HIJRAH

Laila TsulitsA
Karya Laila TsulitsA Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Januari 2017
HIJRAH

                                                                                          HIJRAH PILIHAN TERBAIK
Namaku Lathifah aku salah satu mahasiswi terkenal di Yogyakarta, keluargaku semuanya tinggal di Bandung hanya saja aku sekarang di Yogya tinggal di Pondok Pesantren. Hari ini seperti hari biasanya jadwal kampusku, ketika aku sampai di kampus sepertinya di halaman depan ada bazar buku. Dan aku sangat suka buku, dari itu sudah tidak aku pikir panjang lagi segera aku memilah milih buku.
"Ifaaaahh..." Teriak Aima dan Dimas. Mereka berdua adalah sahabat ku di Yogya, mereka akrab memanggilku dengan sebutan Ifah panggilan sayang katanya.
Aima adalah sosok wanita cantik dan sangat modern bisa di bilang dia adalah bintangnya kampus karena Aima sangat mahir dalam memaikan piano nya, dia juga sosok wanita yang sangat pintar aku pun sering di bantu jika aku merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas kampus. Sedangkan Dimas, dia sosok pria yang sangat baik kami sering menghabiskan waktu bersama. Dia anak dari dosen tergalak di kampus kami meski kami agak ragu waktu pertama kali kami mengenaplnya tapi jika sudah mengenalnya Dimas anak nya sangat ramah apalagi dia sangat perhatian banyak wanita yang meleleh karenanya.
"Aduh ifah kamu tuh kenapa sih kalo udah sama buku aja gak pernah nengok kalo dipanggil" cetus Aima.
"Iyah Afwan Ima, aku sedang sibuk memilih buku. Soalnya sekarang aku udah gak punya buku".
"Gak punya buku katamu? 2 lemari di pondok mu itu apa kalo bukan buku".
"Ya tapi kan semuanya udah aku baca".
"Yasudah lah terserah kamu aja, oh ya gini fah aku mau minta tolong absenin yah kelas siang nanti".
"Kenapa? Kamu mau berkencan lagi?".
"Iyah, abis nya satu minggu ini aku belum ketemu si Fajar" Fajar itu kekasihnya Aima mereka sudah menjalin hubungan selama 3tahun.
"MasyaAllah Aima aku kan sudah bilang jangan pacaran, itu dosa loh ma. Lagi pula aku gak mau absenin kamu ah aku bohong lagi males".
"Ahh Ifah ayo dong kamu kok gitu sih sama sahabat kamu".
"Tapi itu salah Aima, kamu enak bisa sekolah disini dengan uang kedua orang tuamu. Seharusnya kamu bersyukur toh banyak di luaran sana yg gak bisa sekolah kayak kita".
"Ifah aku tau tapi ini situasinya lain pokoknya absenin aku ya bye".
"Aima, Aima selalu aja kayak gitu. Kenapa sih gak kamu cegah mas?".
"Yaudah lah fah toh itu hidup dia".
"Ya tapikan kita sahabatnya, sudah sewajibnya kita mengingatkan dia".
"Iya iya, kamu beli buku yang mana sih milih kok lama".
"Udah nih, buku judul nya HIJRAH pasti bagus".
"Yaudah cepet aku ada kelas".
Suasana malam ini sangat hangat di kota Yogyakarta, banyak kebahagiaan di pasar Malioboro. Rencananya malam ini kami akan makan bersama, tapi dari tadi aku dan Dimas belum juga menemukan Aima.
"Aima mana ya?". Tanya Dimas
"Tau tuh, di telfon juga gak di angkat". Tiba-tiba teriakan itu muncul.
"Ifah.. Dimas".
"Kamu tuh kemana aja sih Aima, telat mulu kerjaannya".
"Ih Dimas rese banget sih lu. Yaudah sih, toh aku udah sampe juga disini".
"Udah..udah jangan berantem aku udah pesen tempat makan di daerah sini".
Kami pun segera mendatangi salah satu tempat yang sudah aku pesan. Tepat nya di tengah pasar Malioboro. Hal yang kecil yang paling aku syukuri adalah ketika aku bersama mereka.
"Fah kamu mau ini gak aku ambilin ya". Dimas menyodorkan ayam bakar lalu menaruhnya di piringku.
"Syukron mas".
"Aku juga mau dong mas". Pinta Aima
"Ambil aja sendiri kamu kan punya tangan".
"Ih kok gitu sih sama Aima aja kamu baik".
"Aduh Ima masalah kecil aja kamu besarin, nih" aku ambilkan satu potong ayam bakar dan meletakannya di piring Aima.
"Besok kamu nginep tempat aku ya fah".
"InsyaAllah".
Alhamdulillah acara kami malam ini selesai, aku harap nantinya kita masih punya waktu bersama. Aima sudah pulang di jemput oleh pacar nya yaitu Fajar dan aku seperti biasanya pulang berdua dengan Dimas. Dimas sangat baik sekali, dia selalu ada saat aku butuhkan dia sering menasehatiku jika itu salah. Pokoknya jika ada wanita di sebelahnya akan merasa nyaman.
"Mas maaf ya jadi ngerepotin kamu mulu".
"Gak papa fah kamu udah kayak sama siapa aja deh".
"Ya tapi kan aku selalu ganggu waktu kamu".
"Apa sih yang enggak buat kamu fah". Dia selalu saja menggodaku seperti itu.
"Kamu tuh ya selalu aja gitu".
"Fah kamu tuh cantik, pintar, sholeh pula. kenapa kamu sampai sekarang gak punya pacar itu karena kamu tuh selalu dingin sama cowok".
"Ah enggak, buktinya aku ke kamu biasa-biasa aja".
"Iya yah, kenapa ya. Apa jangan-jangan aku pria pilihan mu".
"Dimas kamu kenapa sihh selalu aja menggodaku". Diaa tertawa terbahak-bahak sekali.
Dua hari ini Aima tidak kelihatan batang hidunya di kampus, aku sampai khawatir dengannya. Telfon ku tidak pernah dia angkat. Hari ini akhirnya aku dan Dimas memutuskan akan menemui Aima kerumahnya. Ketika kami tiba dirumahnya tiba-tiba ibu Aima mengatakan bahwa Aima tidak keluar kamar selama dua hari ini kami pun membujuk Aima untuk membuka pintunya. Entah apa yang sedang di rasakan Aima.
Ternyata Aima seperti ini gara-gara pacarnya. Fajar pacar nya itu selingkuh dengan wanita lain, dan wajar jika Aima merasakan sakit seperti ini. Kenapa salah satu di antara kita sering sekali salah menafsirkan apa itu cinta. Jangan salahkan cinta dalam hal ini, salahkan kita yang sering salah mengendalikannya. Aku pun mencoba membujuk Aima supaya dia tidak bersikap seperti ini dan Alhamdulillah dia mengerti.
"Fah aku ingin hijrah, aku ingin seperti mu".
"Alhamdulillah".
Aima juga memutuskan untuk tinggal di pondok bersama ku. Dua bulan ini Aima mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia berhijrah dengan sangat baik, pakaian modern nya itu dia simpan sekarang dia memakai jilbab seperti ku.
"Fah?".
"Hem?".
"Aku kan sudah berhijrah ya, apa kamu tidak berhijrah juga?".
"Dalam hal?".
"Cinta".
"Cinta? Maksudmu? aku sungguh tak mengerti apa yang kamu bicarakan".
"Iya, Dimas sepertinya menyukaimu fah".
"Gak mungkin lah ma kita itu sahabat".
"Mata Dimas gak pernah berbohong fah". Aku terdiam mendengar perkataan Aima, Dimas menyukaiku? Itu tidak benar kita tidak boleh memiliki rasa ini.
"Kok diem? Fah kamu kan udah besar bahkan kamu sudah cukup jika ingin merasakan cinta".
"Aku tau ma, tapi afwan aku belum siap untuk semua ini".
Perkataan semalam sangat mengganggu pikiran ku, aku ingin mendapat kejelasan dari Dimas. Dan kebetulan hari ini dia mengajak ku bertemu.
"Fah, aku mau ngomong sesuatu".
"Ya?".
"Aku suka kamu fah". Dugaan ku benar pasti Dimas akan mengutarakannya.
"Maaf aku gak bisa mas".
"Kenapa? Apa kamu fikir semua ini juga dosa? Baiklah jika begitu aku mengutarakan semunya untuk melamarmu". Deg kenapa Dimas jadi seperti ini, kenapa dia sangat terobsesi sekali.
"Tapi mas, aku belum selesai kuliah dan kau juga belum. Kita sahabat tidak lebih".
"Memangnya kau tidak bisa mencitaiku? Apa aku gak pantes buat kamu".
"Dimas kamu itu pria yang sangat baik, jujur aku sangat nyaman jika berada di sisimu akan tetapi aku belum siap maaf". Aku meninggalkan Dimas begitu saja.
Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke Bandung, aku istirahat kan kuliahku selama satu tahun. Aku fikir ketika aku bersama keluarga itu akan membuatku merasa lebih baik.
Aku bekerja di salah satu sekolah di kota Bandung, ketika aku keluar untuk mencari makan tiba-tiba suara nyaring itu masih terdengar.
"Ifah?".
"Aima? Kamu ngapain disini?".
"Ifah satu tahun kamu ngilang gitu aja". Kami pun mengobrol di salah satu cafe.
"Maaf ma, aku satu tahun ini di Bandung bersama keluargaku".
"Gara-gara Dimas?".
"Bukan".
"Lalu? Setelah satu bulan kamu menghilang fah, Dimas memutuskan mengambil beasiswa di Amerika. Dia sering menanyakan kabarmu kepadaku, emm ini surat untukmu darinya". Aima menyodorkan salah satu surat kapadaku.
"Aku tidak pernah menolaknya ma, hanya saja aku belum siap waktu itu".
"Aku mengerti fah, aku pergi dulu ya aku ada urusan nih kontek aku lagi ya fah".
Sesampai aku di rumah entah kenapa air mata menetes begitu saja badanku melemah menjadi lemas. Aku buka surat dari Dimas
"Assalamualaikum Ifah? Apa kabar? Kepergianmu itu membuatku sakit fah. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu waktu itu, aku sangat bahagia bisa menjadi sahabat mu. Hingga dulu sampai sekarang aku masih menyimpan rasa yang sama fah. Tetapi perasaan yang mungkin salah ini aku tahan fah, kata HIJRAH mu itu sangat bermanfaat untuk ku sampai saat ini. Tunggu aku 3 tahun lagi fah, aku pasti menepati janjiku untuk mengkhitbah dirimu".
Dimas sahabatmu
Dimas membuatku sangat merasa bersalah, insyaAllah aku pasti menunggumu mas. Hijrah ini akan membantu kita untuk bersama aammin.

  • view 152