Sebaiknya Kau Peluk Saja Ketidakpastian Itu, Selagi Kau Masih Punya Asa

Alvin Nurhedianto
Karya Alvin Nurhedianto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Sebaiknya Kau Peluk Saja Ketidakpastian Itu, Selagi Kau Masih Punya Asa

Suatu ketika aku berkata kepada kawanku: "Lupakan saja semua muram durja itu, tentang hingar bingar hidup dan ketidakpastiannya, kau peluk saja ketidakpastian itu. Jangan takut, kau tidak sendiri. Aku disini. Kelak kita akan melewati semua ini kawan. Percayalah."

 

Tapi kawanku sudah tidak tersenyum, tidak juga bernafas. Aku terlambat. Aku murka kepada diriku sendiri. Aku murka sampai ke jantung terdalamku. Aku sakit sampai ke tulang rusukku. Kau pergi tanpa berkata apa sedang aku ingin berkata banyak. Aku tenggelam karena penyeselan dan kesedihan sedang kau tenggelam karena dirimu sendiri. Kau mengubur tanah dengan kesenduanmu sendiri. Tanpa berkata apa-apa terhadap aku. Tapi aku sudah baik-baik saja. Aku sudah ikhlas dan baik-baik saja. Tulisan ini bentuk kenangan terakhirku untuk kau. Agar kau abadi dan tidak lekang, lewat tulisan ini.

 

Orang bergerumul memikirkan hal-hal yang belum tentu kau pikirkan. Mereka mencaci, mereka sok tahu, mereka tidak berada di dunia kau. Mereka sibuk dengan pandangan dan dunia kecil mereka sendiri. Acuhkan mereka. Lalu orang bilang kau orang yang tidak cukup iman, orang bilang kau orang yang tidak panjang pikir. Namun tidak aku, aku percaya kau menggengam semua alasan kau untuk tidur dengan tanah. Aku mencoba mengerti dan percaya dengan takdir langit. Karena aku bukan sembarang orang, aku bukan orang lain. Aku kawan kau.

 

Mungkin pukul 3 pagi, malaikat berjubah hitam berdiri di samping kamar tidur kau. Dia menanyakan kabar kau dan apakah kau sudah makan, sebab muka kau pucat pasi. Bahkan malaikat itu tidak bisa mengerti kau. Mungkin aku juga tidak mengerti kau, tentang luka di tangan kau dan kekacauan di angan kau. Walau begitu aku tetap menganggap kau kawan aku. Memang aku orang bodoh karena menyiakan waktu, aku rasa waktu membenciku. Aku merelakan dan melepasnya begitu saja. Aku menyiakan waktu dengan tidak menjumpai kau, kawan. Maafkan aku. Tidak seperti kau, kau paham betul bahwa waktu pun tak berguna kau ajak diskusi, menunggu bukan hobi kau. Kau yang menentukan waktu kau sendiri, aku tidak seberani itu. Maafkan aku, lagi. Tapi tenang saja, cepat atau lambat kita akan berjumpa lagi kawan, entah dimana, entah kapan.

 

Lalu aku tidak akan sendiri lagi saat mereka ulang kenangan dan jejak sejarah kita jaman putih abu dulu. Lalu kita akan tertawa sedang menghisap rokok 3 batang Rp 2000 dan menenggak kopi 1 gelas Rp 1000 yang Pak Parsan jual. Lalu kita akan sekali lagi melupakan gelap dan suramnya dunia ini karena Ujian Nasional yang sudah dekat dan pertanyaan "kelak aku akan jadi apa?" sudah menunggu di ujung jalan putih abu kita. Lalu kita tutup matahari hari itu dengan cita dan tawa kita berdua. Kau dan aku tertawa lepas lagi melepas penat. Dan di ujung sore, kita pun bergegas pulang; kita khawatir bulan segera mengintip namun ulangan matematika menunggu di esok pagi. Kita memang anak ingusan, takut akan hal-hal kecil seperti terlambat masuk kelas dan ujian sekolah. Sungguh hidup lebih dari itu.

 

Kawan, waktu berjalan lambat namun aku selalu kehabisan waktu. Aku bukan anak putih abu kurus dengan baju dan celana yang kebesaran lagi. Aku rasa aku berubah namun tidak juga. Sebagian diri ini masih tetap sama, sebagian lainnya beranjak pergi dan berganti baru. Dunia masih sebingung itu dan hari esok masih tetap tanda tanya. Kesedihan, penyesalan dan kemarahan hanya menguras relung hatiku, lalu membuatku pesimis; akan semuanya. Hidup tidak pernah bosan hadir dengan kejutan-kejutannya. Tetapi aku belajar dari hidup dan pilihan hidup kau, lalu aku mengakui aku lebih kuat daripada aku yang kurus dulu. Lihat saja, ukuran bajuku tidak lagi S, sekarang M dan kadang L. Asa dan anganku pun lebih kuat juga. Kawan aku bukan anak-anak lagi. Namun hidup masih menjadi abu-abu kawan, sedang aku berdiri diantara hitam dan putih, meragukan semua keyakinanku dan meyakini semua keraguanku. Ada kilas balik yang mendadak tiba di pikiranku, seketika membuatku mengingat kau; lalu aku mematung dan air mata jatuh tanpa kehendak aku. Mungkin aku rindu kau, mungkin aku rindu aku di masa lampau, mungkin aku kembali kesal; dengan waktu, dengan semuanya.

 

Kawan, berkat kau; aku tidak lagi takut akan hidup dan ketidakpastiannya, justru aku merangkulnya. Sungguh aku banyak belajar dari semua ini. Kau seharusnya tahu bahwa hidup dipenuhi dengan ketidakpastian. Tapi kawan, ketidakpastian tidak selalu hhitam dan gelap. Ia abstrak dan acak, engkau tak akan tahu nasib akan membawa kau kemana. Kau tidak akan tahu bahwa kesunyian ini tidak selamanya sepi dan keramaian tidak selamanya nyaman. Aku menemukan damai di sunyi dan aku menemukan resah di ramai. Suatu saat aku teringat kau, lagi. Aku sedih, tapi aku tak mengapa. Sebab aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan hidup lebih baik lagi, lebih bahagia lagi. Aku akan menjadi contoh buat kau, aku akan berusaha sekuat tenaga agar kau bangga melihatku dari langit. Lalu di hari terakhirku, aku akan memperlihatkan kau betapa terangnya hidup yang aku bawa, betapa bahagianya aku dekat dengan orang-orang terkasih aku. Aku akan mengucap syukur dan menangis untuk terakhir kalinya. Saat hari terakhirku aku akan berkata “Lihat kawan, aku berhasil. Jika saja semua bisa terulang lagi. Aku yakin kau akan berhasil juga. Denganku, seharusnya kita berhasil, bersama.”

 

Kawan, terimakasih. Aku harap kau baik dan damai saja. Aku harap kau tenang. Entah apa yang akan terjadi pada hidupku, aku pun tak tahu. Tapi walau aku menjadi orang terakhir di bumi yang hidup sendiri dan terpinggirkan, aku tidak akan menyerah. Karena aku bukan tentang tulang dan daging. Aku lebih dari itu. Hati dan pikiran ini lebih kuat dari apapun. Karena itu aku tidak akan menyerah. Aku akan mengajak orang-orang terkasihku untuk juga tak menyerah. Aku akan menjadikan kau contoh, bahwa hidup lebih dari itu. Maka kau tidak akan sia-sia.

 

Lihat aku, kawan. Saat ketidakpastian menghampiriku lagi, aku akan memeluknya dengan mesra dan berani. Aku tidak akan ragu dan mundur terhadap kesedihan dan kekecewaan dunia ini. Sebab yang pasti hanyalah kematian dan ketidakpastian adalah segala hal selain kematian.

 

Today I came by

Just to tell things I don’t tell to others

Just to tell things you couldn’t hear

Just to reminiscing, hear the train passing by

While the scenes of our youth keep playing in my head

For I still remember all those times we’ve spend together

For how I keep hoping that you’re finally found your peace while I’ll keep searching mine

Today I came by,

It’s the day you left.

  • view 135