KAKAK SENIOR

Lailatul Sya'diyah
Karya Lailatul Sya'diyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 November 2017
KAKAK SENIOR


Senja ini, seakan tak berbekas, matahari mulai mengadu pada langit. Sinarnya berubah menjadi lembayung. Indah nian parasnya. Muka langit berseri seperti cantiknya pengantin perempuan saat di pelaminan. Indahnya abadi tak terkira. Tahulah, Sang Pencipta, pemilik keabadaian melukis wajah secantik itu. Tak bisa henti rasanya jiwa dipenuhi rasa syukur. Sekelompok burung gagak putih yang dipenuhi jiwa syukur terbang berarak-arak melewati lembayung senja dan mereka menambah keelokan lukisan Ilahi. Bibir ini tak henti-hentinya menungging senyum. Rasa syukur semakin berlipat-lipat. Bisa hidup di belahan dunia yang begitu nikmatnya dihabiskan oleh waktu demi waktu.


Di layar lebar kehidupan ini, banyak yang menyedihkan, namun lebih banyak lagi yang membahagiakan. Kenangan-kenangan yang berbekas, menyimpan sejuta keberkahan dalam hidup. Elok kiranya setiap hal yang menghampiri kita dibalut rasa syukur pada Ilahi. Keindahan semesta jika disyukuri dan dinikmati adanya sungguh indah nian dan tambahlah rasa sayang Sang Khalik kepada makhluknya.


Di setiap senja menyapa, aku suka sekali berada di ujung taman ini. Duduk duduk di atas rumput yang hijau. Kadang setelah selesai perkuliahan aku dan teman-temanku suka berkumpul disini. Untuk mengerjakan tugas kelompok ataupun hanya sekedar bercanda dan tertawa bersama. Setiap Sabtu sore, aku selalu berada di taman depan rektorat kampus kami itu. Untuk latihan bersama komunitas Pecinta Puisi di kampusku. Setiap seminggu sekali kami berkumpul untuk latihan membaca puisi, musikalisasi puisi, maupun phantomim. Ya, kebanyakan dari kami memang lebih suka puisi. Selama sepekan kami menulis puisi seindah mungkin dan sebanyak mungkin untuk ditampilkan di akhir pekan dan mendapat apresiasi dari yang lain, sehingga setiap minggu kami selalu bisa belajar cara membuat puisi yang baik.


Seorang senior kami, yang sungguh piawai dalam membuat puisi, membacakannya penuh ekspresi, dan mampu mengoperasikan alat musik sebagai pengiring musikalisasi puisi selalu hadir di tengah-tengah kami untuk mengajari kami tentang itu, mengapresiasi dan menilai puisi yang kita buat selama sepekan. Sebenarnya anggota komunitas kami cukup banyak, hanya saja yang rajin datang setiap akhir pekan bisa dihitung dengan jari. Maklum, kami memang komunitas yang tak mengikat seperti organisasi-organisasi kampus ataupun BEM di kampus. Kami hanya komunitas suka relawan yang tak menuntut loyalitas dari masing-masing anggota. Siapa yang mau terus belajar dialah yang akan bertahan. Semacam seleksi alam namanya.


Kak Beni, seorang senior kami yang masih aktif mendampingi kami dari beliau masih di kampus yang sama hingga kini dia sudah melanjutkan studinya di Pasca Sarjana di kampus yang sama pula. Beliau sungguh semangat luar biasa dalam mengapresiasi seni, puisi pada khususnya selalu memperhatikan apa yang sudah kita capai pada Sabtu Sore itu. Sungguh kami seperti keluarga sendiri. Anggota komunitas yang datang setiap akhir pekan itu biasanya tak lebih dari lima belas orang. Sisanya hanya datang ketika kami adakan acara-acara besar di kampus saja.


Kak Beni selalu menekankan pada kami untuk terus semangat menelateni dunia sastra ini. Dan aku adalah salah satu orang yang selalu mendengarkan apa kata Beliau. Sampai pada suatu sore di hari Sabtu, yang datang di taman depan rektorat itu hanya aku. Hanya ada kami berdua. Kami sudah menunggu sekian lama. Kami berbincang kesana kemari sambil menunggu yang lain datang. Tapi nihil, menjelang senja hanya ada kami berdua. Sampai akhirnya diujung perbincangan kami, beliau berkata. “Nuri, kau itu unik ya orangnya?” katanya sambil menyipitkan sebelah matanya.”
“Unik gimana, Kak?” Jawabku bingung sambil memoncongkan bibirku.


“Ya, iya yang lain nggak ada yang datang, cuman kau yang bisa bertahan sampai akhir.” katanya sambil melihat sekitar.
“Sampai akhir, maksudnya?” aku masih kebingungan dengan pertanyaannya yang menimbulkan tanda tanya baru itu.
“Ya, memperjuangkan hidup ini begitu unik. Kita selalu tepana dengan hal-hal yang unik-unik. Entahlah dari awal kau masuk komunitas ini, kau adalah orang yang unik di mataku. Kau orangnya rajin, tidak mudah mengeluh, dan selalu semangat.” katanya masih dengan pandangan mata tertuju sekitar.


Aku diam masih tak mengerti arah pembicaraan ini. Sungguh membuatku terdiam lama dan berfikir keras.
Dia melanjutkan pernyataannya karena mungkin dia rasa kurang memahamkan pembicaraannya padaku. “Saya rasa saya cocok aja sama kamu, Nur. Ya, kita bisa saling cerita satu sama lain. Seperti saya sudah cerita tentang Ibu saya tadi. Saya cerita tentang keluarga tidak pada sembarang orang lho. Saya hanya cerita ini ke kamu.”
“Hmm. Ya, karena saya ngerasa nyambung juga sih sama Kak Beni, nyambung saja saya belajar tentang seni, sastra sama Kak Beni. Intinya segala sesuatu itu dibawa asyik saja. Itu saja sih kalo saya, Kak.”
***
Hari demi hari setelah saat itu, kami jadi semakin dekat. Yang awalnya kita tidak pernah menyapa lewat cellphone, kini kami lebih sering memberi kabar satu sama lain lewat Whatsapp. Hampir setiap hari, hanya mungkin ketika kami sama-sama disibukkan dengan aktifitas masing-masing kami lupa memberi kabar masing-masing. Namun tak lebih dari tiga hari.
Kak Beni memang sosoknya baik, perhatian, dan bisa menjaga perempuan. Entahlah, sikapnya yang membuat lemah lembut itu seakan membuatku nyaman. Dan kami seperti lebih dari senior dan junior. Tapi, kami punya prinsip yang sama, yakni kami tidak mau terikat pacaran. Kami hanya bersama sebagai teman, sebagai senior dan junior. Si junior yang selalu belajar pada senior, dan si Senior yang selalu terbuka pada junior. Itu saja. Kami tidak pernah membicarakan hal yang terlampau mencolok terlihat kearah sana. Namun dari sikap, teman-teman sekomunitas menyadari sikap Kak Beni yang berbeda padaku. Tak jarang aku menjadi target cie-cie mereka.
***
Sebulan sebelum Kak Beni wisuda dia menemuiku untuk berbicara masalah serius. Beliau bercerita tentang Ibunya, seperti mengulang cerita pada waktu itu. Ibu Kak Beni menginginkan beliau segera menikah dan sudah merindukan kehadiran seorang cucu. Maklum, kak Beni adalah anak pertama dan Ibu Kak Beni tinggal sendirian di rumah. Ayah Kak Beni sudah lama meninggal dan dua adiknya bekerja di luar kota. Sang Ibu yang sudah sangat berharap pada Kak Beni, Beliau ingin mewujudkannya. Karena itu Beliau menceritakannya padaku.


Seperti jantung disambar gledek di siang bolong. Aku benar-benar bungkam. Haruskah secepat ini. Aku yang masih penat dan tertekan dengan skripsi harus memecah pikiranku jadi dua. Haruskah beban hidupku kutambah lagi dengan menikah di usia muda dan mendesak posisi skripsiku juga. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku yang masih kekanak-kanakan, masih berpikir tentang indahnya menggapai cita-cita, benar-benar rasanya mau marah. Kenapa harus sekarang dan harus aku. Aku bingung apa yang harus aku katakan pada Kak Beni. Kita memang cocok tapi tidak secepat ini pikirku.


Kak Beni terus meyakinkanku, bahwa menikah bukanlah hal yang bisa menggangguku untuk meraih cita-citaku. Justru beliau akan terus mendampingiku untuk itu. Kita bisa berjalan bersama. Meraih cita-cita bersama. Menghadapi suka duka bersama hingga ajal yang memisahkan kita. Kak Beni begitu yakin denganku. Bersamaku kita bisa berjuang bersama. Akupun berpikir demikian. Namun, banyak hal yang harus kupertimbangkan, bukan hanya tentang kebahagianku saja, tapi tentang keluarga. Pihak pertama yang menjadi pertimbanganku untuk meraih masa depan.


Aku diam, aku galau. Aku tak bisa merasakan lezatnya ayam bakar kecap di hadapanku. Sungguh kacau hidupku. Aku berada di posisi yang benar-benar takkuinginkan. Kenapa harus sekarang? banyak yang harus kupertimbangkan. Sesak dadaku. Semua bercampur menjadi satu. Apalah hidupku ini. Begitu susah kutulis dengan kata-kata. Kuatkan hamba, Ya Robb.


Minggu depan sudah libur semester, kuputuskan untuk pulang dulu. Berhenti sejenak dari aktifitas yang berhubungan dengan skripsi. Mengingat dosen pembimbing juga tidak mau diganggu di tengah-tengah liburan mereka. Kembali ke rumah seakan mengobati segala lara. Mengembalikan semua semangat yang pernah hilang. Bertemu Ayah, Ibu, Kakak dan Adikku. Bercanda bersama mereka. Aku menemukan keceriaanku kembali setelah sekian lama mulai menghilang dari sisiku.


Malam ini adalah malam yang membahagiakan bagi keluarga kami. Di rumah kami sudah ada berbagai hidangan makanan. Ruang tamu kami disulap menjadi sangat indah. Tembok putih kami dihiasi dengan paper flower ukuran 2x2 meter. Semua ini disiapkan untuk acara lamaran anak pertama di rumah kami. Kakak sulung perempuanku. Ini momen bahagia kami. Akhirnya kakak menikah setelah proses taaruf dua bulan yang lalu.


Rangkaian acara sudah selesai. Aku ingin menyapa calon kakak iparku kelak. Hanya sekedar mengucapkan selamat. Mungkin itu cukup. Calon kakak iparku berdiri di teras rumah kami. Karena rombongan akan pulang. Kemudian aku menyapa dari belakang dan mengucapkan selamat padanya, “ Kak Beni, selamat ya. Hari ini Kakak mewujudkan impian Ibu Kakak. Semoga Kakak Bahagia.”

  • view 32

  • Anis 
    Anis 
    15 hari yang lalu.
    1. Tak jarang aku menjadi target cie-cie mereka.
    aku boleh ikutan bilang cie gak mbak?

    2. pas sampai 'lezatnya ayam bakar kecap' jadi laper...

    3. twist ending? apakah Nuri bahagia karena lenyap sudah kegalauannya, atau sedih karena melepas si KS?

    4. numpang komen mbak

    • Lihat 2 Respon