Sampai Pada Titik Yang Ditentukan…

Lailatul Sya'diyah
Karya Lailatul Sya'diyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 September 2016
Sampai Pada Titik Yang Ditentukan…

Kupandangi langit biru di pagi ini. Tampak ada yang berbeda. Dia mulai bermuram durja. Tak kulihat senyum tersungging sama sekali di bibirnya. Aku mulai menerawang jauh, berharap menemukan senyumnya lagi yang ditujukan padaku seperti hari-hari kemaren. Tidak. Tidak juga. Tetap tidak bisa. Kenapa? Kenapa yang kutemui di pagi ini semua sinis padaku. Apa salahku?

Aku membalik badan, kembali memperhatikan tas ransel besarku yang sudah terisi penuh setelah semalaman kupacking di tempat ini, di tempat dengan penuh  segala rasa untuk yang TERAKHIR kalinya. Aku memperhatikan tasku. Dia mulai enggan menunjukkan semangat paginya. Dia mulai tak menghiraukan sapaanku di pagi ini. Dia bermuram durja, sama seperti langit elok di pagi ini.

Aku berusaha berpindah ke tempat lain. Kususuri koridor kos-kosan ku selama 2 tahun 3 bulan ini. Tak kutemui dinding-dinding yang bersahabat lagi padaku. Mereka semua meneriakiku. Memamkiku dengan sesuka hati mereka. Tak ada lagi, ketentraman dalam jiwaku sekarang. Tak ada lagi yang seperti dulu.

Kenapa? Kenapa? Kenapa semua tak lagi berpihak padaku. Aku terus berfikir keras. Sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya. Aku mulai mendengar bisikan halus dari sisi kiri dan kananku. “Siapkah kau akan meninggalkan segalanya?” bisikan itu seakan mampu meluluh lantakkan seluruh organ tubuhku. Hingga aku tak bisa lagi menahan rasa perih yang teramat dalam di jiwaku. “Secepat itu kamu menjadi orang teregois di dunia ini?” bisikan lain kembali merasuki jiwaku. Aku lunglai. Tak bisa menahan perasaan yang semakn membuncah menyesakkan dada.  “Kenapa kamu hanya bisa menangis?”  tak ada lagi yang bisa menahanku. Semua terjadi begitu saja. Semua tanpa kusadari. Semua mengalir apa adanya.

Dalam jiwaku berontak sekeras-kerasnya, “Aku nggak ninggalin semuanya”, “Aku bukan orang yang egois”,  perlahan suaraku parau dan berusaha mengatakan ini “Tapi aku nggak bisa apa-apa, aku hanya bisa menangis, Tuhan”.  Aku nggak bisa apa-apa selain menjalani semuanya sendiri. Mengambil keputusan ini sendiri. Dan meninggalkan sebanyak mungkin jejak-jejak jiwaku seorang diri.

Hari ini berbeda dari biasanya. Sulit untuk berfikir jernih. Karena mulai hari ini aku harus benar-benar berada di tempat yang berbeda dari kemaren, dari kemaren lusa. Dari minggu lalu, bahkan tahun lalu. Tak disangka aku sudah berada disini selama  +- 4 tahun.

Bahkan hingga konsentrasiku mulai terpecah. Semua seakan menjadi layu, akankah suatu saat aku bisa kembali kesini lagi. ya Allah, sedih sekali. Hingga tak bisa lisan ini berucap. Bibir ini kelu. Badan ini beku dan jiwaku seakan terguncang hebat. Hanya bisa pasrah dengan semua keadaan yang sudah terjadi. Semua akan tiba pada linimasa yang satu, yang menjadi takdir untuk harus kita terima dan kita jalani dalam keadaan apapun.

 

See You next time Malang-ku tercinta

Untuk  keluargaku yang ada di Malang, kalian memang bukan segalanya buatku. Tetapi kalian punya segalanya untuk selalu membuatku bahagia. Bahagiaku adalah karena kalian. Tak pernah kulupakan sedetik pun waktu yang pernah kulalui bersama kalian. Aku sedih harus berpisah dengan kalian, tapi tak seharusnya, aku tahu. Aku bahagia karena memiliki keluarga seperti kalian, selamanya, kalian tetap keluargaku.         SEE YOU

#LKP2M #SIMFONIFM #MARKETING’12 #MANAJEMEN’12  #GAGABI #FAZA41’12 #PM1062014 #PKPBAB8’12 #PRAXIV #DKD14 #DLL #GABISANYEBUTLAGI

  • view 272