DIAM ITU SAKIT

Laila TsulitsA
Karya Laila TsulitsA Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Januari 2017
DIAM ITU SAKIT

                                                                                                                     DIAM ITU SAKIT

Matahari tersenyum ceria pagi ini, awan-awan bersorak bergembira. Wajahku tak ku lewati dengan keceriaan, aku sangat bersyukur menikmati kehidupan ini sekecil apa pun itu. Burung-burung bernyanyi indah disana, kupu-kupu beterbangan mempercantik langit. Sungguh sangat beruntung raga ini masih bisa menikmati semua ini yaAllah. Pandangan pagi ku selalu aku tujukan pada sudut langit sana, di sana seolah banyak harapan yang akan ku wujudkan.
"Qiya, Dava menunggumu di bawah". Itu suara Ibuku dia adalah salah satu orang yang sangat berharga di kehidupan ini. Dan yang ke-dua ada Dava dia sahabatku dari kecil.
"Iya bu, tunggu sebentar aku kebawah sekarang".
Sepertinya Dava datang lebih awal kali ini, dan biasa nya jika kami berangkat ke kampus sepagi ini ada sesuatu hal yang ingin dia kerjakan dulu.
"Kamu mau ngerjain apa dav?".
"Gaada ya, pengen aja dateng lebih awal".
Dan roman-romannya ada yang dia tutup-tutupi, tapi aku sebagai sahabat dari kecil nya harus tetap percaya. Karena sebuah kepercayaan itu mahal.
Dava pun masuk ke kelas nya begitu pun aku, ketika kelasku selesai biasanya Dava sudah stay depan pintu tapi kali ini dia belum kelihatan batang idungnya.
"Ya, makan dulu yu". Desah Mira salah satu temanku di kampus.
"Yaudah yu, Dava kemana ya kok belum kelihatan?".
"Tanyain aja ketemen nya ya". Dan tiba-tiba fachrul datang, dia adalah teman kelas nya Dava.
"Ehh rul".
"Iya".
"Kamu liat Dava gak?".
"Tadi sih ada di taman sama Angel".
"Angel? Siapa?".
"Dia murid baru di kampus ini, aku juga gak tau Dava udah bisa akrab gitu sama si Angel".
"Yaudah makasih ya". Angel? Aku gak pernah tau soal Angel, dan Dava?Seorang Dava gak mungkin akrab sama orang baru kenal gitu aja. Karena aku tau dia, Dava sangat dingin apalagi sama orang baru.
Karena aku penasaran aku pun menyusulnya ke taman, ternyata benar Dava sedang asik berduaan. Aku perhatikan Dava sangat akrab sekali sama Angel. Siapa sebenernya Angel itu?. Ketika aku ingin menghampiri nya tiba-tiba Angel meninggalkan Dava, ini kesempatan diriku untuk menemuinya.
"Woy, Angel itu siapa sih?".
"Kamu tau dari mana itu Angel".
"Fachrul".
"Dia itu the first love aku waktu sd".
"Loh kok kamu gak pernah cerita ke aku?".
"Aku lupa karena terlalu banyak cerita sama kamu. Setelah bertahun-tahun lamanya kita gak ketemu dan sekarang satu kampus, apa ini yang di sebut jodoh ya?".
"Haduh kamu itu kalo khayal suka muluk-muluk, gak boleh berharap sama manusia berlebihan va nanti sakit baru tau rasa".
"Yee kamu juga gitu ya".
"Aku berharap sama siapa?".
"Aku, udah ya gausah di tutup-tutupi aku udah pernah baca buku harian kamu".
"Itu kan smp, udah ah aku mau pulang sekarang kalo mau ikut ayo".
"Yaudah yaudah".
Astagfirullah kenapa Dava bisa baca buku harian ku untung saja dia percaya bahwa itu aku tulis waktu smp. Perasaan ini akan tetap selamanya diam dan akan tetap begitu. Aku tidak mau aku salah dalam melangkah soal cinta, aku tidak mau salah menempati hati yang tak seharusnya aku tempati.
Sepanjang jalan aku berusaha bersikap biasa dengannya. Meski aku tau Dava perasaan yang aku miliki itu salah, tapi apa boleh buat cinta tumbuh dengan sendirinya.
"Ya besok aku gak kerumah kamu yah? Aku mau jemput si Angel". Deg hati ku sangat sakit mendengar hal itu. Apa Dava akan terlihat berbeda kepadaku? YaAllah aku gak ingin kehilangan dia.
"Qiya kamu kok diem sih? Kamu kan sering aku jemput sedangkan Angel.." Aku memotong pembicaraannya langsung.
"Ya".
Dava itu kenapa sih? Dia itu mungkin tau aku menyukainya tapi kenapa dia mengatakan hal ini. Astagfirulah hilangkan semua keburukan pada hatiku yaAllah.
Malam ini serasa menusuk jantungku, bulan serasa gelap jika aku melihatnya. Perasaan yang salah ini harus aku hilangkan, aku tidak ingin hati ini sakit. Aku belum siap untuk merasakan rasanya patah hati. Mungkin cara satu-satu nya adalah aku harus menjaga garakku dengan Dava.
Pagi ini tak ceria seperti pagi yang aku rasakan, burung-burung tak bernyanyi seperti biasa nya. Kupu-kupu yang selalu menghiasi langit hilang begitu saja. Pagi ini sungguh-sungguh mendung untukku.
"Qiya?". Teriak Mira. Aku tidak membalasnya dengan satu senyuman pun.
"Gak kayak biasanya, kamu kenapa ya? Wajahmu itu mendung gak cerah kayak biasanya".
"Gak papa mir mungkin aku lelah aja".
"Eh ya tadi aku liat si Dava boncengan bareng sama si Angel ". Aku hanya membalas perkataan Mira dengan senyuman.
"Tadi juga nanyain kamu, nanyain apa kamu udah sampe kampus atau belum".
"Yaudah yu masuk kelas nanti kita telat".
Hari ini aku mencoba fokus untuk belajar dan tak ingin memikirkan apa pun juga. Ketika kuliah selesai seperti hari kemarin Dava tidak biasanya tak menungguku di depan pintu. Karena aku fikir dia pasti sedang bersama Angel akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri saja.
Di rumah pun aku tak memiliki aktivitas apa-apa. Aku merasa bahwa hari ini aku sangat kehilangan sosok Dava. Diam ini menyiksa diriku, kenapa aku harus cemburu melihat Dava bila bersanding dengan Angel? Padahal toh selama ini Dava banyak dekat dengan wanita. Tapi aku siapa? Aku hanya temannya, aku gak berhak larang Dava untuk tidak mendekati wanita selain aku. Diam yang tetap hanya akan membantu diriku.
"Ya, ada dava di bawah kamu turun yah?".
"Ah males bu, bilang aja gak ada".
"Gak boleh gitu ah, ayo cepet turun". Ibu menarik tanganku agar aku turun kebawah.
"Ah ibu males".
Ketika aku sampai di bawah Dava menatapku dengan tajam tapi ku palingkan pandanganku dengan cepat. Aku duduk berjauhan dengannya.
"Kamu itu kenapa sih ya?".
"Gak".
"Aku minta maaf jika tadi pagi aku gak jemput kamu. Tadi aku mencarimu untuk mengajak pulang bersama tapi aku cari kamu gak ada".
"Kamu cari aku atau pacaran?".
"Kamu itu kenapa sih ya? Marah-marah mulu".
"Mau ngapain sih kesini, aku sibuk".
"Aku mau cerita sama kamu ya, karena kamu kan sahabat aku jadi kamu akan menjadi orang pertama mendengar cerita ini".
"Apa?".
"Aku hari ini jadian sama Angel, udah aku bilang aku pasti bisa dapetin si Angel". Hati ini semakin hancur tanpa bisa aku bendung air mata ini menetes dengan deras nya.
"Kamu kenapa ya? Kok nangis".
"Enggak. Kamu pulang aja aku mau istirahat". Tanpa berkata apa-apa lagi aku pun langsung naik ke atas.
Aku bantingkan badan ku di atas tempat tidurku, yaAllah apa ini patah hati? Apa ini hasil dari cinta diam ku? Kenapa sakit yaAllah. Aku berusaha menjaga perasaan ini dengan amat sangat hati-hati, aku mencintai nya dalam diam. Apa itu salah? Sehingga kau patahkan hati ini? Jika begitu aku akan berusaha menghilangkan perasaan ini.
Ternyata mencintai dalam diam itu tak semudah yang aku bayangkan. Butuh konsekuensi hati untuk menerimanya. Mungkin patah hati ku ini gara-gara aku telah menduakan cintaMu yaAllah, maafkan aku. Aku lebih mencintai nafsu ku, mulai saat ini aku akan menunggu pilihan terbaikmu tanpa diam.

  • view 114