Luka Yang Tak Pernah Bisa Kau Mengerti

Lai
Karya Lai  Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Luka Yang Tak Pernah Bisa Kau Mengerti

Ketika aku pertama kali memutuskan untuk bercerita kepadamu tentang lukaku, jujur aku ragu akankah engkau benar mengerti dengan apa yang akan aku ceritakan. Jangan salah sangka, aku tak menuduh kau bukan yang orang kompeten untuk bisa mendengar ceritaku, tapi aku hanya ragu. Ragu, semuanya tak terlepas dari diriku sendiri. Sebelum aku memulai bercerita padamu, aku pun ragu pada diriku sendiri. Aku ragu apakah aku bisa menceritakan lukaku segetir yang aku rasakan. Aku ragu apakah aku bisa menceritakan lukaku sesedih yang aku bisa ingat. Aku masih ragu pada diriku sendiri, tapi aku sudah berani juga meragukanmu.

Aku terluka sejak bertahun-tahun yang lalu karena ingin melihat kau bahagia. Namun, tak menyadari aku sedang terluka, aku terus menjadikanmu pusat duniaku. Bahwa jika kau bahagia, aku pun bahagia, telah menjadi pegangan hidupku sejak entah dulu yang kapan.  Aku berusaha selalu mengiyakan apa yang kau pinta dariku. Aku hampir selalu tersenyum saat kau berada di dekatku, hanya agar kau merasa aku baik-baik saja dan kau pun juga bisa merasa lega pada akhirnya. Aku selalu menjadikanmu yang pertama tanpa pernah merasa menjadi yang kedua. Jangan salah, aku pun benar-benar bahagia menjalani hidup yang begitu, dulu. Sebelum pada akhirnya kau menghancurkan duniaku untuk kesekian kalinya yang tak bisa aku benahi lagi retaknya. Aku benar-benar sudah hancur, sampai aku tak bisa melihat harapan untuk kehidupan yang lebih baik di mataku. Begitu dahsyatnya angin kehancuran yang kau hembuskan padaku, hingga aku merasa hidup tak lagi menarik. Tapi sayang, aku tak tahu bagaimana caranya mengakhiri hidup yang banjir air mata ini.

Hari demi hari, aku lalui dengan sepi. Tak ada canda, tak ada senyuman, bahkan tak ada sapaan. Aku menutup semua pintu masuk orang lain ke duniaku, menguncinya rapat, dan tak menjawab ketukan khawatir mereka. Aku merasa jika aku hancur, haruslah aku hancur sendiri, tak perlu orang lain tahu, tak perlu orang lain ikut seakan hancur. Begitu juga padamu. Aku bilang aku baik-baik saja, bahwa semuanya berjalan sesuai keinginanmu, aku tersenyum di depanmu. Seakan merasa aku mampu membohongi dunia dengan bersikap seolah aku baik-baik saja di depanmu. Ah, nyatanya walaupun aku terluka parah, aku masih bisa bersandiwara untukmu. Ah, tentu saja, kau siapa bagiku? Segalanya, ingat?

Aku tak tahu harus bagaimana lagi caranya untuk mengobati lukaku. Obat merah merek apapun tak sanggup mengeringkan lukaku. Lalu aku memutuskan untuk datang ke dokter jiwa. Mereka memberiku resep untuk bisa berfikir jernih, setidaknya untuk menghalangiku mencoba mengakhiri hidup. Dan, berhasil. Ah, nasibku sekarang, aku merasa tergantung pada obat-obatan penyeimbang emosi ini. Aku merasa tak berdaya digerogoti rasa sedih tiap aku lupa meminum satu dosis sebelum tidur.

Kini, kesekian kalinya aku menceritakan tentang lukaku setiap kali kau bertanya bagaimana aku hari ini, namun aku masih ragu. Aku ragu apakah kau benar bisa mengerti sepenuhnya tentang luka yang aku rasakan. Tentang luka yang tak membuatku berdarah dan menangis kesakitan setelahnya. Tentang luka yang pelan-pelan menghapus senyum dari raut wajahku saat aku mengingatnya. Tentang luka yang  hampir membuatku gila jika aku tak meberanikan diri pergi ke dokter jiwa. Tentang luka yang......ah, yang mungkin tak pernah kau mengerti. Hanya karena kau tak bisa melihat lukanya, hanya karena kau tak pernah merasakan luka yang sama dengan lukaku. Tapi, di dalam hatiku yang terdalam, aku berharap kau tak kan pernah benar mengerti bagaimana rasanyanya lukaku. Karena jika kau mengerti, aku akan menjadi lebih terluka lagi, lebih sakit dari apa yang telah aku rasakan sebelumnya.

 

  • view 358