Relativitas Rasa

Lai
Karya Lai  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 September 2016
Relativitas Rasa

Hari ini, sang gadis mengenakan celana jins biru dan kemeja kotak-kotak hijau yang kebersaran. Sebenarnya bukan karena memang gayanya seperti itu, tapi ia terlalu malu untuk menampakkan lekuk tubuhnya yang hampir tidak berlekuk. Pinggangnya tak ramping seperti punya gadis di sebelahnya, warna kulitnya juga tak  seterang gadis di depannya. Caranya menutupi rambutnyapun tak seindah gadis-gadis masa kini. Gadis ini terlalu biasa untuk bisa menarik perhatian. Tapi itulah yang sebenarnya sang gadis butuhkan untuk bisa memperhatikan orang lain disekitarnya.

Hari ini, sang lelaki di ujung ruangan juga memakai kemeja hijau. Warna hijaunya sedikit lebih gelap dari yang dikenakan sang gadis. Tapi itu tak jadi masalah, yang penting sama-sama dikatakan hijau. Sang lelaki duduk terpaku tak sedetikpun mengalihkan pandangan pada layar kotak di depannya. Sang lelaki sama sekali tak merasakan getaran lain di ujung lain ruangan ini. Entah sang lelaki terlalu sibuk dengan dunianya, entah getaran itu yang tidak sampai padanya.

2 jam berlalu. Sang gadis mulai gelisah. Matanya semakin tak bisa lepas untuk terus melongok ke ujung lain ruangn ini. Jemari tanganya tak bisa diam, menyentuh tombol-tombol keyboard sekenanya. Kepalanya memikirkan banyak hal. Apalagi hatinya yang berdegup seperti sedang berdansa diiringi musik disko yang kencang. Tapi sang lelaki masih diam tak bergerak dari duduknya.

Hari ini adalah hari kesekian sejak hari itu. Hari dimana matanya menemukan sesuatu yang tak biasa. Seraut wajah yang tanpa sadar membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sebuah senyum tipis yang membuat matanya tak pernah terpejam dengan mudah di malam hari. Sekilas pandangan yang membuat detak jarum jam terasa amat lambat dibandingkan detak jatungnya. Hari dimana esoknya sang gadis terlambat masuk kelas karena terlalu lama memilih pakaian apa yang akan ia kenakan.

Sayangnya, seseorang yang membuat dunia sang gadis seolah berputar lebih cepat dan kadang sekaligus lebih lambat tak menyadari hal itu. Sang lelaki tetap menjadi lelaki yang selalu sama setiap harinya sejak hari itu. Tak ada yang berubah dalam dunia sang lelaki. Sang lelaki selalu berjalan dalam tempo yang sama, tak pernah merasa terlalu cepat atau terlalu lambat. Sang lelaki masih selalu datang tepat waktu ke kelas. Sang lelaki masih terlihat jarang tersenyum. Sang lelaki masih merasa jarum berdetak dengan semestinya. Semua masih terlihat sama pada dan oleh sang lelaki.

Apa yang terjadi? Apa yang salah?

Tak ada yang salah. Semua baik-baik saja. Yang terjadi hanyalah perbedaan rasa antara yang sang gadis dan sang lelaki rasakan. Rasa yang dianggap sang lelaki masih sama sejak pertama kali bertemu dengan sang gadis. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang masih sama dengan awal dulu. Rasa yang tidak berubah. Namun, rasa yang dianggap sang gadis mulai berubah sejak hari itu. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang berbeda sejak hari itu. Rasa yang mulai terlihat lain. Rasa yang indah. Rasa cinta. Rasa yang selalu relatif.

Dilihat 180