Empat

Lai
Karya Lai  Kategori Project
dipublikasikan 21 April 2017
Dear Mom

Dear Mom


You always want me to say something to you. You always want me to tell you about my thoughts, about me. I always try, but end up I couldn't. So I write to you about it, about things you want to know.

Kategori Acak

926 Hak Cipta Terlindungi
Empat

Dear Mom, hari ini adalah 21 April yang ke-dua puluh tiga kalinya untukku. Hari yang kurasa akan pas untuk kita sebagai perempuan saling memperbincangkan pemikiran dan bahkan perasaan mungkin. 

Kemarin, 2 hari yang lalu aku datang ke bioskop untuk menonton film Kartini, tanpamu. Filmnya bagus Ma, menampilkan cuplikan-cuplikan pemikiran dan perasaan yang saling bertentangan, penuh kontradiksi, persis seperti apa yang kurasakan saat ini. Kau tahu kan Ma, kalau Ibu Kartini sangat berjasa bagi kita karena sudah membukakan jalan yang lebar untuk kita bisa meraih pendidikan tinggi dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya seperti kaum laki-laki? Tapi kurasa bukan itu saja mau Ibu Kartini Ma, kurasa beliau ingin lebih dari sekedar itu. Kurasa inti dari meperoleh pendidikan yang setara adalah agar kita bisa menyeruakkan pemikiran kita juga sebagai perempuan, bisa mengutarakan pendapat yang akan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan juga sebagai perempuan. Tapi kini aku sudah memperoleh pendidikan tinggi pun kenapa pendapatku masih tidak diperhitungkan Ma? Didengarpun tidak Ma, olehmu juga. Apa yang salah?

Kau tahu Ma, menurutku Ibu Kartini sangatlah beruntung. Terlepas dari kegigihan dan usahanya untuk ingin dimengerti sebagai seorang perempuan, beliau punya sosok yang mau mendengarkan isi hatinya juga.  Aku juga ingin beruntung seperti beliau Ma, aku juga ingin didengarkan. Aku ingin kau juga mendengarkan tentang pemikiranku yang tak pernah bisa terpisah dari isi hatiku Ma. Aku ingin kau juga mendengarkan angan-angan yang terlihat membumbung terlalu tinggi ini Ma. Aku hanya butuh kau mendengarkan dan mengangguk-angguk disampingku sambil tersenyum, itu saja. Bila angan-anganku saja kau tidak bisa coba dengarkan, bagaimana kau bisa mencoba menerima kenyataanku yang berjalan tak seperti maumu?

Ma, aku harap kau berpikiran berbeda dari ibu tiri Ibu Kartini. Ku harap kau tak mempermasalahkan begitu berat bagaimana seharusnya derajat kita dimata sosial. Derajat kita dimata orang lain bukanlah kenyataan dari diri kita Ma, yang walaupun bisa dianggap cerminan tapi cermin yang setiap orang pakai untuk melihat selalu berbeda-beda Ma, maka pantulannya tak akan sama persis. Ku harap kau bisa melihat pemikiran dan perasaanku dari cerminku, buka selalu dari cerminmu saja Ma, agar kau mengerti cintaku dan lukaku juga. Dan pada akhirnya kau bisa mengerti diriku yang sangat ingin dimengerti olehmu. Agar kau tak selalu memaksakan kehendakmulah yang paling benar, agar kau juga bisa memperhitungkan keinginanku juga. Karena lain halnya dengan Ibu Kartini yang pada akhirnya mengorbankan kehendak dan perasaannya untuk mau dinikahkan dengan Bupati Rembang kala itu, aku sudah lelah untuk mengorbankan keinginan dan perasaanku untuk menjadi sosok yang ingin selalu kau lihat dari cerminmu. 

  • view 123