Belajar Sosial, Belajar Interaksi, Belajar Bersikap

Laatansa bin Ali Imroni
Karya Laatansa bin Ali Imroni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Mei 2016
Belajar Sosial, Belajar Interaksi, Belajar Bersikap

Background

Aku lahir di Jakarta, sekitar 22 tahun yang lalu. Di sana aku menghabiskan masa bermain eksklusifku dengan orangtua, dengan teman kanak-kanak, serta anak-anak kecil di kampungku. Rasanya seakan baru kemarin. Kesan dan karakterku dibangun di lingkungan perkotaan yang sedikit banyak bisa dibilang, "silahkan lakukan apapun, asal tidak menggangguku". Bahasa desanya, cuek. Aku dibangun dengan empati sebatas "kalau tidak mau dibegitukan, jangan melakukan begitu". Biasalah, tipikal orang kota yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Urusan pertetanggaan hanya sebatas kenal, toleran, dan ngobrol kecil.

Nggak perlu sibuk mikirin orang lain. Kalo ada masalah antar personal diutarakan di saat masalah itu ada. Apabila ada orang asing kita asyik saja menunjukkan sikap asli kita dengan catatan kita juga harus siap disikapi seperti itu. Kalo tidak nyaman ya langsung ngomong atau simpel: tinggalin.

Karena satu dan lain hal, saat umurku 7 tahun, orangtua dan aku pindah ke Kudus, sebuah kota kecil di pantai utara Jawa Tengah.

Sebuah tatanan sosial yang benar-benar berbeda. Sungguh beda.

Karakterku sudah terlanjur terbentuk, namun aku harus menyesuaikan dengan empati masyarakat pedesaan. Di sini seakan semua serba terhubung secara batin! Hal-hal seperti pertemananku dengan anak-anak kampungku yang baru benar-benar cukup sulit. Selain kesenjangan bahasa, ada hal-hal lain yang tidak dapat dijelaskan dengan nalar logika. Cara pandang di mana "kalo tidak mau dibegitukan, jangan melakukan begitu" tidak semudah itu diterapkan di sini. Ada sesuatu yang beda. Secara sulit aku mencoba memahami bahwa tidak semua orang bisa diterapkan prinsip seperti itu. Toleransi mereka terhadap masalah sepertinya lain.

Di Kudus, kita harus benar-benar mengenal karakter tiap orang untuk menentukan sikap apa yang seyogyanya kita suguhkan ke orang tersebut. Maka dari itu, di antara orang-orang yang belum begitu kenal, akan ada rasa saling segan dan mencoba untuk tidak melakukan hal yang biasa kita lakukan. Takutnya menyinggung. Kadang juga masyarakat di lingkungan yang baruku ini, cenderung menyimpan sentimen tanpa mau mengutarakan langsung. Biasanya sih sentimennya kita denger bukan dari dia langsung.

Okelah. Kalo kata pepatah Jawa, desa mawa cara negara mawa tata. Artinya kurang lebih setiap lingkungan punya caranya sendiri-sendiri.

Refleksi Diri

Sekarang, aku menimba ilmu di Universitas Diponegoro, Semarang. Di sini banyak mahasiswa dari luar daerah, baik perkotaan maupun luar pulau yang mungkin sama desanya dengan Kudus. Aku mencoba memahami pola sosial orang-orang dari tiap lingkungan asalnya dan berusaha menyesuaikan sikapku dengan karakter mereka. Aku seringkali terlalu segan untuk ukuran masyarakat kota, dan terlalu lancang untuk ukuran orang kampung. Untuk saat ini kupikir cukuplah mereka tahu bahwa aku berusaha menghargai tiap-tiap orang dan berusaha baik ke semua orang, tidak peduli latar belakangku maupun latar belakang mereka.

Kadang aku merasa gagal belajar bersosial. Bahkan di umurku yang nyaris genap 22 tahun ini, aku masih berusaha belajar memahami namun juga belum paham-paham. Ya begitulah, kodratnya manusia, lahir sampai mati, isinya adalah belajar, belajar, dan belajar. Namun aku yakin, aku bisa.

Semarang, 24 Mei 2016

  • view 115