Kemalasan dan Inovasi

Laatansa bin Ali Imroni
Karya Laatansa bin Ali Imroni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Maret 2016
Kemalasan dan Inovasi

Pada Selasa, 22 Maret 2016 kemarin kita dihebohkan dengan unjuk rasa sopir taksi konvensional yang memprotes keberadaan layanan transportas online (ojek maupun taksi). Sebenarnya kenapa?sih? Kok bisa sampai segitu ricuhnya?

?

Kita coba?traceback ke beberapa masa sebelum ini, jauh sebelum Indonesia belum ada.

?

Pada abad ke-18 hingga ke-19 terjadi perubahan besar-besaran dalam dunia industri. Ya, benar, masa ini disebut revolusi industri. Revolusi industri ditandai dengan perubahan masyarakat agraris ke masyarakat urban dengan ditemukannya berbagai mesin yang mampu melakukan pekerjaan lebih cepat dan lebih massal dibanding tenaga manusia (sumber).

Seiring dengan revolusi industri terjadi perubahan kebutuhan tenaga kerja yang sebelumnya dituntut untuk bisa?membuat komoditas?menjadi?bisa mengatur dan memelihara mesin yang membuat komoditas. Hal ini membuat masyarakat yang tidak memiliki kompetensi dalam hal yang berhubungan dengan mesin menjadi kehilangan mata pencaharian.

?

Kenapa terjadi revolusi industri?

Pada awalnya karena para pencipta mesin-mesin industri tadi?malas membuat komoditas sendiri. Lalu disusul penggunaan mesin-mesin pada pabrik?karena para pemilik modal?malas menggaji karyawan pembuat komoditas.

?

Apa kata kunci yang didapat di sini?

Malas.

Ketika seseorang atau bahkan sekelompok manusia?malas melakukan hal yang sebenarnya tidak rumit, mereka akan menciptakan ataupun menuntut sesuatu yang dinamakan?inovasi.?Kerajinan inovator tidak digunakan untuk hal remeh namun untuk membuat hal-hal baru yang bisa saja terdengar gila di saat itu. Mereka hanya malas melakukan hal sederhana, bukan malas berinovasi.

Oke, jadi di sini kita bisa lihat hubungan antara kemalasan dan inovasi.

?

Apa?sih yang membuat aplikasi transportasi online menjadi populer?

Masyarakat?malas melakukan hal sederhana seperti menunggu dan/atau memanggil armada transportasi. Mereka menuntut cara di mana cukup tangan yang bekerja dan armada yang menghampiri, bahkan tanpa perlu ke luar ruangan kalau perlu. Cukup menunggu di dalam dan dipanggil ke luar layaknya seorang kekasih yang dijemput. Masyarakat ini manja dan selalu minta cara yang instan layaknya mie.

Di sinilah para pemilik modal dan pemilik ide menawarkan solusinya. Sembari berinovasi mereka secara tidak langsung juga menggusur moda transportasi konvensional. Sebenarnya di sini yang kalah adalah pemilik modal dari armada transportasi konvensional.

Di saat armada transportasi konvensional ini kalah saing, efeknya berimbas ke karyawan dan bawahan-bawahan yang mengandalkan?sumber pencaharian dari pendapatan perusahaan. Tidak heran mereka marah. Frustrasi. Mereka juga secara tidak langsung kalah saing, sama seperti golongan masyarakat?pembuat komoditas pada masa revolusi industri. Mereka hanya bisa tersingkir tanpa bisa berontak. Semakin mereka berontak semakin golongan masyarakat malas tadi menjauhi transportasi konvensional.

?

Sejauh manakah inovasi dan kemalasan ini berimbas pada kehidupan masyarakat?

Bisa jadi setelah ini akan ada inovasi yang lebih gila.?Bisa jadi?di masa depan profesi sopir akan tersingkir. Bisa jadi?akan ditemukan sopir taksi robot atau pintu ke mana saja. Siapa yang tahu?

Yang pasti selama manusia dan kemalasannya masih ada, selama itu pula inovasi akan terus bergerak dan menyingkirkan kompetensi yang tidak dibutuhkan dalam revolusinya.

?

Akhir kata, wahai armada transportasi konvensional, mungkin inilah yang dinamakan revolusi transportasi.

?

Semarang, 23 Maret 2016

  • view 210