Bersama Kau, Aku Bisa

Alvin Nurhedianto
Karya Alvin Nurhedianto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Oktober 2017
Bersama Kau, Aku Bisa

Waktu itu pukul 4 pagi, aku terbangun karena mendengar pelan rintik hujan. Dingin membuatku menarik selimut putihku lagi, aku tidak ingin beranjak pergi meninggalkan nyaman ini. Sejujurnya aku ingin kembali terlelap dengan wajah dan tubuh kau di sampingku. Aku ingin melihat kedua mata kau lagi sebelum aku menutup mata ini sejenak lagi. Lalu mungkin aku akan berhenti bermimpi buruk dan terus bermimpi baik hingga aku terbangun lagi. Lalu mungkin tidurku akan nyenyak karena hangat kau dekap. Lalu pagi akan berganti siang dan siang akan berganti sore dan aku masih bersama kau di ruangan kamar yang tidak terlalu besar ini. Aku dan kau beranjak hanya untuk mengambil makanan karena kita hampir mati kelaparan, tapi tak apa. “Setidaknya bukan cinta kita yang membuat kita mati, tapi lapar kita.” Kau pun tertawa sambil beranjak mengambil roti. “Sayang, cinta kita yang membuat kita hidup dan hidup kita yang membuat cinta kita ada.” Aku tersenyum mendengar kau berkata seperti wanita tua yang sudah memiliki banyak cucu itu. Meski begitu, apa yang kau katakan itu benar dan aku pun setuju. Kemudian kita menghabiskan roti keju dan sereal pahit kita berdua sambil tertawa bersama. Menyenangkan bukan? Momen seperti itu.

 

Tapi ingin hanyalah ingin dan aku hanyalah aku. Itu semua belum bisa jadi nyata, belum saatnya. Itu semua masih di imajinasiku namun hal tentang kau selalu ada di inti memoriku. Jarak masih memisahkan kita dan langit meminta kita untukbersabar sebentar lagi. Namun Ibuku meminta aku bergegas pergi. “Bangun! kalau tidak kau akan terlambat ke kantor!” katanya.

 

Pagi itu, langit sepekat hitam rambut kau dan udara sedingin musmi hujan yang berkepanjangan. Lalu hujan rintik masih setia menemani perjalananku. Seperti biasa, aku menerjang lautan mobil dan motor dengan hati yang berapi-api walau aku dingin. Hatiku panas ingin teriak lantang tentang semua amarah dan sakit yang aku tahan selama 23 tahun ini. Aku ingin marah kepada supir angkutan umum yang berhenti di tengah jalan tanpa pikir apa-apa, aku ingin marah kepada pengemudi motor yang belok berganti arah seenak mereka, aku ingin marah kepada manusia dewasa yang membuang sampah sembarangan lalu mencaci semuanya saat banjir datang. Tuhan, jalanan ini terkutuk, kota ini mungkin juga. Tuhan, aku ingin marah. Soal jarak dan waktu, aku juga ingin marah; tentu saja. Aku ingin membenci saat ini, saat dimana Jakarta mengutukku dengan macetnya dan Tuhan mengutukku dengan jarak dan sedikit waktu yang kita miliki.

 

Tapi ingin hanyalah ingin dan aku hanyalah aku. Semua amarah itu selalu berhasil aku tahan dan aku tidak menjadi pemarah sekaligus pendendam. Sudah selama ini aku menjadi orang yang berhasil melawan dirinya sendiri. Bagiku, melawan kebengisan diri sendiri adalah salah satu bentuk pendewasaan. Karena hidup terus menuntut kita untuk kecewa dan marah, akan segala hal, atas segala hal. Namun jika kita cukup kuat, kita bisa menang dengan tenang. Perihal jarak, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa sabar dan kuat menunggu.

 

Lagipula amarah dan kekecewaanku selalu berhasil kau redam, walau tubuhmu tidak disini tapi ingatanku akan kau lah yang selalu berhasil meredakanku. Tentang kau, aku simpan rapih semuanya di inti memoriku. Tentang kau, hal-hal kecil itu masih sepeti album foto di kepalaku. Mata dan senyum kau ada di tiap fragmennya. Lalu bagaiamana aku bisa membenci hidup dan dunia ini? sebab kau ada dan bernaung di dalamnya.

 

Dengan perasaan-perasaan seperti itu, aku berhasil melalui semua perjalananku; terutama di pagi dan malam hari dimana jalanan benar-benar laknat bahkan mesin motorku geram kewalahan.

 

Namun aku berkeyakinan lain tentang apa-apa yang sedang kita hadapi sekarang. Bahwa kita dituntut untuk tetap sabar dan kuat. Sabar akan semua hal yang menimpa kita dan kuat menghadapi setiap tantangan yang ada, entah dari dalam diri kita atau dari luar sekitar kita. Sabar dan kuat membuat kita untuk tidak mudah menyerah. Sadar atau tidak, kita sedang dibentuk dan dipersiapkan untuk menjadi manusia yang tangguh. Tangguh untuk menghadapi hidup dan masa depan kita sendiri. Aku juga percaya bahwa kau memegang peranan penting akan sabar dan kuatku, bisa jadi kau malah menjadi alasan dari sabar dan kuatku.

 

Karena untuk menjadi sabar dan kuat, kita membutuhkan alasan bukan? Lalu kau bertanya tentang alasanku kenapa aku perlu bersabar dan menjadi kuat? Tentu saja karena kau dan aku. Ya, aku perlu bersabar dan menjadi kuat demi hari itu, hari dimana kau bersama aku di tiap hangat pagi dan dingin malam. Karenanya aku sabar menanti kau, aku sabar menanti hari dimana kita akan bertemu dan kita akhirnya bersama untuk tiap detiknya. Aku akan kuat, secara jiwa dan raga; sebab kau perlu aku untuk kuat secara utuh. Suatu hari aku akan menjadi teman hidup kau, jiwaku akan menanggung sakit dan pedih kau, lalu ragaku akan menjadi sandaran kau di kala hujan badai, pun ragaku juga akan memapah kau saat kau tersungkur lemah. Aku tidak berniat untuk menjadi pecundang lemah yang bahkan tidak bisa menjaga perempuan yang ia cintai. Aku manusia terbuat dari tanah namun aku akan berusaha untuk menjadi malaikat penjaga kau yang selalu ada dan sanggup menampung semua keluh kesah kau tentang hidup dan derita yang ia bawa. Aku manusia terbuat dari tanah namun aku akan berusaha untuk menjadi rumah kau, yang melindungi kau dari terik siang dan deras hujan, yang meneduhkan hati kau saat kau gusar dan membuat kau nyaman saat kau gelisah.

 

Tapi ingin hanyalah ingin dan aku hanyalah aku. Namun tidak juga.

 

Kau tahu?

 

Bersama kau, aku bisa berharap untuk lebih dari sekedar ingin.

 

Bersama kau, aku bisa untuk tidak hanya menjadi aku; aku menjadi lebih besar dari itu. aku menjadi tidak sesederhana sedia kala.

 

Bersama kau, aku bisa melihat apa-apa yang aku takutkan dulu menjadi tidak lagi menakutkan, tentang masa depan yang masih abu-abu, tentang segala masalah yang belum tentu terjadi, tentang ingin yang masih menjadi ingin, tentang masa dimana aku tidak takut untuk melangkah maju.

 

Bersama kau, aku bisa menyelami dalamnya kehidupan tanpa takut tenggelam terbawa arus, tentu karena kau menggenggam tanganku kuat. Tentu karena kau berkata “tenang saja, aku disini untukmu, denganmu, bersamamu.

 

Bersama kau, aku bisa melihat ujung dunia tanpa pergi ke ujung samudera. Tentu saja karena bagi jiwa raga ini, dunia adalah kau.

 

Maka jangan bersedih, aku disini. Aku harap kau juga sabar dan kuat. Lihat aku. Aku sabar menanti kau, kuat menangguhkan semua ketidakpastian tentang waktu dan jarak serta masa depan. Aku pikir hidup adalah perjalanan dan setiap perjalanan memiliki tujuan akhir. Perjalananku baru saja dimulai, aku harap perjalananku berakhir karena aku sampai pada tujuan akhirku..

 

Kau.

 


 

Jam menunjukkan pukul 7.15, pagi masih dingin dan rintik hujan masih berjatuhan; aku pun tiba di kantor dengan selamat. Aku tiba dengan masih membawa kepingan tentang kau dan angan tentang kau dan kau. Hari ini hari senin pertama di bulan Oktober tahun 2017, masih banyak hari-hari dan bulan-bulan yang akan aku habiskan demi menanti kau datang.

 

Namun, aku tahu pasti..

bersama kau, aku bisa.

  • view 26