.

            Berjalannya waktu yang begitu cepat, Ia pun semakin di sibukkan  dengan semua agenda dan jadwal kegiatan yang bergunung – gunung sehingga ia tidak merasakan kegundahaanya lagi. Namun, saat itu bayangan yang telah lama tertutup kini tiba-tiba muncul dikala ia di ajak oleh salah satu temannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di bidang vokal suara. Tanpa sepengetahuan ayahnya ia bergabung di klub vacal dan selalu melatih suara merdunya, bahkan ia mengisi berbagai acara-acara musik.

            Acara manggung Raffles yang begitu padat, membuat nilai akademiknya yang saat itu ia berapa di semester 4 merosot turun. Pihak akademikpun menginformasikan hal tersebut kepada ayahnya tanpa sepengetahuan Raffles. Ayahnya pun shock melihat nilai-nilai akademik anaknya yang tak seperti biasa. Ayahnya pun berusaha berpikir positif kepada anaknya, mungkin ada masalah yang terjadi padanya atau aku yang terlalu sibuk sampai tak memperhatikannya. Batin ayah.

            Deringan panggilan ayah terlihat di layar handphone Raffles yang kala itu sedang latihan bernyanyi bersama teman bandnya.

“Halooo..Assalamu’alaikum.” Sahut Raffles.

“Walaikum salam. Dimana kamu nak? Berisik sekali disitu!”

“eeee... nafas Raffles yang terengah-engah..aku lagi nonton festival budaya ayah”

“Oh begitu. Cepat pulang nak, ada yang ayah pengen bicarakan sama kamu.”

“Iya. Nanti aku pulang ya ayah, aku janji pulang cepat kok. 15 Menit lagi.”

“Baiklah. Hati-hati dijalan ya nak. Assalamu alaikum”

“Walaikum Salam”

            Langit begitu jingga sore itu, ayah yang sudah menunggu kedatangan Raffles dengan begitu sabar. Tak lama suara motor Raffles terdengar memasuki garasi rumah mereka.

“Assalamu alaikum. Ayah aku sudah pulang”

“Walaikum salam. Raffles ke sini dulu.” Sahut Ayah begitu lembut

“Tadi ayah telepon bilang mau bicarakan sesuatu. Ada apa ayah?”

“Kamu duduk dulu.. Ayah mau tanya. Apa yang sedang terjadi sama kamu? Kenapa nilai akademikmu anjlok begini?

“A..aa..ku tidak tahu juga ayah”

“Jujur sama ayah. Apa yang terjadi?

“Baiklah. Ayah jangan marah. Sebenarnya aku menyanyi dangdut lagi. Aku sering manggung dimana-mana. Aku sampai lupa dengan pelajaranku. Aku juga ingin meraih cita-cita seperti yang aku inginkan seperti anak-anak lain.

“Ya udah, ayah juga capek menasehati kamu. Aku juga tidak tahan dengan tindakanmu, kamu mau bernyanyi dangdut atau mau tinggal sama ayah. Kalau kamu ingin bernyanyi, kemas barang-barang kamu sekarang juga!” Tegas Ayah.

            Raffles menitihkan air matanya yang sekian kali lagi. sepedih ini kah cambukkan-Mu, Ya Allah. Aku mulai terpatung memikirkannya, menyakitkan bagiku. Sepanjang malam ia menangis. Ia menyendiri dan tak mau keluar kamar berhari-hari. Ia pun sakit, mukanya pucat, matanya terlihat letih.

            Kondisinya kini tidak seperti yang dulu lagi, ia sering berhalusinasi karena depresi. Kuliahnya pun molor akibat kondisinya itu. Kini, Raffles bagai bunga Rafflesia yang baru tumbuh dengan aroma yang begitu menyengat. Tak seorangpun yang mau mendekatinya.

            Ayahnya pun juga merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Ia menyesali perbuatannya dan berusaha mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Ayahnya pun memanggil dokter yang masih merupakan kerabatnya untuk membantu menyembuhkan anaknya. Dokter itu bernama Rizky Ramadhan, ia merupakan dokter lulusan Harvard University. Raut wajahnya yang tampan dan sikapnya yang begitu sopan membuat ayah Raffles percaya padanya bahwa anaknya akan kembali sehat melalui bantuannya.

            Seiring berjalannya waktu, kondisi Raffles jauh membaik. Ia pun menjalani segala yang di kehendakinya. Hati dokter pun di balikkan oleh Tuhan, rasa jatuh cinta pada Raffles semakin besar hingga mereka berdua hidup berbahagia sebagai pasangan suami istri. Ayahnya pun juga merestui segala yang diinginkan anaknya. Ayahnya memberi tanggungjawab kepada Rizky untuk menjaga anaknya dengan penuh keikhlasan.

            Suasana rumah Raffles mulai sedikit riuh. Suaminya yang pandai bercanda membuat senyum manis dan tawa gembira menghiasi rumah Raffles. Ia sangat bersyukur mendapat jodoh sepertinya. Di dalam kamar mereka, Raffles mengungkapkan keinganannya untuk ingin bernyanyi lagi seperti dulu.

“Sayang,, bolehkan aku meraih cita-cita menjadi penyanyi dangdut lagi?”

“Kenapa tidak! Saya akan mendukungmu” Sahut Suaminya

“Tapi kamu tidak malu kan sama orang-orang kalau kamu mempunyai istri seorang penyanyi dangdut. Bukankah pandangan mereka penyanyi dangdut itu pekerjaan yang identik dengan kemaksiatan.” Jelas Raffles

“Seburuk apapun mereka menganggapmu seperti tapi bagi aku tidak. Aku percaya kamu kalau kamu tidak seperti itu. Terserah orang bicara apa, kita buktikan pada orang-orang kalau penyanyi dangdut tidak seperti itu.”

“Terima kasih sayang. Aku sungguh mencintaimu”

“Kembali kasih. Aku mencintaimu juga sayang”.

            Mengawali karirnya dengan bernyanyi kembali di kafe-kafe dan acara nikahan. Setelah tiga tahun melakoni profesinya. Suka duka ia rasakan menjadikannya sosok yang begitu tangguh. Ia pun ikut rekamanan di bawah satu label terkena di negeri ini. Hanya berselang sebulan kini ratusan ribu kepingan kaset lagunya terjual. Wajahnya kini tak asing lagi sebab wajahnya selalu musik di acara stasiun-stasiun televisi, ia menjadi topik perbincangan di mana-mana. Perjuangan dalam meraih cita-cita dalam hidupnya juga menjadi inspirasi bagi para penulis untuk membuatkannya sebuah buku. Di radio-radio pun selalu terdengar suara merdunya dan menjadi top list tangga lagu. Ia sangat bersyukur mempunyai suara begitu merdu dan tak menyangka juga ia mampu menyelesaikan sekolah kedokterannya

            Raffles yang sekarang, bukanlah lagi Rafflesia yang begitu bau menyengat namun ia begitu mempesona dengan kelopak besar berwarna indah yang mekar di dirinya, sungguh indah di pandang. Rafflesia harus di jaga, bukan untuk di musnakan keberadaannya.

 

 

****

 

 

 

 

  • view 183