O

O

Lailatul Sya'diyah
Karya Lailatul Sya'diyah Kategori Buku
dipublikasikan 05 April 2018
O


Sebulan lalu saya khatamkan satu buku dari Eka Kurniawan yang berjudul “O” sebuah buku novel yang sarat akan nilai-nilai sosial masyarakat, tetapi saya baru ngepost sekarang. Saya mulai menyukai diksi yang dibawakannya, alur ceritanya yang membuat pembaca lebih banyak mengingat cerita sebelumnya agar bisa mendalami cerita-cerita selanjutnya.
Cerita-cerita di novel ini lebih condong pada cerita fabel seekor monyet yang memiliki cita-cita luhur, yakni ingin menjadi manusia. Dalam buku ini diceritakan tentang perjalanan O yang ingin bertemu dengan kekasihnya. Kekasih, yang telah diyakini telah berubah menjadi manusia lebih dulu, dan O sangat berharap manusia reinkarnasi dari kekasihnya tersebut mampu mengenali dirinya dan hidup bersama.
Untuk menjadi seorang manusia, seekor monyet berjuang keras untuk bertingkah layaknya manusia, semua aktifitas, karakter, dan tingkah laku dilakukan dengan meniru kebiasaan manusia. Tapi monyet tetaplah monyet, manusia hingga ia bersatu kembali dengan tanah bentuk, rupa, dan wujudnya tetap sama ketika dia dilahirkan.
Dalam novel ini, Eka banyak menceritakan tentang kehidupan manusia yang anomie, pun yang berbudi. Nilai-nilai sosial yang terkandung disini semuanya tersirat. Seperti diceritakan pada bab 8-9 seekor monyet bernama Entang Kokasih telah membunuh manusia berpangkat polisi, Joni Simbolon dengan revolver rekannya yang sesam polisi. Seekor monyet bisa melakukan pembunuhan hanya karena dia melihat praktik tembak pemilik revolvel sebelumnya. Begitulah cerminan hidup di dunia. Hidup diantara makhluk-makhluk sosial. Jika kita bertindak anomie yang kelewat batas, maka tak ubahnya manusia itu seperti Entang Kosasih, yang dengan gampang melenyapkan rekan satu dan lainnya dengan tanpa penyesalan sedikitpun. Sehingga hidup hanya dimaknai dengan saling menggulingkan satu sama lain. Prihatin.
Dalam cerita dengan tokoh yang berbeda, namun masih ada sangkut pautnya dengan cerita sebelumnya, diceritakan, Betalumur seorang manusia yang meminjam tubuh seekor babi gembrot dan montok untuk berjudi peruntungan nasib hidupnya. Haruskah hidup terjungkir dan terbalik, seperti dalam novel ini? seekor binatang ingin menjadi manusia untuk hidup yang lebih bermakna, namun manusia lebih suka berada di dalam tubuh biantang dengan harapan untuk hidup yang lebih baik? Nyai Banjarsari yang menganggap Betalumur sebagai anak sendiri menunggui lilin untuk Babi Ngepet Betalumur hingga beberapa hari dan habis banyak lilin. Dia terus mengingat kenangan suaminya dulu mati dalam wujud babi dan berubah menjadi mayat manusia. Masa lalu. Dia juga mengingat, dia pernah berkata pada Betalumur, “Tanpa masa lalu, kau tak punya masa depan, Bocah”
Saya mengagumi Nyai Banjarsari, mengagumi karena dia telah menyelesaikan sebuah permainan dengan mengambil keputusan yang sangat besar. Dia belajar dari masa lalunya, dia kembali memikirkan baik buruknya, mengambil jalan tersulit untuk membuat cerita masa lalu seorang bocah, sehingga dia punya masa depan. Ya, masa depan yang terkatung-katung, walau itu hanya masa depan yang tinggal cerita.
Buku ini sangat layak untuk dibaca, untuk melatih kepekaan sosial kita, untuk terus berimajinasi tentang kehidupan kita sekarang ini, didunia ini. Tempat kumpulan hewan yang hidup bersama bisa disebut hutan. Lantas adakah hutan yang lebih baik untuk manusia di dunia ini?
6 Maret 2018