Lima

Lai
Karya Lai  Kategori Project
dipublikasikan 12 Januari 2018
Dear Mom

Dear Mom


You always want me to say something to you. You always want me to tell you about my thoughts, about me. I always try, but end up I couldn't. So I write to you about it, about things you want to know.

Kategori Acak

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
Lima

Mom, belakangan hari ini rasanya campur aduk. Yang dulu-dulu yang terasa pahit, yang selalu ingin dilupakan itu kembali lagi. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya lewat lalu lalang sambil menangis rintih di atas kasur. Begitu yang terjadi padaku malam-malam ini. Aku tak bisa mencegahnya Mom. Aku ingin sekali memaafkannya dengan lapang dada agar ia segera pergi menjauh dariku dan tak akan pernah kembali lagi seperti yang selalu kau bilang padaku, tapi aku belum bisa. Ia memang menyebalkan, sudah pasti, tapi ia adalah teman lama yang tak pernah lupa mengunjungiku sesekali untuk menanyakan kabar. Walaupun aku membencinya, tapi tanpa kusadari aku menganggapnya sebagai bagian dari hidupku. Aku tak bisa membiarkannya pergi begitu saja Mom. Dan kini, ketika kau lagi dan lagi berkata padaku untuk lebih baik tak menghiraukannya dan terus melanjutkan hidup, aku mulai benci padamu. 

Aku mulai berpikir mengapa aku harus mengacuhkannya jika ia adalah teman yang selalu ada di saat tinggi dan rendahku? Bukankah jika begitu adanya ia, maka ia termasuk dalam definisi teman baik? Dan mungkin kau akan bertanya balik padaku, bukankah kehadirannya selalu membuatmu bersedih? Apanya yang teman baik jika selalu membawa hal buruk? Tidak Mom, kau tidak sepenuhnya benar kali ini, sama seperti kebanyakan hari-hari yang lain juga, kau terlalu berpikiran sempit terhadap hal-hal buruk. Apa yang menurutmu buruk tidak menjadikannya buruk untuk orang lain termasuk aku juga. Mungkin aku dulu sempat menganggapnya hal buruk juga tapi kini aku seperti tahu hal apa yng jauh lebih buruk darinya, ketidakpedulian. Dulu ketidakpedulianku padanya membuatku merendahkan dirinya dan entah mengapa mebuatku sangat membencinya. Aku yang tak ingin mengenalnya lebih jauh berpikir bahwa rasa pahit yang dibawanya tak kan pernah bisa berubah menjadi sesuatu yang manis. Tapi ia selalu ada di setiap sisi kehidupanku Mom, ia dengan lembut menyapaku di setiap malam ketika aku benar-benar rindu pada sosok impianku. Tapi aku masih selalu meronta ketika ia datang berkunjung, menjadikan aku terluka disana sini karena perbuatanku sendiri, bukan karena ia. Menjadikanku tak pernah tahu sisi manis yang ia tawarkan karena terus berontak lari dari rasa pahit yang tak pernah kuterima dengan lapang hati. 

Mom, kini aku sudah sepenuhnya bertekad untuk berteman dengannya. Malam-malam yang akan datang ketika ia berkunjung lagi, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka, tak kan lagi bersembunyi di balik selimut tipis pemberianmu. Aku akan mengajaknya berbincang tentang semua rasa, bukan hanya pahit dan manis karena diantara pahit dan manis adalah sesungguhnya rasa yang perlu dinikmati bukan? Bukan begitu Mom? Jawab aku Mom...

  • view 76