Ibu dan Akuntansi Manajemen (01)

Lailatul Sya'diyah
Karya Lailatul Sya'diyah Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 September 2016
Ibu dan Akuntansi Manajemen (01)

Ibu dan Akuntansi Manajemen

#SarapanKataKMO01

Membincang masalah perempuan, banyak hal yang menarik di dalamnya. Apalagi jika bercerita tentang sosok malaikat sekaligus bidadari yang lembut hatinya dan tegar jiwanya. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Ibu.

Ya, Ibu. Untuk menjadi seorang Ibu sangatlah sederhana.  Karena kita semua terlahir dari rahim seorang Ibu. Namun, kesederhanaan itu dibarengi dengan  perjuangan yang gigih, pantang menyerah, bahkan rela mengorbankan nyawa. Lalu, kehebatan Ibu pula juga didapatkan tidak harus dari mengenyam sekolah formal tinggi-tinggi. Seperti sekelumit cerita ibu saya yang membuat saya tersadar kalau gelar Sarjana Ekonomi (SE) yang saya sandang saat ini masih jauh dari kata membanggakan. Bahkan kalau boleh saya menilai diri saya, masih sangat jauh dari kata sempurna, dan harus belajar lebih dan lebih lagi.

Begini ceritanya, beberapa waktu lalu, waktu itu saya mau berangkat dari rumah ke perantauan. Pagi-pagi sehabis shubuh tentu membantu Ibu di dapur tapi karena Ibu masih keluar sebentar akhirnya saya dan kakak yang di dapur.  Tapi sebelum naker (baca: mengambil) beras untuk ditanak, Ibu bertanya “Ndok, nanti mbontot apa nggak?“  spontan saya menjawab “Ya, mbontot Buk”. Kemudian Ibu menjawab “Oya sudah Ibuk tinggal dulu ya.” “Nggih, Buk” kataku.

Kemudian kami memasak seperti biasanya. Setelah semuanya siap saji. Ibu baru datang dari luar dan langsung menengok ke dapur. “Lho, nasinya kok cuman segini.” Pekik Ibuk dengan kagetnya. “Kan seperti biasanya Buk.” Jawabku polos. “Lho, katanya mau mbontot ya ditambah to Nduk” jawab Ibuku santai.

Lalu saya berfikir keras karena hal itu. O, iya ya. Saya kan mau mbontot, lalu kenapa tidak saya lebihkan takaran berasnya. Sontak Ibuku langsung menanak nasi lagi tanpa rasa penyelesalan ataupun kekecewaan.

Setelah sampai di kota perantauan dan bertemu kembali dengan beberapa pihak, salah satunya dosen penguji skripsi saya, ternyata betapa ilmu akuntansi manajemen saya selama ini belum cukup memekakan saya dengan hal-hal aplikatif seperti di atas. Saya sadar, bahwa benar-benar terbukti kalau ternyata gelar Sarjana Ekonomi (SE) yang sudah saya dapat selama ini selama empat tahun ngublek-ngublek rumus ekonomi, perhitungan akuntansi, semuanya masih kalah sama ilmu niteni Ibu. Subhanallah, akuntansi manajemen Ibu dengan modal pengalaman beberapa tahun itu bisa mengalahkan Sarjana Ekonomi sekalipun. Jadi jangan pernah meremehkan pekerjaan Ibu Rumah Tangga.

Hidup ini sebenarnya simpel jika kita mampu menyederhanakan pikiran kita. Tapi hidup jadi rumit ketika manusia tak dapat menggali kepekaan dalam dirinya. Jadi, mulai sekarang yuk sama-sama kita peka setidaknya apa potensi pada diri kita. Dan coba peduli pada lingkungan sekitar.

 

#1000penulismuda

#KMOIndonesia

  • view 201