Introduction

Laatansa bin Ali Imroni
Karya Laatansa bin Ali Imroni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Maret 2016
Introduction

Siapa Laatansa? Mengapa?menulis?

Saya perkenalkan dulu sang prota-antagonis. Ia bernama lengkap cuma?Laatansa. Lahir di Jakarta pada?18 Juni 1994. Tumbuh besar?di Kudus, kini sedang menimba ilmu di Semarang. Darah Jawa dengan pandangan ke-Indonesiaan. Agama? Ah tak perlu dijelaskan itu ranah pribadinya. Yang pasti ia berTuhan.

Sejujurnya dari dulu Laatansa paling benci menulis. paling benci menuangkan ide dan perasaan ke dalam kata-kata. Mengetukkan tombol huruf demi huruf untuk dirangkai menjadi kalimat, menjadi paragraf, menjadi tulisan.

Ia?belajar untuk menuangkan isi kepala ke dalam bentuk teks dari seseorang dengan proses yang rumit. Ia?"terpaksa" menulis agar isi kepalanya tidak penuh oleh ide dan kegelisahan. Banyak tulisan-tulisan kecil Laatansa?buat dalam bentuk frasa. Tulisannya berakhir percuma karena hanya ia?saja yang dapat mengerti makna dan arti luasnya.

Masa remajanya dihabiskan mempelajari hal-hal "tidak berguna" untuk diaplikasikan ke dalam ulangan harian maupun ulangan semester, yaitu psikologi, sejarah, antropologi, dan sosiologi. Saat SMA Laatansa remaja?"beruntung setengah sial" mendapatkan kesempatan belajar di jurusan IPA padahal dia?sendiri tertarik pada jurusan Bahasa. Akhirnya ia?belajar otodidak dari banyak literatur dan buku yang didapatkan dari teman-teman tua yang sudah kuliah serta memperolehnya dari perpustakaan sekolah.

Kuliah pun Laatansa?lagi-lagi "beruntung setengah sial". Ia?mendaftar Informatika Undip, Sistem Komputer Undip, dan Psikologi Undip namun lagi-lagi hasil seleksi menyuruhnya menimba ilmu di pilihan pertama. Informatika Undip. Walau perkuliahan membahas tentang pemrograman akan tetapi dirinya tak henti membaca bahasan psikologi-sosiologi dan antek-anteknya. Memang, si Laatansa ini terkenal bebal dan idealis.

Kembali ke alasan?menulis tokoh utama yang merangkap antagonis.

Sebuah pukulan telak di hati, kepala, dan pikiran genap setahun lalu membentuk karakter Laatansa yang "terpaksa" menulis. Mimpi kecil yang mungkin terlalu utopistik, sama seperti kebanyakan mahasiswa/i sok galau, yaitu lulus, kerja, lalu berkeluarga dan beranjak tua dengan cinta sejatinya.?Plot twist, sang antagonis Laatansa cintanya kandas, karam, terbakar, terbelah bagai kapal dalam film legendaris Leonardo da Vinci, "Titanic".

Pada awalnya yang ia tulis hanya sajak cengeng. Sajak pengharapan dan penghakiman diri. Sajak permintaan maaf dan penyesalan. Separuh hatinya berharap sang cinta membacanya namun separuhnya lagi berharap tidak.

Dalam setahun, karakter utopis dalam diri sang tokoh berubah perlahan. Ia menulis lebih jauh. Tulisan kepedihan hatinya ia tuang ke Twitter. Tulisan idelistiknya ia tuang ke Facebook. Tulisan galaunya ia tuang ke buku harian. Lucu memang. Galau gelisah gundah cemas ternyata punya kemampuan lebih dibandingkan semangat.

Sebagai peringatan satu tahun penggusuran nilai-nilai karakter Laatansa lama, dimulailah menulis lebih panjang. Opini dan gagasan akan dituangkan sebagai alat perang pemikiran, sebagai sarana perjuangan, sebagai idealisme sang antagonis bernama lengkap Laatansa.

Tetaplah gelisah, Laatansa. Tulisan gelisahmu lebih tajam dari tulisan semangatmu.

?

Semarang, 3 Maret 2016

  • view 159