Menulis Ulang Impian

Laatansa bin Ali Imroni
Karya Laatansa bin Ali Imroni Kategori Filsafat
dipublikasikan 09 Maret 2016
Menulis Ulang Impian

Apa sih impian itu?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), impian adalah sesuatu yang sangat diinginkan.

Oke, mari coba kita perluas lagi. Impian merupakan tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Memiliki banyak kesamaan arti dengan visi, tujuan, cita-cita, ataupun angan-angan namun yang?membedakan adalah 'rasa dalam kata' impian itu sendiri. Impian lebih merujuk pada suatu tujuan yang bersifat utopistik, ideal, angan yang benar-benar indah. Dalam kalimat puitis dapat ditulis, "asa surgawi".

Dalam hidup impian merupakan 'bahan bakar' yang membuat seseorang merasa ingin tetap bertahan hidup. Tentu yang dimaksud?bahan bakar di sini merupakan alasan untuk tetap bernapas dan membuka mata esok hari untuk mengejar utopia masa depan sang subjek. Hampir tidak mungkin?manusia sengaja bertahan?hidup hanya untuk memenuhi fungsi biologis. Makan, tidur, dan berkembang biak.

Penulis?nggak ngajarin bagaimana mencari impian. Itu?sih urusan pribadi sampeyan. Penulis hanya akan menuliskan sudut pandangnya terhadap pola impian manusia. Sekali lagi ini bukan doktrin namun hanya sudut pandang pribadi. Mau bermimpi apapun, itu urusan?sampeyan.

?

?

Berdasarkan pengamatan penulis yang goblog dan sok tahu ini, pola impian yang sering penulis lihat adalah:

Pertama, membangun impian dengan orang yang dicintai.

Rapuh.

Ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai maka kamu akan kehilangan impianmu. Sederhana, karena?orang yang kau sayang dan impian?merupakan paket dalam rancangan masa depanmu. Kalau hilang satu saja unsur dunia utopia rancanganmu,?yaudah, bubar.

Misal, kamu?bermimpi untuk membahagiakan orangtuanya.?Tiba-tiba karena satu dan lain hal orangtuamu dipanggil oleh Sang Khalik sebelum impian utopis, standar bahagia orangtua yang kamu maksudkan sebelumnya urung tercapai.

Atau, kamu mencintai seseorang sangat sangat dalam. Kehidupanmu beririsan dengan kehidupannya. Kamu merancang hidup yang bahagia dengannya, berharap memiliki keturunan darinya, ingin membentuk kehangatan keluarga bersamanya, namun tiba-tiba cintamu kandas sebelum hal indah tadi tercapai.

Sedih? Iya. Pasti. Namun hidupmu ternyata masih berjalan. Dirimu harus tulis ulang impian baru.

?

Kedua,?impian dengan kebahagiaan pribadi sebagai tolok ukur.

Egois.

Impian ini didasarkan pada hal-hal yang membangkitkan dopamin alias hormon kesenangan. Bahasa nggak enaknya,?"pokoknya saya senang".?Biasanya?sih impian ini dapat diukur maupun dirasakan sedikit banyaknya. Entah itu kekayaan, status sosial, kepuasan seks, bahkan sampai pahala/ganjaran amal sholeh. Mengejar kesenangan pribadi ini memang tidak akan mati namun impian yang satu ini hanya akan membuatmu haus, tidak puas, dan merasa kurang. Kamu tidak pernah benar-benar menikmati hasil pencapaian impianmu.

Tau-tau mati.

Okelah?mungkin bisa jadi impianmu banyak pahala. Mengejar pahala?doang Tuhan tidak akan ridho. Percaya deh.

?

Ketiga,?menikmati hidup serta?berbagi kenikmatan dan kebahagiaan hidup dengan sekitar.

Nikmati hari ini, kejar nikmat esok hari, lupakan sakit kemarin. Lihat masa lalu?untuk media belajar agar tidak melakukan kesalahan yang menciptakan keperihan masa lampaumu. Bahagia dan membahagiakan sekitar tanpa memandang siapa baik itu orang yang?kamu cintai atau tidak. Hindari melukai fisik maupun perasaan orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja. Ajak yang sedih untuk ikut tersenyum, ajak yang jatuh untuk ikut berlari, ajak orang-orang untuk berbagi senyum dan tawa ke orang lain juga. Biar kebahagiaan menyebar dengan sendirinya.

Lihat ke depan. Sudah bermanfaatkah diri ini? Bagaimana cara agar esok diri ini lebih bermanfaat bagi orang lain? Apa aku lahir hanya mampir menuh-menuhin dunia?doang??Gimana biar hidup tidak hanya mampir lahir dan berkembang biak? Sederhana kok.

Manusia yang paling mulia adalah manusia yang berguna bagi manusia lain.

Mimpikan dirimu sebagai orang yang paling berguna di dunia bahkan sampai orang lain?nggak bisa senyum?tanpa kamu.?Nggak bisa bahagia kalau belum?ngajak kamu.

Kalo kamu orang beragama, ungkapan?yang tepat sih, "ntar pahalanya ngikut sendiri".

?

Semarang, 9 Maret 2016