Menunggu

Laksana Putra Ibrahim
Karya Laksana Putra Ibrahim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Menunggu

Hari itu, hujan turun dengan deras membasahi bumi. Meski hujan baru datang sekitar 30 menit yang lalu, namun sudah begitu mahir mengubah suasana di kota Depok yang awalnya gersang, menjadi sejuk. Membuat sebagian orang yang memiliki niat untuk bertujuan ke suatu tempat, mau tidak mau, suka tidak suka, harus menunda keinginannya tersebut. Ada saja memang cara Tuhan untuk sedikit mengubah jalan cerita hidup seorang manusia, dan kali ini Dia mencoba untuk merubahnya lewat salah satu siklus air di bumi. 

 

Sebuah halte bus yang sedari awal hanya disinggahi oleh beberapa orang saja, kini tampak ramai. Sebagian memang hadir untuk menunggu bus datang. Sebagian hanya sekedar berteduh, untuk kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Padahal sekitar satu jam yang lalu, hanya ada seorang saja yang singgah di halte tersebut. Seorang pemuda, Biru namanya. 

 

Biru yang sebelum datangnya hujan sibuk sesekali melihat jadwal kedatangan bus yang terpampang di halte tersebut, kini terpaku menatap hujan. Padahal jika ingin mengacu pada jadwal tersebut, seharusnya bus sudah menghampiri halte sebanyak empat kali. Entah memang bus hari itu sedikit mengalami hambatan sehingga tidak bisa datang dengan tepat waktu sesuai jadwal, atau memang sedari awal jadwal tersebut hanyalah sebagai pemanis halte, dan sebagai syarat sah tempat tersebut dinamakan ‘halte’. 

 

 Biru menatap sendu hujan. Begitu banyak perasaan yang ia rasakan jika menatap hujan. Tenang, sedih, bahagia, dan resah saling susul menyusul untuk mendominasi hati Biru. Pun berbagai ingatan yang kemudian saling berlomba untuk hadir di dalam otaknya. Tentang rindu yang dulu pernah begitu asyik mengusik. Tentang impian yang dulu pernah begitu nyaring untuk diwujudkan. 

 

“Setidaknya, sekarang kepastian itu telah nyata aku ketahui.” gumam Biru sambil sedikit tersenyum getir. Urusan menunggu sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit bagi Biru. Bahkan jika ada sebuah mata kuliah yang membahas tentang kompleksitas menunggu, maka Biru adalah seorang mahasiswa yang mendapat nilai A bulat sempurna. Mendapat nilai 100 di setiap ujiannya. Namun entah mengapa urusan menunggu bus kali ini menjadi perkara menyebalkan bagi Biru. Mungkin sedikit banyaknya terpengaruh oleh kabar tadi malam, yang tak henti membuat runyam pikirannya. Kabar tentang hilangnya harapan. 

 

Tetapi, bukankah selalu begitu? Kesedihan ataupun kenyataan pahit yang meski telah kita siapkan jauh-jauh hari untuk menghadapinya, kelak akan ada sebersit kepiluan yang ikut andil menerobos hati. 

 

“Tidak apa, pilu ini hanya sementara”, yakin Biru dalam hati. Mencoba mensugesti dirinya sendiri.

 

Dan tidaklah berselang lama, hujan berhenti. Bus yang selama hampir satu jam ditunggu oleh Biru akhirnya datang juga. Namun sayangnya bus itu hampir penuh, mungkin karena efek hujan dan menumpuknya penumpang di halte-halte lain. Hanya ada segelintir oranglah yang dapat memasukinya. Dan ketika Biru menghitung banyaknya orang yang ingin memasuki bus itu, rasanya jumlahnya cukup untuk menempati tempat yang tersisa di bus tersebut. Biru pun mengurungkan niatnya untuk menaiki bus. 

 

Meski ia tahu bahwa waktu yang ia habiskan untuk menunggu dan pengorbanan lain yang telah ia lakukan untuk menunggu bus tersebut tidaklah sedikit. Tetapi, siapa peduli? Meski Biru beritahu sekalipun, tiada satu orangpun yang akan menghentikan langkahnya. Dunia akan terus berputar, sementara Biru hanya diam di tempatnya karena begitu asyik menjelaskan alasannya. 

 

Bus itu pun berlalu, dan Biru hanya bisa melihat kendaraan tersebut menjauh darinya, lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap langit yang masih saja kelabu. Memejamkan matanya, untuk kemudian tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Teringat sesuatu. 

 

Kemudian Biru bergegas meninggalkan halte. Mencari rute lain, yang tidak ingin seorangpun mengetahuinya.

 

Laksana Putra Ibrahim

Depok, 22 Agustus 2016

 

 

*sumber gambar : alsofwa.com

  • view 134