Sudirman Said Melaksanakan Haji: Pesan Tentang Rendah Hati

Lalita Loli
Karya Lalita Loli Kategori Agama
dipublikasikan 01 September 2017
Sudirman Said Melaksanakan Haji: Pesan Tentang Rendah Hati

Salah satu kelebihan dari Sudirman Said adalah kemampuannya untuk merangkai kata menjadi sebentuk tulisan yang “manis” ketika dibaca. Melalui diksi yang sederhana, tidak njlimet sebagaimana sastra kelas tingginya, Sudirman Said mampu menyampaikan “kegelisahannya” dengan cara yang cantik; menulis.

Banyak tulisannya yang bisa kita nikmati, sebagiannya telah menjadi buku menarik, “Berpihak Pada Keawajaran”, judulnya. Puisi-puisinya pun sederhana, tapi mengena, sebab tak pernah lahir dari dunia imajinasi yang hampa. Termasuk dalam hal ini, puisi (jika kita sepakat menyebutnya dengan puisi) yang diraciknya ketika sedang melaksanakan haji, teruntuk seluruh sahabat yang dicintainya sepenuh hati.

Untuk seluruh sahabat Pak Dirman

Rendah Hati

Jika engkau merasa paling cerdas se-kelurahan, bertemulah dengan orang-orang paling cerdas satu kecamatan. Dengan itu, engkau akan merendahkan hatimu.

Jika kamu merasa paling pintar se-kecamatan, berkumpul lah dengan orang-orang paling pintar se-kabupaten. Dengan itu, engkau akan merendahkan hatimu.

Jika kau merasa paling kuat se-kabupaten, berhimpunlah dengan orang-orang terkuat satu provinsi. Dengan itu, kau akan merendahkan hatimu.

Kalau kita merasa paling berkuasa di seantero negeri, bahkan merasa bisa mengatur dunia. Datangi Tuhan Mu, mendekatlah pada Nya. Pahami kekuasaanNya, dan hayati betapa kecilnya kita, manusia.

Dengan itu, tak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih dari yang lain.

Kerendahan hati adalah kunci, penjaga setiap langkah, hingga akhir hidup nanti.

Makkah, 24 Agustus 2017

Pesan itu sejatinya tidak hanya untuk “yang lain”, tapi sekaligus untuk diri. Ini yang penting. Kalau kita mengikuti jejak Sudirman Said, kita akan menemukan sebuah sikap rendah hati yang dimilikinya. Tutur kata yang lembut dan santun, dan serta mau mendengar suara-suara tokoh yang berasal dari segala kelompok dan warna. Ia juga rela untuk belajar dari siapa pun, dengan tetap mempertahankan idealisme yang diyakininya.

Kunjungannya ke ke Jawa Tengah dalam beberapa bulan terakhir hingga sebelum berangkat haji, dan mungkin dilanjutkan setelah pulang dari tanah suci hingga pelaksanaan Pilkada nanti, selain untuk meminta doa dan restu dalam pencalonannya di Jawa Tengah, juga sebagai upaya untuk belajar dan menampung masukan dari berbagai tokoh dan kalangan dari berbagai warna. Apa yang didapatkannya sebagai pengalaman dan teruji dalam berbagai posisi tidak lantas membuatnya jumawa, tetapi justru menjadi jembatan untuk membangun silaturrahmi dan diskusi sehingga semakin bermanfaat untuk pembelajaran diri.

Melalui sebuah puisi yang ditulis sepenuh hati dari tanah suci, teruntuk sahabat-sahabatnya yang dicintai, Sudirman Said menjelaskan tentang rendah hati; sesuatu yang menurutnya kunci, hingga akhir hidup nanti. Lebih dari itu, pesan tersebut adalah bagian dari pengingat diri, untuk terus belajar dan selalu berusaha rendah hati.

  • view 47