An, Adik Semata Wayangku

Lailatun Ni'mah
Karya Lailatun Ni'mah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2017
An, Adik Semata Wayangku

Ketika Tuhan telah berfirmanKun Fayakun” maka yang dikehendaki akan terjadi. Tak peduli itu takdir kita atau mereka. Semua sama. Meski telah ribuan kali menepis kenyataan, tetap takdir Tuhan yang akan menang. Dan kita hanya perlu menjalani tanpa harus menyesali.

Aku, kamu, dia, dan mereka adalah aktor. Berarti jalan yang mesti ditempuh pun telah diatur sedemikian apik oleh sutradara. Disini tak ada yang sia-sia, semua punya harga. Jika aktor, aktris yang sering nampak di layar televisi jadulmu itu mendapat iming-iming uang yang menurutnya berharga, justru kita diiming-imingi puluhan hektar kebahagiaan. Dan, tempat itu yang biasa dikenal dengan surga.

“Teruslah berjalan. Jangan pernah berhenti sampai kamu menemukan apa yang kamu dambakan,”ucap sahabatku beberapa tahun silam. Sebut saja namanya Oncom. Oh bukan. Itu hanya sebatas panggilanku untuknya.

Semua yang ia katakan tak pernah menuntut balasan. “Perhatikan dan dengarkan. Buatku itu lebih dari cukup,” ungkapnya waktu itu.  Entahlah, aku sendiri tak mengerti apa yang coba ia sampaikan. Hanya saja aku paham bahwa sejauh apapun aku melangkah, dia akan selalu ada dibelakangku. Selalu begitu. Semoga.

Pernah suatu hari  aku menyaksikan kehidupan seorang gadis yang begitu rumit. Masalah yang dihadapinya amat kompleks. Dan disitu, aku menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Tiba-tiba disampingku ada yang berbisik, “Bukan Tuhan yang salah. Ini hanyalah permainan Takdir,”ucapnya.

Seketika aku meneloh kearah sumber suara, namun tak kutemukan siapapun di sana. Aneh. Tapi aku tak ingin menghiraukan dan aku memilih pergi. Sebenarnya bukan hanya kisah gadis itu yang menyedihkan, namun kisah hidupku jauh lebih menyedihkan. Mungkin itu yang orang pikirkan, tapi tidak denganku. Aku tak pernah merasa sedih untuk semua kisah yang telah ku lewati. Karena sebenarnya, aku tak begitu peduli.

“Ibuku adalah ibumu. Tapi ayahku bukanlah ayahmu. Apa kau mengerti?,”teriakku tepat dihadapan jabang bayi yang baru lahir 3 hari ini. Dulunya, aku seperti tak mengenal bocah kecil itu. Dan anehnya, aku tak menyukainya. Sempat suatu kali aku ingin mengutuknya menjadi sebongkah batu yang mengabung di tengah sungai, tapi masalahnya aku bukan penyihir atau penyulap.

Dia (si jabang bayi) itu sangat tampan. Matanya sipit, hidungnya tidak mancung tapi mungil. Lucu. Dan bibirnya tipis, ciut, nampak selaras dengan bentuk wajah yang tembem. Pipi nya mirip bakpao. Bulet. Semua orang sangat menyukainya. Tapi tidak denganku. Itu dulu.

Kini, si jabang bayi telah tumbuh menjadi anak manis. Kurang lebih usianya 3 tahun. Dan aku mulai sedikit menyukainya. Hanya sedikit. Berbeda dengan  sahabatku si Oncom. Ia justru sangat menyayanginya. Entah dengan alasan apa ia begitu mengagumi bocah kecil yang gambar dirinya telah terpampang rapi dalam balutan bingkai coklat dihadapanku. Mungkin dia memang menggemaskan. Pikirku.

Semakin hari, si jabang bayi tumbuh dan berkembang menjadi anak usia sekolah. Umurnya sekitar 5 tahun. Ia baru menginjak Taman Kanak-kanan (TK). Kini ketampanannya semakin kentara. Kami punya ibu yang sama, tapi mungkin wajah kami tak seutuhnya sama. Ada beberapa bagian yang berbeda. Amat berbeda. Dia mungkin lebih sempurna.

“An manis ya. Pipi tembennya bikin dia kelihatan imut.  Kamu beruntung jadi kakaknya,”kata Oncom suatu hari.

Aku melirik Oncom beberapa detik , kemudian berpaling. Kami diam. Oh bukan, hanya aku yang sengaja diam.

“Dia benar-benar tampan. Kalian nampak mirip. Suatu hari, kamu akan menyayangi An melebihi kasih sayangmu pada diri sendiri. Percayalah,”tambahnya sembari menepuk bahuku, kemudian berlalu.

Lagi-lagi dia bicara omong kosong. Dan aku, tetap tak ingin menggubris ucapannya. “Terserahlah,”pikirku kala itu.

Karena di rumah hanya ada aku, ibu, ayah dan ditambah si jabang bayi yang sekarang telah bermetamorfosis menjadi anak kecil yang lucu, jadi kami dibagi peran sesuai fungsinya masing-masing. Dan tugas mengasuh seutuhnya diberikan padaku. Dulu, aku sempat menolak dan memberontak. Meski pemberontakan itu hanya sebatas perang batin, tapi jelas dulu aku menolak.

Aku takut sama ibu. Mungkin itu alasan aku tak berani menolak secara terang-terangan. Bukan karena takut ia marah, tapi aku takut ia kecewa. Karena aku sudah lelah melihat mata gerimis ibuku. Sudah cukup banyak air hujan yang membendung dipelupuk mata beliau. Dan semoga kedepannya, tak lagi ada mendung yang menggantung.

**

Saat itu, aku sedang mengasuh An. Kita berkeliling desa dan mampir disalah satu rumah tetangga yang kebetulan sering dijadikan tempat tongkrongan ibu-ibu dan anak kecil seusianya. Dan saat itu terjadi perkelahian antara An dan teman mainnya. Mereka rebutan mainan. Mobil-mobilan yang An bawa dari rumah kini telah berpindah tangan. Konyolnya, ibu bocah tadi memarahi An.

“Itu punya aku mb,”ucap An mendekatiku dan merengek memita perlindungan.

Aku hanya memandangi wajah bocah itu tanpa bergeming. Tampak bodoh memang. Aku sendiri tak begitu mengerti tentang diriku saat itu. hanya saja, aku tak ingin berbuat apa-apa.

“Ambilin, itu punya aku,”ucapnya sembari menarik pergelangan tanganku dengan tangis yang semakin pecah.

Harusnya aku mengambil mobil-mobilan itu, karena jelas itu milik An. Tapi bodohnya, aku justru mengajak An meninggalkan tempat itu. Tentu saja ia tak langsung mengiyakan ajakanku. An masih saja merengek. Dan aku memaksanya. Ku gendong tubuh mungil itu dan melangkah pergi. Hari itu merupakan hari dimana aku mulai sadar, bahwa bocah yang ada digendonganku ini hanyalah bocah.

Dia hanya anak kecil usia 5 tahun yang tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Rebutan mainan saja kalah. Bagaimana mungkin selama ini aku membenci dan menyalahkan semua kehancuran hidupku padanya? Ah, kalian pasti berpikir aku ini bodoh. Ya, aku memang bodoh. Dan aku benar-benar merasa bodoh.

Di depan taman bermain, aku menurunkan An dari gendonganku. Kali ini tangis An mulai mereda. Namun masih sesenggukan. Mungkin ia lelah. Aku tahu pasti ia sedih. Anak kecil mana yang tidak sedih jika mainannya diambil orang lain? Orang dewasa saja akan marah jika barang miliknya diambil alih orang lain.

“Besok sepulang sekolah mbak belikan mobil-mobilan baru,”ucapku menenangkan sembari mengelus kepalanya sayang. Kali ini tulus. Tanpa ada kebohongan disalah satu sudutnya. Dalam hati, tak henti-hentinya ku utarakan kata maaf untuk ibuku, untuk ayah yang mungkin juga bukan ayahku, untuk adik semata wayangku, serta untuk Tuhan yang menghidupiku.

An memandangku. Mungkin dia heran, karena itu kali pertama aku bersikap sedemikian sayang padanya. Meski dia masih kecil, tapi aku yakin dia paham akan perubahan sikapku.

An adek mb kan?,”tanyaku padanya.

Ia masih mendongak memandangku penuh selidik. Kemudian mengangguk ragu.

“Nanti mbak belikan mobil baru. Jadi An nggak boleh nangis lagi ya?,”ucapku membujuk.

Kali ini bukan hanya mengangguk. Dia juga tersenyum. Aku memeluknya. Tangisku pecah. Air mataku banjir. Jelas semua itu bukan tanpa alasan. Aku menyesal. Menyesal untuk semua kebencian yang aku lempar pada adik semata wayangku ini.

orang bilang kita satu pabrik, tapi beda adonan”. Dulu aku tidak mengerti. Dan sekarang aku tak peduli. Yang jelas, ayahku adalah ayahnya. Dan ayahnya adalah ayahku. Dan mereka adalah ayah kita. Pengertian itu sudah lebih dari cukup untuk meringkas semua kisah yang terjadi selama sisa hidup kami.

“Terkadang kita hanya perlu memaknai kehidupan itu dengan hal yang ringkas. Karena memperumit makna juga akan mempersulit pemahaman,”...

Suara itu terdengar jelas di belakangku. Seketika  ku lepaskan pelukan An dan menoleh kebelakang. Disana ada Oncom. Dan jelas itu tadi adalah suaranya. Iya, dia yang mengatakan kata-kata barusan. Lagi-lagi aku tak menanggapi ucapanya. Aku hanya terus memandangnya dan tersenyum. Dalam hati aku sangat berterimakasih untuk semua pemahaman yang ia berikan. Meski seutuhnya aku tetap tak paham.

 

Orang bilang “kita satu pabrik. Tapi beda adonan”.

Tapi kita tetap saudara kan dik?,”tanyaku yang tak kunjung mendapat jawaban.

 

Dan apa kamu tau dik? Kita itu serupa dengan gerimis dan hujan.

Berasal dari langit yang sama, tapi tercipta dari mendung yang berbeda.

Meski begitu, selamanya kita akan menjadi saudara.

  • view 122