Seteru Ku dengan Rokok

Seteru Ku dengan Rokok Seteru Ku dengan Rokok

Kupejamkan mataku dan kubayangkan sentuhan tangan beliau di keningku, melenyapkan sisa mimpi buruk masa kecil. Jemarinya menjelajahi keningku, mengikuti rapal-rapal do'a yang tak pernah ku mengerti. Bahkan tak pernah ingin ku mengerti. Bibirnya komat-kamit nyaris menyertai keheningan. Kini, aku terbangun dari mimpi buruk yg telah menjadi rutinitas__Terbangun dari tidur dg bermandikan keringat dan napas tersengal. Aku mengingat sentuhan lembutnya dan menikmatinya dengan intensitas yang tak pernah kurasakan ketika beliau masih hidup

“Hey kenapa kau?,”Tanya Mira teman kampusku.

Aku memandangnya sejenak dan menggeleng,”Tidak apa-apa,”…

“Tapi sepertinya kau  bermimpi buruk, apa benar?,”Tanya Mira memastikan.

Aku tersenyum memandangnya, “Aku hanya teringat cerita lama. Yah, gara-gara penyuluhan ini aku mengingat kakek ku. Dulu beliau perokok aktif. Waktu itu aku tak sempat mencegahnya hingga pada akhirnya beliau meninggal terkena penyakit paru-paru,”jawabku seraya menunduk.

Mira merangkulku, “Sudahlah, itu bukan salahmu. Oiya, jika dulu kamu tak bisa menyelamatkan nyawa kakekmu, maka sekarang kamu harus menebus kesalahanmu dengan menyelamatkan nyawa orang lain. bukankah begitu?,”ucapnya sambil tersenyum. “Lekaslah beranjak, kau sudah tertidur cukup lama,”Tambahnya.

Aku membalasnya dengan sebuah anggukan.

***.

Aku rasa semua orang paham mengenai bahaya rokok. Namun yang membuat aku heran, kenapa mereka masih saja mengkonsumsinya. Apa kurang jelas dengan gambaran bahaya merokok yang menempel dalam setiap kemasan? Harus dengan cara apa lagi untuk mengingatkan mereka? Hal itulah yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar buatku. Pertanyaan yang tak mampu terjawab selama bertahun-tahun.

Awalnya aku tak begitu peduli mengenai hal ini. “Toh tak ada urusannya denganku,”pikirku kala itu. Namun dengan berjalannya waktu, aku mulai terusik dengan keberadaan rokok di sekitar lingkunganku. Hal ini bermula dari 4 tahun yang lalu.

waktu itu kakekku masih hidup. Aku biasa memangilnya mbah kung. Beliau adalah seorang pecandu rokok. Dalam kesehariannya, beliau selalu ditemani dengan asap-asap rokok yang menyembul dari mulutnya. Ia tak bisa hidup tanpa rokok. Anggap saja bahwa rokok adalah makanan pokok baginya. Kadang aku heran, kenapa beliau bisa begitu mencintai rokok. Sayangnya aku tak sempat menanyakan perihal itu sampai sekarang.

Suatu hari, sepulang dari sekolah aku mendekati mbah kung dan bertanya, “kenapa setiap hari beliau harus merokok?, aku masih ingat jelas jawaban apa yang beliau lontarkan waktu itu. Beliau mengatakan bahwa rokok itu sudah seperti nasi yang harus setiap hari beliau konsumsi. Bahkan beliau sempat mengatakan, mending tidak makan nasi dari pada tidak merokok. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan beliau, maklumlah waktu itu aku masih SD. Apa yang bisa dipahami anak seusia SD tentang rokok? tentunya tidak ada bukan?,

Namun dengan bertambahnya usia, pemahamanku mengenai rokok mulia berkembang. Hal itu berawal ketika aku memasuki SMA dan mengambil program IPA. Kami (anak-anak yang memasuki program IPA) banyak dijejali materi tentang bahan-bahan kimia apa saja yang berbahaya, yang salah satunya terdapat dalam rokok. Semenjak itulah aku mulai mencari tau mengenai bahaya merokok. Entah itu melalui internet atau informasi dari guruku.

Ketika aku mulai memahami bahaya merokok, aku kembali bertanya kepada mbah kung kenapa beliau masih merokok, padahal sudah jelas bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan. Namun jawaban beliau benar-benar di luar dugaan.

“kamu mau tau kenapa? Karena mbah kung tidak mampu membakar pabrik-pabrik rokok itu, makanya jalan keluarnya mbah kung bakar rokoknya satu-satu,”jawab beliau sambil terkekeh. “sudah puas to dengan jawaban mbah kung? Kamu itu, dari kecil pertanyaannya selalu sama,”tambah beliau seraya melangkah pergi meninggalkanku seorang diri.

Jawaban yang cukup membuatku kesal. Heran kenapa beliau selalu tak pernah menjawab pertanyaanku dengan serius. Dipikirnya aku lagi bercanda. “Baiklah, mungkin aku harus menjadi dewasa terlebih dahulu agar beliau menanggapi pertanyaan-pertanyaanku dengan benar,..

“Uhuk…Uhuk….” terdengar suara batuk mbah kung. Sudah sekitar 2 minggu  ia batuk dan tak kunjung sembuh. Parahnya, beliau susah diajak untuk berobat, alasannya selalu sama.

“Biarkan seperti ini. Dokter hanya akan menambah beban hidup mbah kung. Apalagi jika nanti dokter mengatakan mbah kung kena penyakit inilah, itulah. Bisa-bisa bukan hanya tubuh mbah kung yang sakit, tapi juga jiwa dan pikiran mbah kung ikut-ikutan sakit.

Aku terkejut mendengar kata-kata beliau.  Selalu kata-kata itu yang ia jadikan jawaban ketika aku meminta beliau untuk cek kesehatan ke dokter. Seperti pepatah, maksud hati memeluk gunung  namun apa daya tangan tak sampai.

Hari demi hari terus berlalu. Kesehatan mbah kung tak juga membaik. Bahkan, semakin hari  tubuhnya semakin terlihat lemah. Aku dan keluarga tak tau lagi harus berbut apa. Setiap kali akan di bawa ke rumah sakit, beliau selalu saja menolak.

***

Hari ini di sekolah ada penyuluhan tentang bahaya merokok dari salah satu universitas di kotaku. Ternyata, merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Dari penyuluhan itu aku semakin mengetahui bahaya-bahaya rokok. Kalau tidak salah, dalam penyeluhan itu ada yang mengatakan bahwa, kandungan-kandungan kimia yang terdapat di dalam rokok itu sendiri merupakan undang-undang tentang rokok. Aku semakin miris melihat mbah kung ku yang perokok. Beliau memang seorang perokok aktif dan hampir satu slop setiap harinya, kalau dibayangkan betapa ngeri kondisi organ-organ di dalam tubuhnya, yang telah di gerogoti banyak penyakit, paru-paru yang kini tak lagi seperti dulu, batuk-batuk yang tak kunjung sembuh, kondisi tubuh yang lemah, mudah terserang flu dan penyakit akibat kelelahan lainnya.

Aku memandang mbah kung sebagai sosok yang sangat aku teladani. Beliau sangat bijaksana, sangat baik, tegas, humoris, jarang marah, sangat menjunjung tinggi ajaran agama kami. Tapi sekarang, aku tak menemukan sosok itu. Kini aku hanya mampu menyaksikan tubuh beliau yang berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Ya, dua hari yang lalu bapak memaksa mbah kung untuk periksa ke dokter. Dari situlah keluargaku mengetahui bahwa mbah kung menderita penyakit paru-paru yang sudah sangat parah dan harus dirawat.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Ketika itu kami hanya mampu berdo’a semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk beliau. Namun ternyata takdir berkata lain. Allah mengambil beliau lebih cepat dari perkiraan kami.  Ketika itu aku benar-benar terpukul. Merasa bodoh dan tak berguna. Bagaimana mungkin aku membiarkan salah seorang keluargaku meninggal gara-gara rokok? Padahal aku begitu paham bahwa rokok itu tidak baik bagi kesehatan. Ah, andai saja waktu itu…. Sudahlah, hanya sebuah pegadaian kosong yang selalu terbayang.

***

Bermula dari pengalaman itu, kini aku memilih menggeluti dunia kesehatan. Aku ingin merubah keadaan dengan menyelamatkan jiwa-jiwa yang terancam.

“Kalian harus ingat bahwa di dalam rokok terdapat 40 ribu racun berbahaya. Oleh karenanya, kalian wajib menghindari rokok. kalian juga harus mengingatkan ayah kalian untuk tidak merokok. Jelaskan pada mereka bahwa rokok itu berbahaya. Ingat ya, bukan hanya berbahaya bagi orang yang merokok, namun juga bagi mereka yang menghirup asap rokok,”Jelasku panjang lebar mengenai bahaya rokok kepada anak-anak SMP  kelas satu di daerah Jakarta.

“Baiklah, untuk mengakhiri perjumpaan kita kali ini, kakak akan memberikan pertanyaan . Jika salah satu dari kalian bisa menjawab, maka akan diberti hadiah”Tambah Mira.

Anak-anak terlihat begitu antusias menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mira.

Syukurlah,”ungkapku bahagia.

Melihat sikap antusias mereka, aku merasa bahwa penyuluhan ini tak sia-sia. Semoga saja mereka mampu mengambil hikmah dari apa yang aku berikan.

***

“Sepertinya penyuluhan kita kali ini berhasil,”ucapku pada Mira ketika dalam perjalanan pulang.

Bukannya membenarkan perktaanku Mira justru menampakkan raut muka penuh keheranan.

Aku mengibaskan tanganku di depan mukanya, “Hey, kau kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku?,”tanyaku menyelidik.

“Ucapanmu terlalu aneh bagiku. Kau mengatakan hal seperti itu seolah-olah baru pertama kali sukses dalam penyuluhan,”jawabnya.

Aku terdiam sejenak, “hahaha benar juga. Tapi nggak tau kenapa aku seperti merasa ada yang beda dengan penyuluhan kali ini Mir,”…

“Mungkin karena tema kali ini berhubungan dengan cerita masa lalumu. Bisa jadi kamu merasa puas lantaran keberhasilanmu kali ini telah membayar lunas hutang-hutangmu di masa lalu,”jawbnya sambil menepuk bahuku dan tersenyum.

Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum. Ya, mungkin perkataan Mira ada benarnya. Semoga saja setelah ini tak ada lagi nyawa-nyawa yang menjadi tumbal dari rokok.

Biarlah si mbahku saja yang mengalaminya, jangan sampai ada korban-korban selanjutnya,”Batinku.

 

The End……

Lailatun Ni'mah

Seteru Ku dengan Rokok

Karya Lailatun Ni'mah Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 23 Februari 2017
Ringkasan
Kupejamkan mataku dan kubayangkan sentuhan tangan beliau di keningku, melenyapkan sisa mimpi buruk masa kecil. Jemarinya menjelajahi keningku, mengikuti rapal-rapal do'a yang tak pernah ku mengerti.
Dilihat 34 Kali